JAKARTA — Bank Indonesia (BI) secara resmi meluncurkan Buku Kajian Stabilitas Keuangan (KSK) Nomor 46 pada Jumat (27/2/2026). Publikasi ini menyajikan tinjauan komprehensif mengenai kondisi perekonomian Indonesia di tengah dinamika dan ketidakpastian ekonomi global yang terus bergejolak.
Menurut Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, peluncuran KSK ini menjadi “angin segar” di tengah situasi perekonomian yang penuh tantangan. Ia menekankan bahwa buku ini tidak hanya memuat data faktual, tetapi juga mendorong realism dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi yang diproyeksikan ke depan. BI sendiri telah secara rutin memublikasikan Buku KSK sejak tahun 2004, dan edisi ke-46 ini merupakan kelanjutan dari komitmen untuk meningkatkan transparansi dan pemahaman publik.
“Tujuan utama peluncuran Buku KSK ini adalah untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai potret dan wawasan mendalam kondisi sistem keuangan Indonesia, serta tentunya ekonomi kita secara keseluruhan,” ujar Destry dalam acara Peluncuran Buku KSK. Dengan demikian, masyarakat diharapkan mendapatkan gambaran terbaru yang akurat mengenai posisi ekonomi nasional di tengah lanskap global yang tidak menentu.
Destry menjelaskan, gejolak ekonomi global dan tensi geopolitik yang berkelanjutan telah menciptakan ketidakpastian kebijakan global, yang secara langsung akan memengaruhi pergerakan ekonomi Indonesia. Untuk menghadapi tantangan kompleks ini, sinergi menjadi kunci utama. “Alhamdulillah, berkat berbagai kebijakan yang diterapkan, serta sinergi erat antara kementerian, lembaga, regulator, dan seluruh pelaku usaha, kita berhasil melalui guncangan atau fluktuasi yang terjadi,” paparnya.
Kondisi sinergi ini terbukti membuahkan hasil positif, terlihat dari pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2025 yang mencapai 5,11 persen. Bahkan, pada kuartal IV tahun yang sama, pertumbuhan ekonomi mampu menyentuh angka 5,39 persen. Capaian impresif ini memberikan gambaran dan arah yang jelas bahwa Indonesia memiliki potensi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi di masa mendatang.
Sebagai regulator moneter, Bank Indonesia terus mengupayakan berbagai langkah strategis untuk mendorong perekonomian yang lebih kuat. Salah satu instrumen utama yang dioptimalkan adalah kebijakan makroprudensial. Destry menyebut, “Bank Indonesia tidak hanya memiliki kebijakan moneter atau kebijakan sistem pembayaran, tetapi juga kebijakan makroprudensial yang belakangan ini sangat aktif digunakan secara optimal dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi.”
Selain kebijakan makroprudensial, BI juga melaksanakan kebijakan penunjang lainnya seperti pendalaman pasar keuangan, serta inisiatif inklusi keuangan dan kebijakan hijau (green policies). Destry menekankan bahwa tugas BI mencakup dua aspek fundamental: pro-stability dan pro-growth. “Kita bekerja bersama-sama, beriringan, dan searah untuk mempertahankan bukan hanya stabilitas ekonomi dan keuangan, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi. Sehingga, jika kita lihat, ketahanan sistem keuangan kita secara umum dan industri cukup sehat,” pungkasnya, menunjukkan optimisme terhadap fondasi ekonomi Indonesia yang tangguh.
Pejalan kaki melintas di dekat logo Bank Indonesia (BI). – (Republika/Prayogi)