Konflik AS–Iran panaskan harga minyak, saham migas ENRG, MEDC cs kompak melejit

Babaumma – , JAKARTA – Saham-saham emiten minyak dan gas (migas) berhasil mencuri perhatian di lantai bursa pada perdagangan Senin (2/3/2026). Reli impresif saham migas ini bahkan menjadi kontributor utama atas lonjakan indeks IDXENERGY, menjadikannya satu-satunya indeks sektoral yang menguat hari itu, di tengah koreksi yang dialami IHSG secara keseluruhan.

Advertisements

Beberapa emiten migas menunjukkan performa luar biasa. Saham PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) memimpin dengan kenaikan 25% hingga ditutup di level Rp2.200. Tak kalah cemerlang, saham PT Elnusa Tbk. (ELSA) melonjak 17,65% ke Rp1.000, sementara PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) menguat 15,65% menjadi Rp1.995.

Kenaikan juga terjadi pada saham PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) yang ditutup naik 5,79% ke Rp1.370, serta PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) yang menguat 4,44% mencapai Rp4.700.

: Target Harga Saham Migas MEDC, ENRG Cs saat Harga Minyak Memanas

Advertisements

Menurut Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta, setidaknya ada dua faktor fundamental yang mendorong kenaikan signifikan pada harga saham migas ini. Pendorong utama adalah lonjakan harga minyak global, yang dipicu oleh memanasnya konflik geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

“Kenaikan harga minyak ini jelas memberikan keuntungan besar bagi emiten-emiten berbasis migas, memungkinkan mereka memanfaatkan kenaikan average selling price (ASP). Dengan meningkatnya ASP, kinerja laba bersih (bottom line) tentu akan teroptimalkan,” jelas Nafan kepada Bisnis, pada Senin (2/3/2026).

: : Seberapa Lama Sentimen Harga Minyak Mampu Panaskan Saham Migas MEDC, ENRG, Cs?

Nafan menilai bahwa kekuatan katalis pendorong saham migas akan sangat bergantung pada seberapa jauh perkembangan konflik global yang mempengaruhi harga minyak. Secara teknikal, harga minyak global bahkan berpeluang untuk menguji level teoritis US$92 per barel.

Katalis pendorong kedua, sambungnya, adalah penguatan dolar AS, yang notabene merupakan denominasi mata uang bagi sebagian besar emiten migas. Secara teori, saat konflik geopolitik meningkat, investor global cenderung menghindari aset berisiko dan beralih ke aset yang dianggap aman seperti dolar AS. Fenomena ini tercermin pada penutupan pasar Senin (2/3/2026), di mana nilai tukar rupiah melemah 0,48% atau 81 poin, mencapai Rp16.868 per dolar AS.

: : Konflik AS-Iran Bikin Saham Migas MEDC, RAJA, ENRG Panen Cuan saat IHSG Loyo

“Namun, tantangan bagi emiten adalah biaya produksi. Jika tinggi, tentu akan mempengaruhi profitabilitas. Oleh karena itu, efisiensi biaya operasional menjadi kunci,” imbuh Nafan.

Selain faktor global, katalis berikutnya adalah kondisi makro domestik yang tetap solid, meskipun ekonomi global diliputi ketidakpastian. Menurut Nafan, kondisi ini akan meningkatkan permintaan akan migas. Di segmen midstream, emiten yang bergerak di sektor perdagangan juga diuntungkan dari peningkatan harga BBM.

Mengenai seberapa lama kondisi positif ini akan bertahan, Nafan mengungkapkan bahwa Trump memang sempat menyatakan perang akan berlangsung selama 1 bulan, dan ini jelas akan berdampak pada harga minyak global. Namun, ia juga mengingatkan bahwa akan ada titik di mana saham-saham migas berpotensi terkoreksi karena dinamika konflik geopolitik.

“Bisa jadi pasar sudah membentuk harganya sehingga suatu saat meningkatkan risk appetite. Apalagi dari setiap konflik pasti ada resolusi melalui jalur diplomasi, dan ini bisa memberikan sentimen terhadap koreksi harga minyak dunia,” pungkasnya.

Energi Mega Persada Tbk. – TradingView

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Advertisements