
Harga emas global dibuka melonjak signifikan, sekitar 2%, mencapai US$5.367 per ons troi pada perdagangan Senin (2/3). Kenaikan drastis ini merupakan respons langsung dari pasar global terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah, menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang kemudian dibalas dengan rentetan serangan balasan dari pihak Iran ke beberapa titik strategis.
Gelombang serangan yang saling berbalas antara AS, Israel, dan Iran telah memicu lonjakan ketidakpastian di pasar global. Dalam situasi tegang ini, para investor semakin intens mengamati dan mengarahkan dana mereka menuju aset safe-haven yang terbukti tangguh, dengan emas menjadi pilihan utama untuk melindungi nilai investasi mereka.
Dampak dari ketidakpastian global ini juga tercermin pada harga emas di dalam negeri yang turut terpantau mengalami kenaikan. Berdasarkan data dari laman resmi Sahabat Pegadaian pada Minggu (1/3), harga emas batangan UBS tercatat Rp 3.123.000 per gram, sementara emas Galeri24 dibanderol Rp 3.092.000 per gram.
Menyikapi fenomena ini, Edward Meir, seorang analis dari Marex, memprediksi bahwa harga emas berpotensi menanjak hingga US$200 per ons troi. Namun, Meir juga memberikan catatan penting bahwa kenaikan ini kemungkinan akan bersifat terbatas dan cenderung mereda menjelang penutupan perdagangan. “Pasar agak acuh tak acuh dalam hal konflik militer; satu-satunya hal yang pada akhirnya difokuskan investor adalah apakah aliran minyak akan terganggu sehingga setelah lonjakan awal berakhir, reli awal cenderung memudar,” jelas Edward, seperti dikutip pada Senin (2/3), menyoroti bahwa fokus utama investor adalah stabilitas pasokan minyak.
Senada dengan sentimen pasar, trader logam mulia, Hugo Pascal, mengamati bahwa dengan tutupnya bursa tradisional di beberapa negara, emas digital kini diperdagangkan dengan harga premium. Fenomena ini, menurut Pascal, menjadi indikasi kuat dari aksi investor yang secara agresif memilih instrumen investasi safe-haven untuk mengamankan portofolio mereka.
Ketika pasar global dibuka penuh pada hari Senin, emas diproyeksikan akan semakin diminati melebihi kondisi normal. Mengingat risiko yang terus membayangi, seperti potensi lamanya konflik, kemungkinan negara-negara lain terseret dalam pusaran ketegangan, serta kekhawatiran terhadap inflasi yang terus meningkat, emas diperkirakan akan semakin memperkuat perannya sebagai aset safe-haven pilihan para investor.