Militer Amerika Serikat, yang lebih dikenal sebagai Pentagon, telah mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (AI) canggih, Claude dari Anthropic, dalam operasi penyerangan mereka terhadap Iran. Claude berperan krusial sebagai bagian tak terpisahkan dari sistem yang dikembangkan oleh Palantir, perusahaan teknologi pertahanan terkemuka, bekerja sama dengan Departemen Pertahanan AS (DoD). Menurut laporan The Guardian pada Selasa (3/3), komando militer AS secara aktif memanfaatkan perangkat berbasis AI Anthropic ini untuk menganalisis data intelijen dalam skala besar, menentukan target strategis, dan mensimulasikan skenario medan perang.
Pemanfaatan model AI Anthropic, Claude ini secara signifikan mempersingkat “rantai pembunuhan” atau kill chain. Proses yang dulunya memakan waktu, mulai dari identifikasi target, persetujuan hukum, hingga peluncuran serangan, kini dapat diselesaikan dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Didirikan pada tahun 2003, Palantir Technologies dikenal sebagai penyedia perangkat lunak analitik data besar yang menyediakan platform terintegrasi untuk berbagai entitas, mulai dari organisasi kompleks hingga lembaga intelijen pemerintah dan sektor komersial. Sementara itu, Anthropic, yang baru berdiri pada tahun 2021, merupakan pengembang di balik model bahasa besar (LLM) Claude. Perusahaan ini mengedepankan prinsip Constitutional AI, sebuah pendekatan yang berfokus pada keamanan AI, dirancang untuk memastikan Claude memberikan respons yang bermanfaat dan menghindari perilaku merugikan seperti bias AI.
Untuk informasi lebih lanjut, Anda juga dapat membaca artikel terkait berikut ini:
- AS dan Israel Pakai AI untuk Serang Iran, Gaza, dan Tangkap Presiden Venezuela
- Claude Anthropic Down, AI Ini Dipakai Militer AS Untuk Perang Lawan Iran
- Apa Itu Project Nimbus Google – Israel? Pegawai Protes Dipecat
Hubungan antara militer AS dan Palantir bermula pada tahun 2017 melalui inisiatif Project Maven, atau yang dikenal sebagai Algorithmic Warfare Cross Functional Team (AWCFT). Program ini dirancang khusus untuk mempercepat implementasi machine learning dan integrasi data di seluruh spektrum operasional intelijen militer AS. Gagasan Project Maven sendiri muncul dari kekhawatiran Robert O. Work, Wakil Menteri Pertahanan AS periode 2014–2017, mengenai pesatnya kemajuan Tiongkok dalam aplikasi pertahanan berbasis AI.
Dalam praktiknya, AWCFT bertugas mengintegrasikan data dari beragam sumber seperti drone, satelit, dan sensor lainnya. Data ini kemudian digunakan untuk mengidentifikasi serta melacak objek atau individu yang menjadi perhatian, baik dari gambar maupun video yang terekam. Sejumlah kontraktor besar terlibat dalam mendukung Project Maven, termasuk Palantir, Anduril, Amazon Web Services, Anthropic, dan bahkan Google. Namun, pada tahun 2018, Google memutuskan mundur dari proyek tersebut menyusul protes ribuan karyawannya yang menolak penggunaan teknologi AI untuk tujuan militer atau “bisnis perang”.
Guna mengkoordinasikan strategi penggunaan AI secara lebih terstruktur, Pentagon mendirikan Joint Artificial Intelligence Center (JAIC) pada tahun yang sama, yakni 2018. JAIC berperan sebagai pusat pengembangan, regulasi, dan akselerasi adopsi AI di seluruh unit militer.
Evolusi Project Maven berlanjut pada tahun 2022 dengan dimulainya transisi besar menuju Maven Smart System (MSS). Dalam langkah signifikan ini, Pentagon menaikkan batas kontrak dengan Palantir Technologies untuk MSS menjadi hampir 1,3 miliar dolar AS yang berlaku hingga tahun 2029, sebagaimana dilaporkan DefenseScoop pada April 2025. Tidak berhenti di situ, pada Juli 2025, Angkatan Darat AS menandatangani kontrak jangka panjang senilai hingga 10 miliar dolar AS dengan Palantir untuk durasi 10 tahun. Kontrak monumental ini tidak hanya mengkonsolidasikan puluhan perjanjian lama, tetapi juga bertujuan untuk mempercepat pengiriman perangkat lunak komersial siap pakai serta menyediakan akses cepat bagi prajurit terhadap solusi integrasi data, analitik, dan alat AI mutakhir. Jangkauan kemitraan Palantir meluas, terbukti dengan penandatanganan kesepakatan dengan NATO untuk pemanfaatan MSS.
Melansir dari laman resmi Palantir, Anthropic secara resmi menjalin kemitraan strategis dengan Palantir dan Amazon Web Services (AWS) pada 7 November 2024. Kemitraan ini memastikan bahwa LLM Claude, termasuk versi terbarunya, Claude 4, sepenuhnya terintegrasi dengan sistem Palantir Artificial Intelligence Platform (AIP). Kolaborasi ini dirancang untuk menyediakan akses AI bagi lembaga intelijen dan pertahanan Amerika Serikat, guna mendukung berbagai operasi militer dan keamanan nasional. Pentingnya kemitraan ini semakin ditekankan oleh kemampuan layanannya untuk beroperasi dalam lingkungan terakreditasi Impact Level 6 (IL6), yang memungkinkan Claude memproses data rahasia (classified) dengan tingkat sensitivitas yang sangat tinggi. Dalam konteks operasional, Claude dimanfaatkan untuk analisis data yang kompleks, pengenalan pola secara cepat, serta menjadi alat bantu vital dalam pengambilan keputusan di situasi-situasi mendesak.
Namun, penggunaan Claude oleh militer AS tidak luput dari kontroversi. Pada Januari 2026, Anthropic secara terbuka menyatakan keberatan atas pemanfaatan Claude dalam operasi penyerangan untuk menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro. Perusahaan tersebut menegaskan bahwa ketentuan penggunaan AI mereka dengan jelas melarang Claude digunakan untuk tujuan kekerasan, pengembangan senjata, atau aktivitas pengawasan.
Seberapa Canggih Sistem AI Militer Lewat Teknologi Palantir dan Claude?
Palantir mengembangkan empat platform inti yang saling terintegrasi dan dikenal sebagai AI Mesh: Gotham untuk intelijen, Foundry untuk operasi data, Apollo untuk manajemen perangkat lunak, dan AIP sebagai platform AI. Sistem ini bekerja secara sinergis, dengan alur sebagai berikut: data mentah masuk, kemudian diproses dan dipahami oleh sistem, AI selanjutnya memberikan wawasan atau insight, dan hasilnya dapat langsung diterapkan pada aplikasi atau sistem lain.

Platform utama Palantir (Palantir)
Palantir memiliki keunggulan tidak hanya dalam menyimpan data mentah, tetapi juga dalam membangun “Ontology“. Ontology ini dapat diibaratkan sebagai peta informasi yang secara detail menggambarkan hubungan antarberbagai entitas dalam data, meliputi objek, kejadian, lokasi, hingga aturan bisnis. Dengan Foundry Ontology, AI mampu memahami konteks nyata dari berbagai sumber data, mulai dari tabel, data sensor, teks tidak terstruktur, hingga foto dan video, sehingga menghasilkan analisis yang jauh lebih bermakna. Untuk mempermudah pemahaman, bayangkan data sebagai tumpukan buku yang tersusun secara acak. Dalam analogi ini, Ontology berfungsi sebagai katalog terorganisir yang mengidentifikasi isi setiap buku, memungkinkan AI menemukan informasi yang dibutuhkan secara instan tanpa perlu memilah satu per satu.
Cara Palantir mengelola data (Palantir)
Sementara itu, AIP (AI Platform) bertindak sebagai pusat kendali untuk analisis dan otomatisasi. Platform ini mengintegrasikan berbagai model AI, termasuk LLM Claude, untuk mengotomatisasi berbagai proses penting seperti analisis data, pembuatan ringkasan, klasifikasi informasi, dan prediksi tren.
Cara Palantir menganalisis data (Palantir)
Di lapisan paling bawah dari AI Mesh, terdapat Apollo, yang bertanggung jawab atas penyebaran perangkat lunak ke berbagai lingkungan operasional, baik itu cloud, server internal, maupun sistem edge otomatis. Melalui Apollo, aplikasi AI dapat beroperasi secara otomatis tanpa intervensi manual, menghasilkan kecepatan dan konsistensi yang lebih tinggi. Palantir juga memanfaatkan Apollo untuk mengelola versi, melakukan pembaruan, dan memantau aplikasi guna memastikan keamanan dan kinerja yang optimal.
Cara Palantir menyajikan data yang sudah dianalisis untuk digunakan oleh pengguna (Palantir)
Secara keseluruhan, teknologi Palantir telah diaplikasikan secara luas di Pentagon untuk kebutuhan intelijen dan operasional. Melalui Project Maven dan kontrak-kontrak lainnya, sistem ini dimanfaatkan untuk analisis video dan drone, penggabungan berbagai sumber intelijen, serta sebagai penunjang pengambilan keputusan taktis. Arsitektur Palantir yang fleksibel dan cloud-agnostic (tidak bergantung pada penyedia cloud tertentu) sangat memudahkan pengembangannya di lingkungan yang sangat sensitif, sekaligus menjamin kontinuitas operasi-operasi penting.
Cara kerja teknologi AI Palantir (Gemini AI, Katadata/Desy Setyowati)
Beralih ke kemampuan LLM Claude, versi terbarunya mencakup beberapa varian dengan kemampuan yang beragam, di antaranya Claude Opus 4.5, Claude Sonnet 4, Claude Sonnet 3.7, Claude Sonnet 3.5, dan Claude Haiku 4.5. Semua model LLM ini dirancang untuk memproses konteks hingga 200 ribu token, memudahkan pemahaman dokumen panjang atau kompleks. Khususnya varian Opus dan Sonnet, mereka bahkan mampu menganalisis gambar, seperti citra satelit atau foto medan perang. Fitur “Extended Thinking” pada varian Sonnet memungkinkan model AI untuk memahami dokumen intelijen, laporan sensor, komunikasi lawan, dan berbagai lapisan data lainnya dalam satu proses analisis yang panjang dan mendalam. Anthropic juga memperkenalkan fitur “Agent Skills” yang memungkinkan Claude memuat instruksi, skrip, dan sumber daya tertentu secara dinamis untuk melaksanakan tugas-tugas khusus, termasuk integrasi dengan aplikasi seperti Office, Excel, atau file PDF.
Pentagon Gandeng Google Gemini
Pada Desember 2025, Pentagon meluncurkan GenAI.mil, sebuah platform AI komprehensif yang dirancang untuk menggenjot kemampuan AI mutakhir di seluruh angkatan bersenjata AS. “Platform ini menempatkan model AI Google Gemini langsung ke tangan setiap prajurit Amerika,” ungkap Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dalam sebuah pesan video, seperti dikutip dari Antara.
Menurut Hegseth, model AI yang terintegrasi dalam GenAI.mil memiliki kapasitas untuk melakukan penelitian mendalam, memformat dokumen, serta menganalisis video dan gambar dengan kecepatan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Hegseth, yang juga seorang mantan penyiar televisi, menegaskan komitmen AS untuk terus mengerahkan teknologi terbaik dunia secara agresif demi menciptakan kekuatan tempur yang lebih mematikan dan efektif dibandingkan era sebelumnya.