Pada tanggal 11 Januari lalu, sebuah aksi sunyi digelar oleh Koalisi Aktivis Lingkungan For Gajah Rahman. Kegiatan ini bertujuan untuk memperingati dua tahun tragis kematian Rahman, seekor gajah latih yang mengabdikan dirinya di Taman Nasional Tesso Nilo. Lebih dari sekadar mengenang, aksi tersebut menyuarakan kekecewaan mendalam yang belum juga sirna, sebab hingga kini, kasus kematian Rahman masih belum menemukan titik terang.
Rahman ditemukan tewas diracun pada 10 Januari 2022, dengan satu gadingnya terpotong. Pagi itu, sekitar pukul 08.30 WIB, seorang mahout dikejutkan dengan pemandangan Rahman yang tergeletak sekarat di area sekitar Camp Elephant Flying Squad, TN Tesso Nilo. Gading kirinya telah dipotong, meskipun tidak sampai ke akarnya. Selama hampir delapan jam, Rahman berjuang melawan racun mematikan yang menggerogoti tubuhnya.
Pertolongan darurat segera diberikan oleh tim mahout, di bawah panduan dokter hewan dari Balai Besar KSDA Riau melalui sambungan telepon. Namun, tim dokter hewan tak dapat segera mencapai lokasi karena akses jalan terendam banjir. Rahman akhirnya dinyatakan mati pada pukul 15.55 WIB. Baru menjelang malam, pukul 22.10 WIB, tim dokter hewan berhasil tiba dan segera melakukan nekropsi hingga dini hari.
Dua tahun telah berlalu sejak insiden memilukan itu, namun pelaku di balik kematian gajah Rahman masih belum terungkap. “Berbagai upaya telah kami lakukan, termasuk menggalang petisi dukungan publik dan mengantarkannya ke kepolisian,” tulis Koalisi For Gajah Rahman di akun Instagram mereka pada Rabu (4/3), menegaskan komitmen mereka untuk terus mencari keadilan.
Menanggapi desakan publik, Kapolda Riau Herry Heryawan menyatakan bahwa penyelidikan masih terus berjalan. “Kami sudah memeriksa 17 saksi, termasuk para mahout, petugas keamanan, serta pihak-pihak di sekitar lokasi kejadian,” ujarnya dalam konferensi pers di Pekanbaru, Selasa (3/3). Pihak kepolisian, lanjut Herry, masih menanti penguatan alat bukti, termasuk hasil uji laboratorium forensik yang krusial.
Lebih lanjut, Herry Heryawan menyebutkan bahwa pola kematian Rahman menunjukkan perbedaan signifikan dibandingkan kasus-kasus perburuan gajah terorganisir. “Gajah Rahman kan cuma satu yang dipotong, terburu-buru. Mungkin ada ketakutan,” jelasnya, mengindikasikan bahwa dugaan awal mengarah pada pelaku amatir yang kurang profesional.
Kejanggalan Kematian Rahman
Koalisi For Gajah Rahman menyoroti beberapa kejanggalan dalam penanganan kasus ini. Salah satu poin krusial adalah penanganan darurat. Rahman, yang sempat bertahan sekitar delapan jam, berada dalam rentang waktu yang mereka seistilahkan sebagai “masa emas” penyelamatan.
“Kami tahu kondisi jalan lintas Pelalawan saat itu banjir dan lumpuh total. Namun, selama delapan jam krusial itu, apakah tidak ada upaya yang bisa dilakukan, seperti menggunakan helikopter, untuk segera mendatangkan tim dokter hewan?” tulis koalisi tersebut, mempertanyakan efektivitas prosedur darurat.
Koalisi juga membandingkan dengan praktik konservasi lainnya, seperti penggunaan helikopter dalam operasi pelepasliaran harimau sumatra di Taman Nasional Kerinci Seblat atau orangutan di Kalimantan Tengah, menunjukkan bahwa opsi tersebut bukan hal yang asing dalam upaya penyelamatan satwa prioritas.
Ironisnya, Rahman bukanlah gajah liar biasa. Ia adalah anggota Elephant Flying Squad, sebuah unit gajah latih yang secara khusus membantu mitigasi konflik antara manusia dan gajah di Tesso Nilo. Selama lebih dari dua dekade, Rahman telah berperan penting dalam menggiring gajah liar menjauh dari permukiman warga, secara signifikan menekan risiko kerugian ekonomi maupun korban jiwa.
Selain itu, koalisi juga mempertanyakan prosedur penambatan Rahman. Gajah itu mati di luar area camp, meskipun lokasinya hanya berjarak sekitar 100 meter dari gerbang masuk taman nasional. “Tidak ada keterangan publik mengenai alasan penambatan di lokasi tersebut,” tulis mereka. Padahal, jika prosedur normal dijalankan, seharusnya ada setidaknya satu kali pengecekan tambahan sebelum malam hari.
Bagi Koalisi For Gajah Rahman, serangkaian pertanyaan dan kejanggalan ini bukan sekadar mencari siapa pelaku di balik kematian Rahman. Lebih dari itu, mereka ingin mendorong perubahan sistemik dalam tata kelola perlindungan gajah latih milik negara, demi mencegah terulangnya tragedi serupa.
Dalam catatan koalisi, angka kematian gajah di Riau sangat mengkhawatirkan. Sepanjang tahun 2004 hingga 2024, tercatat ada 167 gajah yang mati. Sebagian besar tewas karena diracun, ditembak, sakit, atau bahkan tidak teridentifikasi karena hanya menyisakan tulang belulang. Namun, sangat disayangkan, hanya tiga kasus yang berhasil sampai ke meja peradilan, dan dua di antaranya dilakukan oleh pelaku yang sama.
Bangkai gajah pun kerap ditemukan di area konsesi perusahaan, dengan kasus terbaru terjadi di area konsesi PT Riau Andalan Pulp and Paper. Meskipun demikian, Kapolda Riau Herry Heryawan menyatakan bahwa hingga kini, pihaknya belum menemukan keterkaitan kasus kematian gajah Rahman dengan pihak perusahaan mana pun.