Saham emiten pelayaran BULL, SOCI, HUMI melaju seiring Iran tutup Selat Hormuz

Sejumlah saham emiten pelayaran dan logistik menunjukkan performa gemilang pada perdagangan Selasa (3/3). Kenaikan signifikan ini terjadi seiring memanasnya ketegangan di kawasan Timur Tengah yang secara langsung memengaruhi aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur maritim vital dunia.

Advertisements

Berdasarkan data penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) kemarin, PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) mencatatkan kenaikan 5,96% atau 28 poin, bertengger di level Rp 498. Sementara itu, PT Soechi Lines Tbk (SOCI) turut menguat 7,63%, mencapai level Rp 705.

Peningkatan paling mencolok justru dibukukan oleh PT Humpuss Maritim Internasional Tbk (HUMI) dengan lonjakan impresif 19,61% ke level Rp 244. Senada, anak usahanya, PT GTS Internasional Tbk (GTSI), juga mengalami kenaikan tajam 17,16% hingga menyentuh Rp 314. Di sisi lain, PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) sempat melesat 4,67% sebelum akhirnya terkoreksi 0,93% di ujung perdagangan, menutup di level Rp 424.

Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menjelaskan bahwa gangguan akses di Selat Hormuz memicu berbagai perhitungan di kalangan pelaku pasar. Tidak hanya potensi kenaikan harga minyak, namun juga lonjakan premi asuransi kapal, perubahan rute pelayaran, hingga kenaikan tarif angkut atau freight rate menjadi faktor yang dipertimbangkan.

Advertisements

“Dalam kondisi seperti ini, perusahaan tanker dan pelayaran justru berpotensi menikmati kenaikan pendapatan jangka pendek. Hal ini disebabkan tarif sewa kapal biasanya ikut terdorong naik akibat tingginya risiko operasional dan terbatasnya ketersediaan armada,” ujar Hendra kepada Katadata, Senin (2/3).

Mengutip Bloomberg, tekanan terhadap lalu lintas maritim di Selat Hormuz diduga kuat menjadi salah satu respons Iran atas serangan udara Amerika Serikat dan Israel. Meskipun Pemerintah Iran belum secara resmi mengumumkan penutupan jalur tersebut, laporan menunjukkan bahwa kapal-kapal mulai membatasi pelayaran melalui selat yang sempit itu.

Situasi semakin tegang setelah beredar siaran radio yang mengatasnamakan Angkatan Laut Iran, menyatakan pelarangan transit di Selat Hormuz. Beberapa perusahaan asuransi bahkan dikabarkan berencana menarik perlindungan risiko perang bagi kapal-kapal yang hendak memasuki kawasan Teluk Persia. Teheran juga diklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap tiga kapal tanker minyak di kawasan Teluk, menambah daftar panjang insiden yang memperkeruh suasana.

Selat Hormuz merupakan jalur maritim yang sangat strategis bagi kapal-kapal pengangkut minyak dan gas dari Timur Tengah menuju destinasi utama seperti Cina, Eropa, Amerika Serikat, dan negara-negara konsumen energi lainnya. Ketidakpastian di jalur krusial ini telah memicu lonjakan harga minyak, gas, bahan bakar, dan sejumlah komoditas lain, seiring kekhawatiran akan terganggunya arus perdagangan global. Jika gangguan ini berlangsung lama, tekanan inflasi global berpotensi meningkat secara signifikan.

Secara geografis, Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia. Di sisi utara, perairan ini berbatasan langsung dengan Iran, sementara di selatan berbatasan dengan Uni Emirat Arab (UEA) dan Oman. Selat ini membentang hampir 161 km dengan lebar tersempit sekitar 33 km. Namun, jalur pelayaran aktual di masing-masing arah hanya sekitar 3 km, menjadikannya sangat rentan terhadap segala bentuk gangguan. Selain minyak mentah, selat ini juga krusial bagi perdagangan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG), di mana sekitar seperlima pasokan LNG dunia, terutama dari Qatar, melewati jalur ini pada tahun lalu. Negara-negara Asia diketahui menjadi pembeli utama LNG dari kawasan tersebut.

Advertisements