Bahlil: 2 kargo impor minyak mentah dari Singapura sempat tak jadi dikirim ke RI

Dalam sebuah pernyataan yang mengejutkan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, baru-baru ini mengungkap insiden genting terkait pasokan energi nasional. Dua kargo minyak yang telah dibeli Pertamina melalui tender dari Singapura, tiga hari sebelumnya, mendadak tidak jadi dikirimkan ke Indonesia.

Advertisements

Ironisnya, muatan minyak mentah tersebut bahkan sempat berlayar dan hampir merapat ke perairan Indonesia, sebelum akhirnya diperintahkan untuk kembali ke Singapura. “Sudah mau masuk laut Indonesia kemudian dua kargo disuruh kembali. Jadi sekarang kalau urusan minyak, hukum normal sudah tidak berlaku,” tegas Bahlil dalam Pengantar Sidang Kabinet Paripurna yang dipantau secara daring melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (13/3).

Menurut Bahlil, insiden ini merupakan refleksi langsung dari kondisi pasokan minyak global yang tengah terganggu secara signifikan. Imbasnya, komoditas vital seperti minyak kini menjadi barang yang semakin sulit dan langka untuk didapatkan di pasar internasional.

Menanggapi situasi krusial ini, pemerintah bersama Pertamina segera berkoordinasi intensif dan melayangkan protes keras kepada pihak terkait. Bahlil menegaskan bahwa jika protes tersebut tidak membuahkan hasil, pemerintah awalnya berencana untuk mengajukan gugatan hukum. Beruntungnya, permasalahan ini menemukan titik terang. Bahlil menyampaikan bahwa dua kargo minyak tersebut dijadwalkan akan dikirimkan kembali ke Indonesia pada Tanggal 18 Maret 2026.

Advertisements

Meski demikian, Bahlil memberikan jaminan bahwa pasokan energi nasional, khususnya bahan bakar minyak (BBM), minyak mentah, dan LPG, menjelang perayaan Idulfitri tetap dalam kondisi aman dan terkendali.

Insiden di Singapura hanyalah satu dari sekian tantangan di tengah volatilitas pasar energi global. Indonesia sendiri diketahui mengimpor sekitar 20% kebutuhan minyak mentah atau crude dari kawasan Timur Tengah. Selain itu, pasokan impor juga diperoleh dari berbagai negara lain seperti Angola, Nigeria, Brasil, Amerika Serikat, dan Malaysia, sebagai diversifikasi sumber.

Alihkan Impor

Sebagai langkah strategis jangka panjang, pemerintah sebelumnya juga telah mengumumkan skema pengalihan porsi impor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah. Keputusan vital ini diambil menyusul penutupan Selat Hormuz oleh Iran, sebagai imbas dari konflik geopolitik antara Teheran, Israel, dan Amerika Serikat yang memanas.

Selat Hormuz, yang merupakan jalur maritim strategis, dikenal sebagai rute pengiriman minyak yang krusial dari negara-negara penghasil minyak di Timur Tengah menuju pasar global. Oleh karena itu, “Kami alihkan sebagian porsi impor crude dari Timur Tengah ke Amerika Serikat. Supaya ada kepastian ketersediaan crude,” terang Bahlil dalam sebuah konferensi pers di kantornya, Selasa (3/3).

Menurut Bahlil, langkah pengalihan impor ini mutlak diperlukan oleh Indonesia, mengingat ketidakpastian global dalam memprediksi kapan konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat ini akan berakhir. Ini adalah strategi untuk menjaga stabilitas dan keamanan pasokan energi nasional di tengah gejolak geopolitik dunia.

Advertisements