Dua belas negara Arab dan Muslim telah mengeluarkan pernyataan bersama yang mendesak Iran untuk segera menghentikan serangannya di kawasan, menegaskan bahwa tindakan tersebut mengancam stabilitas regional yang krusial.
Pernyataan penting ini merupakan hasil dari pertemuan para menteri luar negeri dari Azerbaijan, Bahrain, Mesir, Yordania, Kuwait, Lebanon, Pakistan, Qatar, Arab Saudi, Suriah, Turki, dan Uni Emirat Arab.
Para menteri dengan tegas mengecam serangan Iran yang menargetkan area permukiman dan infrastruktur sipil vital. Target-target tersebut meliputi fasilitas minyak, instalasi desalinasi, bandara, bangunan tempat tinggal, bahkan gedung-gedung diplomatik. Mereka menegaskan bahwa serangan semacam ini tidak dapat dibenarkan dengan alasan atau dalih apa pun.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis oleh Kementerian Luar Negeri Turki pada Jumat (20/3), para menteri juga menekankan hak setiap negara untuk membela diri, sejalan dengan Pasal 51 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Guna meredakan eskalasi dan menjaga stabilitas kawasan, para menteri mendesak Iran untuk mematuhi secara penuh hukum internasional dan hukum kemanusiaan internasional. Kepatuhan ini dinilai krusial untuk mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi yang konstruktif.
Lebih lanjut, masa depan hubungan antara negara-negara ini dengan Iran digarisbawahi sangat bergantung pada komitmen Teheran. Komitmen tersebut mencakup penghormatan terhadap kedaulatan negara lain, penolakan campur tangan dalam urusan domestik, serta tidak menggunakan kekuatan militer untuk mengancam negara-negara tetangga di kawasan.
Para negara juga mendesak Iran untuk mematuhi Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2817 Tahun 2026, yang secara eksplisit menyerukan penghentian segera seluruh serangan dan tindakan provokatif terhadap negara-negara tetangga. Selain itu, Iran diminta untuk mengakhiri segala bentuk dukungan terhadap kelompok milisi di negara-negara Arab, baik dalam bentuk pendanaan maupun persenjataan.
Permintaan lain yang krusial adalah agar Iran tidak mengganggu jalur pelayaran internasional, terutama di Selat Hormuz dan Bab al-Mandab, yang merupakan rute vital bagi perdagangan global dan pasokan energi dunia.
Turut Mengecam Serangan Israel di Lebanon
Dalam konteks yang sama, pernyataan bersama tersebut juga menegaskan dukungan penuh terhadap stabilitas dan kedaulatan Lebanon, termasuk pentingnya penguatan kontrol negara atas seluruh wilayahnya. Para menteri turut mengecam keras tindakan Israel di Lebanon serta kebijakan ekspansionisnya yang mengancam perdamaian di kawasan.
Pertemuan para menteri ini diselenggarakan menyusul serangkaian eskalasi konflik yang melibatkan Iran dengan Israel dan Amerika Serikat. Sebelumnya, Israel telah melancarkan serangan terhadap ladang gas South Pars milik Iran. Aksi tersebut memicu serangan balasan dari Iran yang menyasar infrastruktur energi penting di Qatar dan Arab Saudi, termasuk kawasan industri Ras Laffan di Doha, yang merupakan fasilitas produksi LNG terbesar di dunia.
Dampak langsung dari eskalasi ini terlihat jelas pada pasar komoditas global; harga minyak melonjak tajam. Minyak mentah Brent naik mencapai US$ 114,08 per barel, sementara minyak mentah acuan AS, West Texas Intermediate, meningkat signifikan menjadi US$ 97,41 per barel.
Menyikapi situasi ini, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Israel akan menghentikan serangan lanjutan terhadap ladang gas South Pars milik Iran, dengan syarat Teheran tidak meningkatkan eskalasi. Ia juga memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan merespons dengan kekuatan besar apabila fasilitas LNG Qatar kembali menjadi target serangan.
Melalui platform Truth Social, Trump bahkan mengeluarkan ancaman keras: “Amerika Serikat, dengan atau tanpa bantuan atau persetujuan Israel, akan menghancurkan seluruh Ladang Gas South Pars dengan kekuatan dan daya yang belum pernah dilihat atau disaksikan Iran sebelumnya.”