Bahaya hujan hitam yang guyur Teheran

Langit Teheran diselimuti awan gelap mencekam yang sarat racun setelah sejumlah depot dan kilang minyak di ibu kota Iran menjadi sasaran serangan Israel pada Minggu (8/3). Insiden ini memicu kebakaran besar yang berkobar berjam-jam, menyebarkan asap pekat ke seluruh penjuru kota. Asap beracun tersebut kemudian bercampur dengan hujan, menciptakan fenomena langka dan mengerikan yang dikenal sebagai “hujan hitam”, menyebar hingga radius puluhan kilometer dari lokasi kebakaran.

Advertisements

Fenomena mengerikan ini sontak menimbulkan kepanikan. Warga Teheran melaporkan kesulitan bernapas, dan hujan hitam pekat mengotori segala sesuatu yang disentuhnya. “Hujannya hitam, saya tidak bisa percaya saya menyaksikan hujan hitam,” ungkap Kianoosh (44) kepada Time, dengan nada tak percaya. Ia menambahkan, “Bahkan, ini di Tajrish, bermil-mil jauhnya dari kilang minyak.” Palang Merah Iran segera mengeluarkan peringatan keras, menegaskan bahwa hujan tersebut sangat berbahaya dan bersifat asam, berpotensi menyebabkan luka bakar kimia pada kulit serta kerusakan serius pada paru-paru.

Menurut laporan kantor berita pemerintah Iran, sasaran serangan Militer Israel mencakup gudang minyak Aghdasieh di timur laut, depot minyak Shahran di utara, kilang minyak di selatan, serta depot minyak di barat Teheran. Sebuah kebakaran besar juga dilaporkan terjadi di area utara Teheran pada hari Minggu yang sama. Sementara itu, Israel menyatakan penyerangan tersebut menargetkan fasilitas penyimpanan dan kilang bahan bakar minyak yang digunakan untuk mengoperasikan infrastruktur militer Iran.

Bahaya Hujan Hitam

Advertisements

Profesor Madya Teknik Kimia dari The University of Melbourne, Gabriel da Silva, menegaskan bahwa fenomena “hujan hitam” ini jauh lebih mematikan dan kompleks dibandingkan sekadar hujan asam biasa. Air hujan diduga kuat membawa berbagai polutan berbahaya yang dapat menimbulkan dampak buruk serius bagi manusia dan lingkungan. Gabriel, seperti dikutip dari The Conversation, menjelaskan, “Hujan hitam ini menunjukkan adanya polutan beracun seperti hidrokarbon, partikel ultrahalus atau PM2,5, serta senyawa karsinogenik yang disebut hidrokarbon aromatik polisiklik (PAHs) yang telah masuk ke dalam air hujan.”

Tidak hanya itu, air hujan ini diperkirakan terkontaminasi logam berat dan senyawa anorganik lainnya yang berasal dari material bangunan dan puing-puing yang terlempar ke udara saat ledakan dan kebakaran terjadi. Lebih lanjut, Gabriel menambahkan bahwa asap dari depot minyak yang dibom mengandung sulfur dioksida dan nitrogen dioksida, yang merupakan prekursor kuat pembentukan asam sulfat dan asam nitrat di atmosfer, memperparah sifat korosif hujan.

Ancaman tidak berhenti pada hujan. Awan gelap pekat yang masih menyelimuti langit Teheran juga berbahaya jika terhirup. “Jika Anda dapat mencium baunya, itu bisa menjadi tanda bahwa konsentrasinya sudah berada pada tingkat yang membahayakan kesehatan,” kata Gabriel, mengingatkan warga.

Dampak kesehatan jangka pendek akibat paparan polutan ini sangat nyata, mencakup sakit kepala, iritasi pada mata dan saluran pernapasan, serta kesulitan bernapas, terutama bagi penderita penyakit paru-paru. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, dan ibu hamil berada pada risiko yang jauh lebih besar untuk mengalami dampak kesehatan yang parah. Oleh karena itu, Gabriel menyarankan warga untuk menggunakan masker atau penutup wajah, tetap berada di dalam ruangan, dan meminimalkan masuknya udara luar. Permukaan yang terkena endapan polutan juga sebaiknya dibersihkan secara menyeluruh, terutama di dalam ruangan, meskipun langkah ini sangat sulit dilakukan dalam situasi konflik.

Namun, bahaya sejati “hujan hitam” tersembunyi dalam konsekuensi jangka panjang. Paparan terus-menerus terhadap partikel ultrahalus dapat secara signifikan meningkatkan risiko berbagai penyakit serius. Partikel-partikel mikroskopis ini dapat dengan mudah masuk ke aliran darah setelah terhirup, menyebar ke seluruh tubuh. “Paparan ini dikaitkan dengan berbagai dampak kesehatan, termasuk kanker, gangguan neurologis seperti penurunan fungsi kognitif, serta penyakit kardiovaskular,” jelas Gabriel.

Dampak “hujan hitam” tidak hanya mengancam manusia, tetapi juga lingkungan. Setelah turun bersama hujan, polutan berbahaya ini dapat mengalir ke sungai dan berbagai sumber air alami, secara drastis memengaruhi kehidupan akuatik dan kualitas air minum. Selain itu, senyawa-senyawa berbahaya dari hujan hitam dapat mengendap di bangunan, jalan, dan berbagai permukaan lainnya. Endapan ini berpotensi kembali terangkat ke udara ketika tertiup angin kencang, sehingga secara tidak langsung memperpanjang durasi paparan polutan di lingkungan sekitar, menciptakan ancaman kesehatan yang berkelanjutan.

Advertisements