BI gelar Pusaka Jateng untuk gali sumber ekonomi baru

Babaumma  SEMARANG – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Jawa Tengah membuka rangkaian Road to Forum Perumusan Analisis dan Rekomendasi Kebijakan Jawa Tengah (Pusaka Jateng) 2026 pada 11 Maret 2026. Langkah ini diambil untuk memetakan sumber pertumbuhan ekonomi baru di tengah dinamika ketidakpastian global yang kian meningkat.

Advertisements

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah M. Noor Nugroho menyampaikan bahwa forum ini merupakan wadah kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha. Fokus utamanya adalah menghasilkan solusi aplikatif melalui kompetisi karya tulis ilmiah (call for paper) yang menyasar isu-isu strategis di Jawa Tengah.

“Forum Pusaka Jateng ini merupakan forum diskusi. Bentuknya adalah call for paper yang membahas tentang berbagai perkembangan ekonomi terkini, dampak isu strategis terhadap perekonomian Jawa Tengah, serta pada akhirnya nanti kita ingin merumuskan rekomendasi kebijakan untuk mengatasi berbagai isu strategis tersebut,” ujar Nugroho.

Berdasarkan data makroekonomi, Jawa Tengah mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,37% pada 2025. Capaian ini didorong oleh sektor investasi yang solid serta kinerja industri pengolahan yang terjaga. Kendati demikian, tantangan besar membayangi pada tahun 2026, terutama terkait risiko geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu jalur distribusi global.

Advertisements

Nugroho mencermati bahwa ketegangan antara Iran, Amerika, dan Israel dapat memicu lonjakan biaya distribusi dan inflasi. “Adanya ketegangan geopolitik inilah yang akan menjadikan faktor risiko yang bisa menjadikan pertumbuhan mungkin tidak tercapai 3,3% baik di 2026 ataupun 2027. Jika terjadi pemblokiran di Selat Hormuz, kemungkinan ini akan meningkatkan biaya distribusi dan akhirnya inflasi serta pertumbuhan kita yang akan suffer,” tambahnya.

Dalam menghadapi tantangan tersebut, KPw BI Jawa Tengah mengidentifikasi sektor pariwisata sebagai motor penggerak baru yang memiliki efek pengganda (multiplier effect) besar. Data menunjukkan bahwa sektor akomodasi, makan, dan minum tumbuh melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi daerah. Namun, optimalisasi masih diperlukan karena kunjungan wisatawan mancanegara saat ini masih terkonsentrasi di Borobudur dan Prambanan.

Selain pariwisata, pengembangan ekosistem halal dan industri hijau menjadi prioritas dalam RPJMD Provinsi Jawa Tengah 2025-2029. Digitalisasi sistem pembayaran juga terus didorong untuk meningkatkan kecepatan perputaran uang. Langkah-langkah ini diharapkan dapat menjaga momentum pertumbuhan Jawa Tengah di angka 5,1% hingga 5,9% pada sepanjang tahun 2026.

“Presiden Prabowo telah mentargetkan pertumbuhan ekonomi 8% di tahun 2029. Ini berusaha dicapai dengan Astacita, sesuatu yang ambisius, tapi mungkin bisa dicapai dengan ekstra effort yang luar biasa. Melalui call for paper ini, kami ingin menggali ide spesifik apa yang harus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan tersebut,” pungkas Nugroho.

Melalui sinergi antara Bank Indonesia, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), Forum Pusaka Jateng 2026 diharapkan mampu mentransformasi hasil riset menjadi kebijakan nyata.

Advertisements