
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memberikan jaminan tegas bahwa pasokan bahan bakar minyak (BBM) nasional berada dalam kondisi yang sangat aman, meskipun ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terus meningkat tajam. Pernyataan ini bertujuan untuk menenangkan kekhawatiran publik di tengah dinamika geopolitik global yang bergejolak.
Keamanan pasokan BBM ini, menurut Bahlil, disebabkan oleh strategi diversifikasi sumber impor Indonesia yang tidak bergantung pada kawasan Timur Tengah. Dengan demikian, potensi gangguan akibat penutupan Selat Hormuz oleh Iran, jalur pelayaran vital yang kerap menjadi titik panas konflik, dapat dihindari.
“Kalau menyangkut BBM yang kita impor ini kan tinggal jenis bensin, dan itu pembeliannya di Asia Tenggara, tidak ada di Middle East (Timur Tengah). Jadi relatif insyaallah aman,” kata Bahlil kepada para wartawan di Istana Merdeka Jakarta pada hari Rabu (4/3), menggarisbawahi kemandirian sumber pasokan.
Pemerintah juga telah mengambil langkah proaktif dengan mengalihkan porsi 25% sumber impor minyak mentah atau crude. Yang semula berasal dari Timur Tengah, kini dialihkan ke Amerika Serikat atau negara-negara lain yang tidak memiliki keterkaitan langsung dengan jalur pelayaran strategis di kawasan Selat Hormuz. “Dari 25% itu, pemerintah sudah mengalihkan antisipasinya ke Amerika atau ke negara-negara yang tidak ada kaitannya dengan Selat Hormuz,” tambahnya, menjelaskan upaya mitigasi risiko.
Meskipun demikian, Bahlil tidak menampik bahwa konflik berkepanjangan antara AS-Israel dan Iran tetap berpotensi memberikan tekanan signifikan terhadap pasar energi global di masa mendatang. Namun, ia meyakinkan bahwa untuk satu hingga dua bulan ke depan, kondisi pasokan BBM di Indonesia masih akan tetap aman dan belum menunjukkan tanda-tanda gangguan berarti. “Kalau sampai dengan sekarang belum terganggu. Tapi ke depan, kalau perangnya lama pasti akan berdampak,” ujarnya, menunjukkan kewaspadaan jangka panjang.
Pada kesempatan yang sama, Bahlil juga membawa kabar baik bagi masyarakat dengan menegaskan bahwa harga BBM subsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga perayaan Hari Raya Idulfitri tahun ini. Keputusan ini diambil di tengah kekhawatiran global akan kenaikan harga minyak dunia yang dipicu oleh konflik bersenjata antara AS-Israel dan Iran.
Untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan dan menjamin stabilitas, Kementerian ESDM telah berkoordinasi erat dalam rapat bersama Dewan Energi Nasional (DEN) dan Pertamina. Rapat ini fokus pada pengupayaan stok BBM dan liquefied petroleum gas (LPG) alias elpiji nasional agar tetap dalam kondisi aman dan mencukupi menjelang periode Lebaran. “Untuk harga BBM subsidi saya pastikan bahwa sampai dengan hari raya tidak ada kenaikan,” tandas Bahlil, memberikan kepastian langsung kepada publik.
Di sisi lain, Bahlil menjelaskan bahwa harga BBM nonsubsidi akan terus mengikuti mekanisme pasar sesuai dengan regulasi yang berlaku. Ia juga menyampaikan bahwa kapasitas cadangan BBM nasional saat ini berada di kisaran 22-23 hari, menunjukkan tingkat ketahanan pasokan yang memadai dalam menghadapi berbagai skenario.