
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa gejolak harga minyak dunia yang terjadi saat ini belum menimbulkan ancaman signifikan terhadap keuangan negara dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Purbaya meyakinkan bahwa anggaran negara masih memiliki daya tahan yang memadai untuk meredam dampak kenaikan harga minyak, bahkan jika mencapai level US$ 92 per barel.
“Saya sudah hitung sampai US$ 92 pun kita masih bisa kendalikan anggaran. Jadi tidak ada masalah,” ujar Purbaya dengan optimisme di Istana Merdeka Jakarta, pada Selasa (3/3).
Kenaikan harga minyak global memang menjadi sorotan. Berdasarkan data perdagangan berkala dari Bloomberg pada hari yang sama, minyak mentah Brent melonjak signifikan 8,7% mencapai level US$ 84,50 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turut naik 9,06% menjadi US$ 77,68 per barel.
Baca juga:
- Harga Minyak Hampir US$ 79 Per Barel Seiring Peningkatan Konflik Iran-AS
Pemerintah, lanjut Purbaya, telah mempersiapkan langkah antisipatif. Ia menjelaskan bahwa penyesuaian dan pengaturan anggaran dapat dilakukan untuk memastikan defisit anggaran tetap terkendali. Strategi ini melibatkan pengawasan ketat terhadap penerimaan pajak dan bea cukai. Langkah ini menjadi krusial dalam mengantisipasi potensi gangguan impor yang bisa muncul akibat eskalasi konflik di Selat Hormuz.
“Kita pastikan saja pengumpulan pajak bersama bea cukai tidak ada yang bocor. Itu sudah mengurangi tekanan ke defisit,” tegasnya, menyoroti pentingnya efisiensi dalam penerimaan negara.
Selain itu, Purbaya juga menanggapi kekhawatiran publik mengenai stok nasional bahan bakar minyak (BBM) yang saat ini diperkirakan cukup untuk sekitar 20 hari ke depan. Menurutnya, situasi gangguan pasokan BBM dalam jangka pendek merupakan kejadian yang relatif jarang terjadi.
“Kalau tidak ada suplai sama sekali baru berantakan. Tapi biasanya tidak seperti itu. Kita pasti bisa dapat suplai tapi harganya lebih tinggi sedikit,” kata Purbaya, memberikan jaminan akan ketersediaan pasokan meskipun dengan potensi penyesuaian harga.
Kondisi geopolitik memang semakin memanas dengan meningkatnya konflik antara Iran dengan AS dan Israel. Iran bahkan dilaporkan telah menutup Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur vital dalam distribusi minyak dunia, menambah ketidakpastian di pasar energi global.