
Kementerian Keuangan melaporkan adanya aliran modal masuk (inflow) yang signifikan ke instrumen portofolio di Indonesia. Hingga akhir pekan lalu, Jumat (6/3), tercatat inflow mencapai Rp 24,9 triliun sepanjang bulan ini. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa daya tarik investasi Indonesia tetap kuat, terbukti dengan masuknya modal asing di tengah gejolak global yang dipicu oleh konflik antara Iran dan Amerika Serikat-Israel.
Purbaya menambahkan dalam Konferensi Pers APBN Kita pada Rabu (11/3) bahwa tren positif ini berlanjut. Secara net, aliran modal asing pada bulan Maret saja telah mencapai inflow Rp 3,7 triliun, semakin memperkuat optimisme terhadap ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik.
Lebih lanjut, analisis Purbaya menunjukkan bahwa pada sepekan pertama bulan Maret, investor asing aktif mengakumulasi saham dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Masing-masing instrumen tersebut mencatat inflow sebesar Rp 2,2 triliun. Kendati demikian, Surat Berharga Negara (SBN) justru mengalami arus modal keluar sekitar Rp 700 miliar pada periode yang sama.
Melihat kinerja aliran modal asing sepanjang tahun ini secara kumulatif, Purbaya menyoroti bahwa hanya instrumen SRBI yang menikmati inflow substansial, mencapai Rp 36,2 triliun. Di sisi lain, investor asing mencatatkan aliran dana keluar dari SBN sebesar Rp 4,3 triliun dan dari instrumen saham senilai Rp 7,3 triliun, menunjukkan preferensi selektif di tengah volatilitas pasar.
Meskipun demikian, gambaran makroekonomi yang lebih luas dari Bank Indonesia (BI) sebelumnya menunjukkan tantangan. Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada tahun 2025 mencatatkan defisit signifikan sebesar US$ 7,84 miliar, menjadikannya kinerja terburuk dalam setidaknya dua dekade terakhir. Kondisi ini sangat kontras dengan tahun 2024 yang justru membukukan surplus sebesar US$ 7,2 miliar.
Laporan BI merinci bahwa defisit NPI pada tahun 2025 terutama disumbangkan oleh neraca transaksi modal dan finansial. Sektor ini mengalami defisit mencapai US$ 4,2 miliar pada tahun tersebut, sebuah pembalikan tajam dari surplus sebesar US$ 16,4 miliar yang tercatat pada tahun 2024. Sementara itu, neraca transaksi berjalan (current account) juga mencatat defisit sebesar US$ 1,5 miliar atau 0,1% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2025. Angka ini, meskipun masih menunjukkan defisit, merupakan perbaikan signifikan dibandingkan dengan defisit US$ 8,6 miliar atau 0,6% dari PDB pada tahun 2024.