Prospek Saham Bank Jumbo, Masih Perkasa di Tahun Kuda Api?
Kinerja saham bank-bank papan atas di Indonesia menunjukkan ketangguhan yang luar biasa, bahkan di tengah hantaman sentimen negatif beruntun. Pasar saham domestik sempat bergejolak setelah pengelola indeks global MSCI Inc. menangguhkan rebalancing saham Indonesia, disusul dengan langkah Moody’s Ratings yang menurunkan outlook lima bank besar nasional dari stabil menjadi negatif. Kelima bank tersebut adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), serta PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN).
Meskipun terjadi penurunan outlook, lembaga pemeringkat Moody’s tetap mempertahankan peringkat kredit masing-masing bank. Situasi ini mengindikasikan bahwa fundamental bank-bank tersebut masih solid, menegaskan ketahanan saham bank jumbo di tengah gejolak pasar. Para analis pun tetap optimistis akan prospek saham perbankan di Tanah Air.
Head of Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai prospek saham perbankan masih sangat menarik dalam satu bulan ke depan. Ia mematok target harga saham untuk BBCA di kisaran Rp 7.450 – Rp 7.750, BBRI di Rp 3.940 – Rp 4.010, BBNI di Rp 5.375 – Rp 5.475, dan BBTN di Rp 1.415 – Rp 1.450. Proyeksi ini mencerminkan kepercayaan terhadap stabilitas dan potensi pertumbuhan kinerja perbankan ke depan.
Dalam horizon jangka panjang, Mirae Asset Sekuritas menempatkan sektor perbankan sebagai salah satu sektor paling potensial hingga tahun 2026. Berdasarkan riset terbaru yang diterbitkan oleh broker tersebut, kredit perbankan diproyeksikan akan tumbuh hingga sekitar 11% pada 2026. Pertumbuhan yang kuat ini diyakini akan didukung oleh potensi penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI) sekitar 50 basis poin sepanjang tahun 2026, seperti yang dikutip pada Selasa (24/2).
Baca juga:
- Racikan BEI Bersih-Bersih Pasar Modal: Free Float Naik hingga Pembentukan Satgas
- Danantara Teken Kerja Sama Rekayasa Semikonduktor dengan Perusahaan Inggris
- Wall Street Rontok ke Zona Merah Tertekan Sentimen Disrupsi AI dan Tarif Trump
Meskipun memiliki prospek jangka panjang yang cerah, kinerja saham kelima bank tersebut menunjukkan dinamika yang cukup mencolok dalam periode satu bulan terakhir hingga perdagangan Senin (23/2/2026). Saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) berhasil mencatatkan penguatan tertinggi sebesar 12,20%, diikuti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang naik 5,92%, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar 2,36%. Namun, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terkoreksi paling dalam, yakni 4,58%, disusul PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang turun 1,96%. Secara tahunan (Year-on-Year/YoY), BBTN juga memimpin dengan kenaikan fantastis 47,59%, sementara BBCA justru mengalami penurunan signifikan 18,89%.
Dari sisi fundamental, data kinerja keuangan tahun 2025 memberikan gambaran yang beragam. BBCA membukukan laba bersih Rp 57,5 triliun, tumbuh 4,9% secara tahunan, dengan penyaluran kredit mencapai Rp 993 triliun. Bank Mandiri (BMRI) mencatat laba Rp 56,3 triliun dan penyaluran kredit tertinggi di antara bank-bank tersebut, mencapai Rp 1.895 triliun. Sementara itu, BBNI meraih laba Rp 20 triliun, meskipun sedikit turun 6,6%, dengan penyaluran kredit Rp 899 triliun. BBTN menunjukkan pertumbuhan laba yang impresif, meraih Rp 3,5 triliun atau naik 16,4%, serta penyaluran kredit sebesar Rp 400,57 triliun. Patut dicatat, hingga berita ini diterbitkan, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) masih belum melaporkan kinerja keuangan tahun 2025-nya.
Untuk gambaran lebih detail mengenai kinerja saham dan fundamental perbankan per Senin, 23 Februari 2026, berikut rinciannya:
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA): Harga saham Rp 7.300. Terkoreksi 4,58% dalam satu bulan dan 18,89% secara YoY. Laba 2025 mencapai Rp 57,5 triliun (naik 4,9%), dengan penyaluran kredit Rp 993 triliun.
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI): Harga saham Rp 3.900. Naik 2,36% dalam satu bulan dan 0,26% secara YoY. Laporan laba dan penyaluran kredit 2025 belum tersedia.
- PT Bank Mandiri Tbk (BMRI): Harga saham Rp 5.275. Naik 5,92% dalam satu bulan dan 3,94% secara YoY. Laba 2025 sebesar Rp 56,3 triliun (naik 1%), dengan penyaluran kredit Rp 1.895 triliun.
- PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI): Harga saham Rp 4.500. Terkoreksi 1,96% dalam satu bulan namun naik 4,65% secara YoY. Laba 2025 sebesar Rp 20 triliun (turun 6,6%), dengan penyaluran kredit Rp 899 triliun.
- PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN): Harga saham Rp 1.380. Melonjak 12,20% dalam satu bulan dan 47,59% secara YoY. Laba 2025 sebesar Rp 3,5 triliun (naik 16,4%), dengan penyaluran kredit Rp 400,57 triliun.
Melanjutkan pandangan Mirae Asset Sekuritas, Senior Market Analyst Nafan Aji Gusta Utama memberikan proyeksi dan katalis spesifik untuk masing-masing saham bank jumbo di Indonesia.
Untuk saham BCA (BBCA), Nafan memproyeksikan target harga tertinggi hingga ke level Rp 9.750. Menurutnya, likuiditas dan dana murah (CASA) yang kuat, serta rasio kredit bermasalah (NPL) yang selalu berada di bawah rata-rata industri, menjadi penopang utama kinerja BCA. Selain itu, strategi ekspansi CASA non-ritel, peningkatan pendapatan berbasis komisi, serta investasi teknologi dinilai mampu menjaga profitabilitas. “BBCA tetap dianggap sebagai salah satu bank besar paling stabil di Indonesia. Untuk investor jangka panjang yang mencari kombinasi stabilitas dan imbal hasil dividen, BBCA tetap menarik,” ujar Nafan.
Sementara itu, saham BRI (BBRI) diproyeksikan dapat mencapai target harga tertinggi Rp 4.770 tahun ini. Pendorong utamanya adalah basis nasabah UMKM yang besar, integrasi ekosistem ultra mikro bersama Pegadaian dan Permodalan Nasional Madani, serta struktur pendanaan yang solid. Dividend yield yang berada di kisaran 5,5% juga menjadi daya tarik yang signifikan bagi investor yang memburu imbal hasil dari saham BBRI.
Selanjutnya, Nafan menetapkan target harga saham BNI (BBNI) di level Rp 5.600. Katalis positif BNI terletak pada likuiditas dan struktur pendanaan yang sehat, sehingga mampu memberikan ruang bagi ekspansi kredit dengan biaya dana yang terjaga. “Valuasi relatif menarik dibanding bank besar lain. PBV BBNI yang berada di 0,98x termasuk rendah dibanding banyak bank besar lain, menunjukkan ruang apresiasi harga saham BBNI jika kondisi membaik,” kata Nafan, menyoroti potensi kenaikan valuasi.
Untuk saham BTN (BBTN), Nafan menetapkan target harga hingga Rp 1.555. Menurutnya, kinerja laba BBTN yang tumbuh tinggi, ditopang peningkatan pendapatan bunga bersih dan ekspansi kredit, menjadi faktor utama. Selain itu, peran strategis BBTN sebagai penyalur utama Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi melalui skema FLPP memperkuat fundamental bisnis inti. Transformasi melalui aksi spin off Unit Usaha Syariah (UUS) juga dinilai membuka peluang pertumbuhan baru. Dari sisi valuasi, rasio PER sekitar 5,9 kali dan PBV 0,55 kali menempatkan saham BTN dalam kategori undervalued, menawarkan potensi investasi yang menarik.
Terakhir, harga saham Bank Mandiri (BMRI) dipatok ke level tertinggi Rp 6.200. Nafan menjelaskan, keberhasilan aplikasi super Livin’ by Mandiri mendorong pertumbuhan fee based income sekaligus meningkatkan efisiensi, tercermin dari penurunan cost to income ratio (CIR). Selain itu, konsolidasi aset negara melalui Danantara diperkirakan meningkatkan kebutuhan layanan perbankan korporasi, seperti sindikasi kredit dan manajemen kas, yang menjadi keunggulan utama BMRI. Prospek pembiayaan dari proyek infrastruktur, hilirisasi industri, hingga transisi energi juga dinilai membuka peluang pertumbuhan kredit korporasi. Dengan dividend yield sekitar 9,19%, saham Bank Mandiri ini tetap menarik bagi investor yang membidik total return.