Harga saham INDS melonjak hampir 1.170%, ada apa dengan Indospring?

Kinerja saham PT Indospring Tbk (INDS), emiten terkemuka di sektor suku cadang kendaraan bermotor, baru-baru ini mencuri perhatian dengan lonjakan signifikan, bahkan mencapai hampir 1.170% dalam tiga bulan terakhir. Pada penutupan perdagangan hari itu, Kamis (19/2), harga saham INDS tercatat naik 3,99% mencapai Rp 2.870, membawa kapitalisasi pasarnya menembus angka Rp 18,83 triliun yang impresif.

Advertisements

Volume transaksi saham INDS mencapai 240 juta unit, dengan nilai transaksi sebesar Rp 718,3 miliar dan frekuensi perdagangan sebanyak 119.740 kali. Performa jangka pendeknya pun tak kalah memukau; dalam sebulan terakhir, harga saham INDS telah melesat 417,12%, dan secara kumulatif dalam tiga bulan terakhir, peningkatannya mencapai 1.169,91%.

Di balik gemilangnya performa saham tersebut, PT Indospring Tbk juga tengah gencar memperkuat fondasi bisnisnya. Perseroan baru-baru ini mengumumkan bahwa lini bisnis fastener (U-Bolt) yang akan resmi diproduksi secara komersial sejak tahun 2025, diproyeksikan menjadi pilar pertumbuhan utama dalam beberapa tahun mendatang. Inisiatif strategis ini merupakan bagian integral dari upaya diversifikasi pasar dan ekspansi global yang dicanangkan INDS.

Menjelaskan lebih lanjut strategi ini, Direktur Indospring, Bob Budiono, mengungkapkan bahwa pada tahun ini, perseroan berambisi untuk menembus pasar ekspor di kawasan Timur Tengah, khususnya Uni Emirat Arab (UEA), Uzbekistan, hingga ke pasar Amerika Serikat. Bob menjelaskan bahwa pilihan pasar-pasar tersebut didasari oleh kesamaan spesifikasi kendaraan dengan Indonesia, terutama dominasi truk merek Jepang yang menggunakan model dan standar teknis serupa.

Advertisements

“Ini sejalan dengan strategi INDS dalam memperluas basis pendapatan dan mengurangi ketergantungan pada pasar domestik,” tambah Bob dalam keterangannya pada Kamis (19/2).

Lebih jauh, Bob menyatakan bahwa pada tahap awal, INDS akan fokus pada pemasaran produk fastener untuk segmen aftermarket otomotif. Tidak berhenti di situ, perseroan juga tengah mempersiapkan peluang investasi lanjutan untuk mengembangkan segmen fastener non-otomotif, sebagai langkah diversifikasi usaha yang lebih luas. Opsi ekspansi ke segmen non-otomotif ini, ditegaskan Bob, merupakan strategi krusial untuk memperluas cakupan sumber pendapatan dan memitigasi risiko bisnis di masa depan.

Ambisi Indospring tak main-main: “Targetnya, Indospring bisa masuk tiga besar pemain fastener di pasar domestik dan menjadikan lini ini sebagai motor pertumbuhan jangka panjang,” tegas Bob.

Sebagai informasi, pabrik fastener milik Indospring kini telah beroperasi secara penuh, memperkaya portofolio bisnis perseroan yang sebelumnya telah kokoh dengan dominasi produk pegas daun, pegas keong, serta komponen sistem pengereman. Dengan kapasitas produksi yang telah stabil, Bob menambahkan, perusahaan kini berfokus pada penguatan penetrasi pasar ekspor. Melalui ekspansi yang masif ini, perseroan sangat optimistis bahwa lini fastener akan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kinerja keuangan Indospring dalam jangka menengah hingga panjang.

Proyeksi positif ini juga didukung oleh data kinerja keuangan. Hingga kuartal ketiga tahun 2025, INDS telah membukukan penjualan sebesar Rp 2,46 triliun, menunjukkan potensi yang kuat untuk pertumbuhan berkelanjutan.

Di samping strategi internal, PT Indospring Tbk (INDS) juga aktif mencermati prospek cerah industri otomotif nasional. Berdasarkan data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), proyeksi penjualan mobil pada tahun 2026 diperkirakan mencapai 850.000 unit, sebuah peningkatan sekitar 5,4% dibandingkan realisasi tahun 2025 yang mencapai 803.687 unit. Peningkatan volume penjualan ini diharapkan akan secara signifikan mendorong permintaan komponen kendaraan, sebuah sinyal positif bagi bisnis inti INDS.

Advertisements