Cina di antara dua tawaran: Yuan untuk migas atau jaga Hormuz bersama AS

Dua pekan berlalu, ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran masih memanas di panggung global. Kedua belah pihak terus saling melancarkan serangan dan ancaman, menciptakan suasana yang tidak menentu. Di tengah pusaran konflik geopolitik ini, posisi strategis Cina menjadi sorotan utama, dengan kedua kubu secara implisit atau eksplisit mencari dukungannya.

Advertisements

Dalam sebuah langkah signifikan yang dapat mengubah lanskap perdagangan minyak global, Iran dikabarkan sedang mempertimbangkan kebijakan baru terkait lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz. Syarat baru tersebut adalah transaksi muatan minyak yang harus menggunakan mata uang yuan Cina. Informasi krusial ini diungkapkan oleh seorang pejabat senior Iran kepada CNN pada Jumat (13/3) pekan lalu. Kebijakan ini merupakan perubahan drastis mengingat selama ini sebagian besar perdagangan minyak global didominasi oleh dolar AS, kecuali untuk minyak Rusia yang berada di bawah sanksi Barat, yang sering kali menggunakan rubel atau yuan. Tawaran Iran ini selaras dengan ambisi jangka panjang Cina untuk memperluas pengaruh yuan dalam perdagangan global, terutama di sektor energi.

Tidak lama setelah kabar tersebut beredar, Presiden AS Donald Trump membuat pernyataan tertulis yang mengklaim telah melumpuhkan kekuatan militer Iran. Dalam pernyataannya, Trump secara mengejutkan meminta dukungan dari Cina dan negara-negara lain untuk membantu menjaga keamanan lalu lintas di Selat Hormuz dari potensi serangan militer Iran yang tersisa. Permintaan ini menarik perhatian dunia, bukan hanya karena muncul di tengah “tawaran” Iran untuk mengadopsi yuan, tetapi juga mengingat riwayat Trump yang sering kali mengancam Cina dengan berbagai kebijakan dagang restriktif. Bahkan, ancaman Trump tidak hanya ditujukan kepada Cina, tetapi juga kepada berbagai mitra dagangnya, termasuk sekutu-sekutunya di Eropa dan Asia.

Melalui unggahan di Truth Social pada Sabtu (14/3), Donald Trump secara spesifik menyampaikan harapannya: “Saya berharap Cina, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan negara-negara lain yang terdampak pembatasan ini akan mengirim kapal ke kawasan tersebut, sehingga Selat Hormuz tidak lagi menjadi bahan ancaman dari sebuah negara yang telah sepenuhnya dilumpuhkan.” Seruan ini menegaskan betapa pentingnya peran Cina dalam dinamika keamanan maritim Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak paling vital di dunia.

Advertisements

Menanggapi situasi yang kompleks ini, media South China Morning Post melaporkan bahwa para pengamat di Cina menyarankan pemerintah untuk bersikap hati-hati dalam merespons tawaran Iran. Mereka mengakui bahwa kebijakan penggunaan yuan memang dapat menjadi simbol penguatan peran mata uang Cina dalam perdagangan energi global. Namun, di sisi lain, implementasi kebijakan tersebut berpotensi besar menghadapi kendala operasional yang signifikan serta risiko keamanan yang tidak dapat diabaikan. Lebih jauh lagi, langkah semacam itu dikhawatirkan dapat memperburuk ketegangan hubungan antara Cina dan AS yang sudah ada.

Hingga saat ini, pemerintah Cina menunjukkan sikap yang sangat hati-hati terhadap “tawaran” yang datang, sembari mengisyaratkan keinginan kuat untuk terciptanya perdamaian. Dikutip dari South China Morning Post, Juru Bicara Kedutaan Besar Cina di Washington D.C., Liu Pengyu, menegaskan bahwa semua pihak memiliki tanggung jawab kolektif untuk memastikan pasokan energi global tetap terjaga. Ia lebih lanjut menyatakan komitmen Cina untuk “memainkan peran konstruktif” dalam upaya meredakan ketegangan dan memulihkan stabilitas serta perdamaian di kawasan tersebut.

Advertisements