
Arus modal asing ke pasar saham domestik menunjukkan sinyal-sinyal positif pemulihan menjelang penutupan Februari 2026. Setelah sempat tertekan pada awal tahun, investor global kini telah membukukan pembelian bersih (net inflow) selama dua pekan berturut-turut. Perkembangan ini memberikan sentimen positif yang signifikan bagi pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) dan performa saham-saham berkapitalisasi besar.
Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa posisi akumulasi aliran dana asing sejak awal tahun masih mencatatkan defisit. Kondisi ini merefleksikan bahwa minat investor global terhadap pasar modal Indonesia mulai membaik, namun pemulihan tersebut belum mencapai level penuh.
Berdasarkan laporan analitis dari BRI Danareksa Sekuritas, investor asing berhasil membukukan net inflow sebesar US$ 292 juta atau setara Rp 4,92 triliun. Aksi beli ini merupakan kelanjutan dari pembelian yang telah terjadi dalam dua pekan sebelumnya, di mana mereka mencatat inflow sebesar US$ 108 juta atau Rp 1,82 triliun, menandakan tren penguatan yang konsisten.
Mayoritas aliran dana asing ini terfokus pada saham berkapitalisasi besar yang menjadi favorit investor. Saham-saham tersebut meliputi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), dan PT Astra International Tbk (ASII).
Baca juga:
- Belajar dari Kasus New York Times vs OpenAI, RI Siapkan Proteksi Konten Lokal
- Mendagri, Menteri PKP Tinjau Tinjau Penataan Permukiman Kumuh di Kubu Raya
- IHSG Rawan Terkoreksi, Analis Cermati Saham ESSA, BRMS, ANTM, HRTA hingga AKRA
Di sisi lain, beberapa saham unggulan lainnya justru masih menjadi target penjualan oleh investor asing. Saham-saham yang dilepas antara lain PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI).
Kendati ada perbaikan dalam dua pekan terakhir, BRI Danareksa Sekuritas menggarisbawahi bahwa posisi investor asing di pasar saham Indonesia secara year-to-date (YTD) masih berada dalam kondisi defisit yang signifikan, mencapai sekitar US$ 567,6 juta atau setara Rp 9,5 triliun.
“Hal ini mengindikasikan bahwa aliran modal ke pasar domestik kita masih tertinggal dibandingkan dengan beberapa pasar emerging market lainnya,” demikian disampaikan BRI Danareksa Sekuritas dalam laporan analisisnya, yang dikutip pada Selasa (3/3).
Secara regional, BRI Danareksa Sekuritas juga mencatat dinamika arus dana ke pasar negara berkembang (emerging markets) pada pekan terakhir Februari. Dominasi inflow tercatat di Taiwan sebesar US$ 4,8 miliar dan Brasil sebesar US$ 1,16 miliar. Berbeda dengan keduanya, Korea Selatan justru mengalami arus dana keluar (outflow) terbesar.
Meski terdapat arus dana masuk ke Indonesia yang dinilai positif, BRI Danareksa Sekuritas menyatakan bahwa nilainya relatif terbatas bila dibandingkan dengan rotasi dana global yang cenderung lebih banyak mengalir ke pasar Asia Utara.
Pergerakan Asing Awal Maret 2026
Memasuki bulan Maret, berdasarkan data perdagangan dari Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing kembali mencatatkan penjualan bersih (net sell) pada perdagangan Senin (2/3). Nilai jual bersih asing tercatat sebesar Rp 631,18 miliar atau setara sekitar US$ 37,46 juta.
Secara kumulatif sejak awal tahun (year-to-date), arus dana asing di pasar saham Indonesia masih menunjukkan tren penjualan yang signifikan, dengan total net sell mencapai Rp 10,14 triliun atau sekitar US$ 602,03 juta.
Dari perspektif fundamental pasar, valuasi saham di BEI saat ini tercermin dari Market Price to Earnings Ratio (PER) sebesar 15,09 kali dan Market Price to Book Value (PBV) sebesar 2,23 kali.