Dijerat PKPU antrian jual saham HILL tembus 3,4 juta lot, kini parkir gocap

Saham kontraktor tambang PT Hillcon Tbk (HILL) menjadi perhatian di pasar modal lantaran harganya yang bergerak tak biasa. Harga sahamnya kini merana dan terjun ke dasar “gocap” atau Rp 50.

Advertisements

Pada perdagangan saham pagi ini Senin (23/2) pukul 10.01 WIB, antrian jual saham HILL sudah mencapai 3,47 juta lot saham. Saham HILL anjlok hingga auto reject bawah (ARB) 13,79% ke Rp 50. 

Merujuk data BEI, volume yang diperdagangkan tercatat 613,90 juta dengan nilai transaksi Rp 31,61 miliar. Sementara kapitalisasi pasarnya kini sebesar Rp 737,08 miliar.

Dalam sebulan terakhir, saham HILL anjlok 67,74%, merosot 46,24% dalam seminggu, dan terjun 75,73% dalam enam bulan terakhir. Padahal, jika melihat sahamnya pada awal tahun lalu, HILL sempat bertengger di Rp 468 pada 3 Januari 2025. 

Advertisements

Anjloknya saham HILL salah satunya karena anak usaha PT Hillcon Tbk (HILL), PT Hillconjaya Sakti terjerat Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Hillconjaya Sakti menerima panggilan sidang pertama dari Pengadilan Negeri Jakarta Pusat terkait perkara Permohonan PKPU Nomor 26/Pdt.Sus-PKPU/2026/PN.Jkt.Pst.

Permohonan PKPU tersebut diajukan oleh PT Tri Nusantara Petromine. Adapun PT Tri Nusantara Petromine adalah supplier bahan bakar (solar) untuk kegiatan operasional PT Hillconjaya Sakti.

Direktur Utama Hillcon, Hersan Qiu, menyatakan kewajiban utang PT Hillconjaya Sakti kepada PT Tri Nusantara Petromine mencapai Rp 46,01 miliar. Perusahaan juga telah menunjuk FKNK sebagai kuasa hukum.

Manajemen menjelaskan gugatan diterima akibat terlambatnya pembayaran atas tagihan yang sebelumnya telah direstrukturisasi.

“PKPU Hillconjaya Sakti tidak berdampak material karena hanya sebesar 1,73% terhadap pendapatan perseroan per 30 September 2025,” demikian tertulis dalam keterbukaan informasi BEI, Senin (23/2). 

Hersan juga menyebut berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2025, kontribusi pendapatan PT Hillconjaya Sakti terhadap pendapatan HILL mencapai Rp 2,79 triliun atau sekitar 99,86% dari total pendapatan.

RKAB PT Weda Bay Nickel (WBN) Dipangkas 71,43%  

Kabar lain yang turut berdampak ke saham HILL adalah sikap pemerintah yang belum lama ini memangkas produksi rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) PT Weda Bay Nickel (WBN) hingga 71,43% menjadi hanya 12 juta ton tahun ini. Padahal sebelumnya produksi WBN dalam RKAB tahun lalu mencapai 42 juta ton.  Hillcon (HILL) adalah kontraktor pertambangan Weda Bay Nickel.  

Pada 1 September 2021, anak usaha HILL yakni PT Hillconjaya Sakti (HS) menandatangani kontrak dengan PT Weda Bay Nickel (WBN) untuk pekerjaan penambangan nikel selama empat tahun. Pekerjaan mencakup land clearing hingga ore hauling dan barging di area konsesi WBN.

Berdasarkan addendum tertanggal 1 April 2024, masa kerja sama tersebut diperpanjang selama empat tahun. Adapun Weda Bay merupakan tambang nikel yang berlokasi di Pulau Halmahera, Provinsi Maluku Utara. 

Tambang ini dimiliki oleh Tsingshan Holding Group Co, Eramet SA Prancis, dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Bila menilik laporan keuangannya, Weda Bay Nickel berkontribusi ke pendapatan HILL dengan nilai mencapai Rp 387,68 miliar sepanjang Januari 2025–September 2025.  

Sebelumnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyita 148,25 hektare lahan tambang milik PT Weda Bay Nickel, karena lahan tersebut beroperasi tanpa izin pinjam pakai kawasan hutan (IPPKH). 

Direktur Jenderal Penegakan Hukum (Dirjen Gakkum) Kementerian ESDM Rilke Jeffry Huwae menyebut penertiban perusahaan nikel itu menjadi bukti konsistensi pemerintah dalam menjaga tata kelola energi dan sumber daya mineral.

 “Mereka punya izin tambang, tapi mereka tidak memiliki Izin Pinjam Pakai Hutan,” kata Jeffri dalam keterangan resmi pada 2025 lalu. 

Di samping itu pengendali juga menjual saham HILL. Pada 19 Februari 2026, Hillcon Equity Management melepas 93.699.800 saham, sehingga kepemilikannya turun dari 6.198.818.500 saham (42,05%) menjadi 6.105.118.700 saham (41,41%).

Pada hari yang sama, Trimegah Sekuritas Indonesia juga menjual 11.504.800 saham sehingga kepemilikannya menjadi 1.378.495.200 saham (9,35%).

Sementara itu pada 18 Februari 2026, CGS International Sekuritas Indonesia melakukan transaksi crossing sebanyak 133.965.800 saham di harga Rp 80 per saham. Setelah transaksi tersebut, kepemilikan turun dari 3.134.339.500 saham (21,26%) menjadi 3.000.373.700 saham (20,35%).

Advertisements