Pertamina pantau keamanan kapal di Timur Tengah, ada yang berlabuh di Ras Tanura

PT Pertamina International Shipping (PIS) terus mengerahkan kewaspadaan penuh, memantau ketat empat armada krusialnya yang beroperasi di Timur Tengah. Langkah ini diambil menyusul eskalasi konflik yang memanas di kawasan tersebut, melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS).

Advertisements

Untuk memastikan keamanan operasional dan keselamatan kru, Pjs Corporate Secretary PIS, Vega Pita, menegaskan bahwa perusahaan secara proaktif berkoordinasi intensif dengan pihak pengelola kapal (Ship Management) dan otoritas maritim setempat untuk meningkatkan kewaspadaan. PIS juga secara berkelanjutan menjalin komunikasi dengan Kementerian Luar Negeri, KBRI Abu Dhabi, dan KJRI Dubai, mematuhi setiap himbauan dan arahan yang dikeluarkan.

Empat kapal vital Pertamina yang berada di wilayah strategis tersebut antara lain: Kapal Gamsunoro yang tengah menjalani proses pemuatan di Khor al Zubair, Irak; Kapal Pertamina Pride yang baru saja menyelesaikan pemuatan dan kini berlabuh di Ras Tanura, Arab Saudi; Kapal PIS Rinjani yang sedang berlabuh di Khor Fakkan, Uni Emirat Arab; serta Kapal PIS Paragon yang berada di Oman untuk proses pembongkaran muatan. Lokasi berlabuhnya Kapal Pertamina Pride di Ras Tanura menjadi sorotan khusus, mengingat area tersebut merupakan rumah bagi kilang minyak terbesar milik Saudi Aramco. Kilang dengan kapasitas 550 ribu barel per hari (bph) itu dilaporkan telah ditutup sementara menyusul serangan drone yang diyakini terkait dengan konflik Iran, Israel, dan AS, yang kian meruncing.

Dari keempat kapal tersebut, dua di antaranya masih berada di dalam area teluk yang berpotensi rawan. Kedua kapal tersebut adalah Pertamina Pride, yang dikelola oleh NYK Ship Management, dan Gamsunoro, yang operasionalnya ditangani oleh Synergy Ship Management. Pemantauan kedua kapal ini dilakukan secara waktu nyata (real-time) untuk menjamin kondisi keamanan mereka.

Advertisements

“Kami terus memantau perkembangan situasi selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dan berupaya agar kedua kapal kami dapat segera keluar dari area teluk,” jelas Vega dalam keterangan resminya pada Senin (2/3). Ia menambahkan, “Tim armada kami tengah berkoordinasi secara intensif dengan pihak pengelola untuk memastikan keselamatan optimal bagi para kru dan kapal.” Komitmen Pertamina tidak berhenti di situ; perusahaan memastikan akan terus mengawasi evolusi kondisi keamanan di seluruh kawasan demi menjamin keselamatan para pekerja dan kelancaran operasional armada distribusi energi mereka.

Tidak hanya fokus pada pergerakan kapal, Pertamina juga memprioritaskan keselamatan seluruh pekerja dan kru kapal yang berada di Timur Tengah dan merasakan langsung dampak dari eskalasi konflik ini. PIS memiliki kantor cabang PIS Middle East (PIS ME) di Dubai, yang menjadi rumah bagi 30 pekerja beserta keluarga mereka. Vega memastikan, “Kondisi para pekerja dan keluarga PIS Middle East saat ini berada dalam kondisi aman, dan perusahaan terus melakukan pemantauan ketat terhadap situasi di Dubai.” Ia kembali menegaskan bahwa inti dari seluruh upaya perusahaan adalah menjamin keselamatan pekerja dan kru kapal, serta menjaga keamanan operasional armada yang melintasi jalur-jalur strategis dunia.

Kilang Ras Tanura Arab Saudi Ditutup Pasca-Serangan

Penyebab utama kewaspadaan global juga datang dari penutupan kilang minyak Ras Tanura di Arab Saudi. Kantor berita negara Saudi SPA, yang dikutip oleh Reuters pada Senin (2/3), melaporkan bahwa “beberapa unit kilang ditutup sebagai langkah pencegahan, meskipun pasokan minyak dan produk turunannya ke pasar lokal tidak terganggu.” Insiden ini melibatkan penangkapan dua drone di area kilang, dengan puing-puing yang memicu kebakaran di beberapa titik terbatas. Beruntungnya, tidak ada korban luka yang dilaporkan akibat serangan tersebut. Perlu diketahui, Ras Tanura, yang terletak di pesisir Teluk Arab, merupakan terminal ekspor vital bagi minyak mentah Arab Saudi. Sebuah sumber memastikan bahwa “situasi di kilang minyak Ras Tanura saat ini berada di bawah kendali.”

Meskipun demikian, pasar global tetap diliputi kekhawatiran serius. Penutupan operasional kilang Ras Tanura bertepatan dengan laporan terhambatnya pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, jalur laut yang dikenal sebagai salah satu rute pengiriman minyak paling krusial di dunia. Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab, menjadi koridor bagi setidaknya seperlima dari total konsumsi minyak global.

Torbjorn Soltvedt, analis utama Timur Tengah di firma intelijen risiko Verisk Maplecroft, menyatakan, “Serangan terhadap kilang minyak Ras Tanura di Arab Saudi menandai eskalasi signifikan, menunjukkan bahwa infrastruktur energi Teluk kini menjadi target utama Iran.” Soltvedt lebih lanjut berpendapat bahwa serangan semacam ini berpotensi mendorong Arab Saudi dan negara-negara anggota The Gulf Cooperation Council (GCC), seperti Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, dan Uni Emirat Arab, untuk mempertimbangkan bergabung dalam operasi militer yang dipimpin AS dan Israel melawan Iran.

Advertisements