Babaumma JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tergelincir tajam, menyoroti ketidakpastian pasar yang dipicu oleh eskalasi tensi geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Konflik di Timur Tengah ini telah melambungkan harga minyak mentah global, menambah tekanan pada pasar domestik yang sebelumnya pun belum pulih sepenuhnya pasca-pengumuman MSCI di awal tahun.
Harry Su, Managing Director Research & Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, menyoroti potensi skenario terburuk. Menurutnya, jika konflik di Timur Tengah berlarut-larut dan memburuk hingga mengganggu penuh rute vital di Selat Hormuz, harga minyak dunia berisiko melonjak di atas US$130 per barel. “Lonjakan harga minyak berpengaruh secara negatif pada sebagian besar saham di Indonesia karena memicunya inflasi dan defisit pada anggaran kita,” jelas Harry kepada Bisnis, Senin (9/3/2026).
Kenaikan harga minyak memang sudah terlihat signifikan. Melansir Bloomberg, pada Senin (9/3/2026) sekitar pukul 16.00 WIB, minyak WTI untuk kontrak April 2026 telah meroket 14,52% mencapai US$104,10 per barel. Tak kalah, minyak Brent kontrak Mei 2026 ikut melambung 16,42% ke level US$107,91 per barel.
Dampak langsung terhadap pasar saham Indonesia sangat terasa. Dalam sepekan terakhir, IHSG tercatat turun 7,89% ke posisi 7.585. Bahkan, pada pembukaan perdagangan Senin (9/3/2026) pagi, indeks komposit langsung tertekan di zona merah, terpangkas hampir 5% saat mengawali hari. Pada penutupan pasar di hari yang sama, IHSG koreksi 3,27% ke 7.337.
Harry Su menambahkan, tekanan di pasar Indonesia saat ini tidak hanya bersumber dari sentimen geopolitik di Timur Tengah. Depresiasi nilai tukar rupiah, potensi downgrade dari lembaga pemeringkat kredit global, serta ketidakpastian seputar keputusan akhir dari MSCI turut memperkeruh suasana. “Kami menilai dengan keluarnya keputusan jelas dari MSCI akan membuat pasar lebih percaya diri,” imbuhnya, menekankan perlunya kejelasan untuk mengembalikan kepercayaan investor.
Meskipun pasar secara umum melemah, Harry melihat adanya peluang bagi saham sektor minyak. Emiten seperti PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) dan PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) diperkirakan dapat memanfaatkan tensi geopolitik ini sebagai momentum positif. “Investor dapat memantau dan mencermati saham-saham emiten migas seperti ENRG dan MEDC. Kontrak pada bisnis minyak bersifat jangka pendek atau kurang dari 1 tahun. Dengan demikian, lonjakan harga minyak dunia dapat mendorong laba bersih emiten,” tandasnya, memberikan panduan investasi di tengah volatilitas.
Dari sisi analisis teknikal, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, mengamati pergerakan IHSG. Indeks ini telah mencapai titik terendah intraday di 7.157 dan berhasil bertahan di level Fibonacci retracement 61,8%, yang menjadi target bottom sejauh ini. Terpantau juga adanya rebound cepat yang membentuk candle serupa long-leg hammer, berpotensi menjadi sinyal awal berakhirnya penurunan lanjutan. “Pertanyaannya, ada peluang rebound? Karena sentimen global yang tidak bisa diprediksi, kita tidak bisa terlalu optimis. Tapi analisa teknikal adalah analisa perilaku, jadi kami sedikit berharap juga karena RSI mendekati area oversold,” ujar Liza dengan hati-hati.
Kiwoom Sekuritas memprediksi target IHSG terdekat berada di 7.486, dengan target lanjutan bertahap di 7.640 atau 7.777. Namun, Liza menegaskan bahwa target-target tersebut masih bersifat spekulatif mengingat ketidakpastian yang tinggi.
Melihat lebih jauh pada sentimen global, Liza juga memberikan peringatan terkait penunjukan Mojtaba Khamenei, putra pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi baru Iran. Sosok yang dikenal dekat dengan kelompok garis keras ini memperkuat persepsi bahwa Iran kemungkinan tidak akan segera melunak dalam konflik dengan AS dan Israel, menjaga risiko eskalasi geopolitik di Timur Tengah tetap tinggi.
Namun, di tengah potensi eskalasi tersebut, ada secercah harapan yang bisa meredakan pasar. Berita mengenai pembahasan pelepasan cadangan minyak secara terkoordinasi oleh Menteri Keuangan negara-negara G7 melalui International Energy Agency (IEA) menjadi kabar baik. Langkah ini bertujuan untuk menekan lonjakan harga minyak mentah pasca-serangan AS ke Iran akhir bulan lalu. Potensi pelepasan dapat mencapai 300-400 juta barel, sekitar 25-30% dari cadangan strategis IEA. “Pas banget, negara G7 mau melepas cadangan minyak mereka harga minyak WTI langsung turun ke US$102,4, ini bagus,” pungkas Liza, menyoroti dampak positif dari upaya stabilisasi pasokan global tersebut.