Entitas usaha Grup Emtek, PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), melalui anak perusahaannya PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA), sukses mencatatkan kinerja gemilang sepanjang Januari 2026. Bank digital ini menunjukkan pertumbuhan yang impresif di berbagai lini, menegaskan posisinya di tengah persaingan industri perbankan.
Merujuk laporan keuangan terbaru, Superbank berhasil membukukan total penyaluran kredit mencapai Rp 10,05 triliun, melonjak 56% secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini menunjukkan ekspansi penyaluran pinjaman yang signifikan dan respons positif dari pasar. Tak hanya itu, dana simpanan (deposit) juga mengalami lonjakan dramatis sebesar 123% yoy, mencapai Rp 12,55 triliun. Kenaikan ini mencerminkan tingkat kepercayaan nasabah yang kian meningkat terhadap Superbank.
Kinerja profitabilitas juga tidak kalah mengagumkan. Pendapatan bunga bersih atau Net Interest Income (NII) Superbank mencapai Rp 179,68 miliar, meroket 105% yoy. Manajemen Superbank melaporkan bahwa profitabilitas sebelum pajak (PBT) meningkat sekitar 50% dibandingkan November 2025, sebuah indikasi kuat bahwa perseroan berada di jalur yang berkelanjutan seiring dengan ekspansi operasionalnya yang masif.
Lebih lanjut, total pinjaman atau kredit yang disalurkan Superbank telah melampaui Rp 10 triliun. Pencapaian ini salah satunya ditopang oleh kesuksesan produk pinjaman digital inovatif mereka, “Pinjaman Atur Sendiri.” Manajemen Superbank pada Senin (23/2) menyatakan, “Dibandingkan dengan tahun lalu, volume pencairan bulanan SUPA telah melonjak sebesar 400%,” menandakan percepatan pertumbuhan yang luar biasa.
Performa keuangan Superbank semakin diperkuat dengan pre-provision operating profit (PPOP) yang tercatat Rp 75 miliar, melesat 1.631% yoy. Adapun laba perseroan pada Januari 2026 mencapai sekitar Rp 31,84 miliar. Rasio biaya terhadap pendapatan atau Cost to Income Ratio (CIR) berada di level yang efisien, yakni 61%, sementara kualitas aset tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) sebesar 2,3%.
Pertumbuhan kredit SUPA juga tak lepas dari integrasi strategisnya dengan ekosistem Grab Holdings Limited. Superbank baru-baru ini meluncurkan fitur onboarding pinjaman yang memungkinkan seluruh proses persetujuan kredit dilakukan langsung di dalam aplikasi Grab, mempermudah pengguna tanpa perlu berpindah aplikasi. Di sisi lain, perseroan terus meningkatkan efisiensi operasional, berhasil menurunkan rasio biaya terhadap pendapatan (CIR) ke level sekitar 60%.
Meskipun agresif dalam ekspansi, manajemen Superbank tetap menjaga disiplin ketat dalam pengelolaan risiko. Biaya kredit tercatat masih berada dalam kisaran 4–5%, sesuai ekspektasi perusahaan, dengan rasio kredit bermasalah (NPL) gross yang terjaga di level 2,3%. Performa bisnis harian perseroan pun terus meningkat, dan aksi penawaran umum perdana saham (IPO) dinilai telah mengangkat profil Superbank secara signifikan. Hasilnya, basis pelanggan terus bertambah hingga mencapai sekitar 6,2 juta nasabah, dengan total pendanaan di neraca mencapai Rp 12,6 triliun, sebuah bukti kepercayaan publik yang solid.
Profil dan Kinerja SUPA
Bank digital ini secara resmi mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu, 17 Desember 2025. Superbank menetapkan harga pelaksanaan IPO di Rp 635 per lembar saham, dengan melepas maksimal 4,40 miliar saham baru atau setara 13% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Dari gelaran ini, perusahaan berhasil mengantongi dana segar sebesar Rp 2,79 triliun.
Keyakinan terhadap potensi Superbank juga tercermin dari aktivitas pemegang saham. A5-DB Holdings, salah satu pemegang saham asing SUPA, terus meningkatkan porsi kepemilikannya. Pada 18 Februari 2026, A5-DB Holdings memborong sekitar 79 juta saham, sehingga kepemilikannya meningkat dari 4.643.642.495 saham (13,6993%) menjadi 4.722.642.495 saham (13,9323%).
Tak hanya itu, Elang Media Visitama selaku pengendali SUPA juga aktif melakukan pembelian saham. Pada 24 Desember 2025, perseroan membeli 50.000.000 saham di harga Rp 1.050 per saham, meningkatkan kepemilikan dari 9.175.800.159 saham (27,3%) menjadi 9.225.800.159 saham (27,49%). Kemudian, pada 29 Desember 2025, Elang Media Visitama kembali membeli 100.000.000 saham di harga Rp 895, menjadikan kepemilikannya naik dari 9.225.800.159 saham (27,49%) menjadi 9.325.800.159 saham (27,79%). Gelombang pembelian berlanjut pada 30 Desember 2025, di mana pengendali SUPA menambah lagi 28.317.400 saham di harga Rp 910, sehingga kepemilikannya naik dari 9.325.800.159 saham (27,51%) menjadi 9.354.117.559 saham (27,6%). Akumulasi kepemilikan oleh pemegang saham pengendali ini menunjukkan optimisme yang kuat terhadap prospek masa depan Superbank.