Investor tunggu data inflasi, Wall Street ditutup melemah

Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat menutup perdagangan pada Selasa (10/3) waktu setempat dengan pelemahan, menjelang rilis data inflasi konsumen utama yang sangat dinanti. Meskipun demikian, kontrak berjangka saham (stock futures) diperdagangkan relatif stabil, mendekati garis datar.

Advertisements

Pada penutupan sesi, Indeks S&P 500 tercatat turun 0,21% menjadi 6.781,48 poin. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average terpangkas 34,29 poin atau 0,07%, mengakhiri perdagangan di level 47.706,51. Di sisi lain, Nasdaq Composite menunjukkan performa yang hampir stagnan, dengan kenaikan tipis 1,16 poin atau 0,01% ke level 22.697,10. Pergerakan serupa juga terlihat pada kontrak berjangka; kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average turun 16 poin, kontrak berjangka S&P 500 naik 0,01% secara marginal, dan kontrak berjangka Nasdaq terkoreksi 0,04%.

Sektor-sektor di pasar turut merasakan tekanan, di mana sembilan dari sebelas sektor dalam S&P 500 berakhir di zona negatif. Hanya sektor layanan komunikasi dan teknologi yang berhasil mencatat kenaikan, meskipun tipis. Menanggapi kondisi pasar ini, Kepala Riset Fundstrat Global Advisors, Tom Lee, yang dikutip dari CNBC pada Rabu (11/3), berpendapat, “Saya pikir, kita sedang berada pada periode di mana pasar bearish sudah terjadi di sektor perangkat lunak, saham Magnificent Seven, dan kripto. Menurut saya, hal itu sudah mengurangi banyak spekulasi.”

Fokus utama investor saat ini tertuju pada rilis data indeks harga konsumen atau consumer price index (CPI) Februari yang dijadwalkan keluar hari ini. Data ini dinilai krusial untuk mengukur kekuatan pasar dan ekonomi Amerika Serikat, terutama setelah muncul tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja dalam beberapa bulan terakhir. Para ekonom yang disurvei oleh Dow Jones memperkirakan inflasi utama (headline CPI) akan naik 2,4% secara tahunan (year on year).

Advertisements

Selain pergerakan pasar saham, harga minyak juga mengalami volatilitas tajam sepanjang pekan ini. Pada hari Senin, harga minyak sempat melonjak mendekati US$120 per barel di tengah meningkatnya kekhawatiran terkait konflik di Iran. Namun, pada Selasa, harga minyak berbalik turun tajam, dipicu oleh harapan bahwa sejumlah negara akan mempertimbangkan pelepasan cadangan minyak darurat untuk menstabilkan pasokan global.

Pelemahan harga energi semakin kentara setelah insiden komunikasi yang membingungkan. Menteri Energi AS, Chris Wright, sempat menulis di unggahan media sosial yang kemudian dihapus, bahwa Angkatan Laut AS berhasil mengawal kapal tanker melalui Selat Hormuz. Namun, kemudian Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengklarifikasi bahwa AS sebenarnya tidak mengawal kapal tanker melalui jalur strategis tersebut.

Akibat dinamika tersebut, kontrak berjangka minyak West Texas Intermediate sempat anjlok hingga US$ 76,73 per barel, dan akhirnya ditutup merosot hampir 12% di level US$ 83,45 per barel. Sementara itu, minyak Brent crude juga turun lebih dari 11% dan ditutup pada level US$ 87,80 per barel. Meski demikian, Tom Lee memberikan pandangan berbeda, “Menurut saya, pasar sebenarnya menangani kenaikan harga minyak dengan cukup baik. Kami justru melihat harga minyak yang lebih tinggi bisa berdampak positif bagi pasar saham AS.”

Lee menambahkan bahwa S&P 500 masih mencatat kenaikan sekitar 0,6% sepanjang minggu ini, seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap konflik Iran. Kekhawatiran tersebut sedikit mereda setelah Presiden AS Donald Trump pada Senin memberi sinyal bahwa konflik tersebut berpotensi segera berakhir. Menariknya, sekitar 25 menit setelah penutupan perdagangan, kontrak berjangka minyak AS kembali melonjak pada perdagangan lanjutan. Kontrak West Texas Intermediate naik lebih dari 4% menjadi US$ 87,20 per barel setelah perdagangan dibuka kembali pada pukul 18.00 waktu setempat, menandakan volatilitas yang terus berlanjut di pasar komoditas.

Advertisements