Asing balik net buy usai Lebaran, saham ASII hingga BMRI topang IHSG naik 2,75%

Pada penutupan perdagangan Rabu (25/3), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menorehkan kinerja impresif dengan melesat 2,75%, mencapai level 7.302,12. Reli signifikan ini didorong oleh aksi beli agresif dari investor asing serta penguatan solid pada saham-saham berkapitalisasi besar atau big caps.

Advertisements

Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, investor asing membukukan pembelian bersih (net buy) sebesar Rp 102,8 miliar pada hari itu, menandakan optimisme jangka pendek yang kembali muncul. Namun, perlu dicatat bahwa secara kumulatif dari awal tahun (year to date/YTD), investor asing masih mencatatkan penjualan bersih yang cukup besar, mencapai Rp 8,4 triliun, mengindikasikan tekanan jual jangka panjang masih membayangi.

Lonjakan IHSG pada hari tersebut juga diiringi oleh aktivitas transaksi yang sangat ramai dan likuid di pasar modal. Total nilai perdagangan mencapai angka fantastis Rp 25,89 triliun, dengan volume mencapai 36,35 miliar saham yang berpindah tangan. Frekuensi transaksi pun tercatat tinggi, melampaui 2,1 juta kali, menunjukkan antusiasme pelaku pasar.

Secara sektoral, penguatan indeks secara mayoritas ditopang oleh kinerja gemilang dari sektor energi yang melonjak 5,15% dan sektor industri yang melesat 5,98%. Sementara itu, sektor keuangan, yang dikenal memiliki bobot signifikan dalam pembentukan indeks, hanya mampu membukukan kenaikan terbatas sebesar 0,71%, menunjukkan adanya variasi performa di antara sektor-sektor utama.

Advertisements

Saham-Saham Berkapitalisasi Besar Menjadi Penggerak Utama

Terbukti, kenaikan IHSG pada perdagangan ini sebagian besar memang digerakkan oleh saham-saham unggulan berkapitalisasi pasar jumbo, atau yang akrab disebut big caps. Di antara deretan saham-saham tersebut, PT Astra International Tbk (ASII) tampil sebagai kontributor terbesar, menyumbangkan 32,76 poin bagi pergerakan indeks.

Tidak hanya ASII, beberapa saham big caps lain juga memberikan dorongan signifikan. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) berkontribusi sebesar 26,30 poin, diikuti oleh PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan sumbangan 18,64 poin, dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan 11,84 poin. Selanjutnya, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menambah 11,23 poin, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turut menyokong 9,43 poin, mengukuhkan dominasi saham-saham besar dalam mendongkrak IHSG.

Namun, di tengah euforia penguatan, tekanan terhadap indeks saham datang dari PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Saham ini menjadi laggard utama dengan penurunan tajam sebesar 7,97%, yang pada akhirnya menggerus IHSG sebesar 11,42 poin.

Beralih ke sisi likuiditas, saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi primadona dengan volume perdagangan tertinggi, mencapai 10,05 miliar saham atau sekitar 27,65% dari total transaksi hari itu. Di belakang GOTO, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) juga mencatat volume yang substansial sebesar 5,01 miliar saham, diikuti oleh PT ZATA dengan 2,4 miliar saham.

Sementara itu, jika dilihat dari nilai transaksinya, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) memuncaki daftar dengan total nilai perdagangan mencapai Rp 3,53 triliun. Saham-saham perbankan big caps seperti BBCA (Rp 2,20 triliun), BMRI (Rp 2,12 triliun), dan BBRI (Rp 1,41 triliun) juga menunjukkan nilai transaksi yang sangat besar, menggarisbawahi daya tarik investor terhadap sektor keuangan.

Tingginya aktivitas perdagangan saham juga tercermin dari frekuensi transaksi. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatatkan frekuensi transaksi terbanyak dengan 88.834 kali, menunjukkan tingginya minat beli dan jual pada saham tersebut. Disusul oleh BBRI dan ZATA yang juga mencatat frekuensi transaksi yang ramai.

Pasar Mulai Rebound, Namun Tekanan Investor Asing Masih Menjadi Perhatian

Kenaikan signifikan pada IHSG ini memberikan secercah harapan, mencerminkan sinyal awal adanya rebound setelah serangkaian tekanan yang dialami pasar dalam beberapa waktu terakhir. Meskipun demikian, secara akumulatif, pergerakan arus dana investor asing masih menunjukkan tren keluar dari pasar modal domestik, menciptakan dinamika yang kompleks.

Secara year to date (YTD), IHSG memang masih terkoreksi cukup dalam, mencapai 15,55%. Koreksi ini tidak terlepas dari pengaruh tekanan global dan sentimen eksternal yang terus membayangi pasar keuangan domestik. Kendati demikian, masuknya kembali dana asing, meskipun dalam skala terbatas, serta penguatan impresif dari saham-saham big caps, dapat diartikan sebagai sinyal awal potensi stabilisasi pasar dalam jangka pendek.

Menyikapi kondisi ini, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memberikan pandangannya. Ia mengungkapkan bahwa pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 berpotensi mencapai 5,5% hingga 5,7%, sebuah estimasi yang ditopang kuat oleh peningkatan konsumsi masyarakat selama periode Ramadan dan Lebaran.

Di kancah global, Nafan juga menyoroti kenaikan indeks-indeks dunia yang dipicu oleh sentimen positif dari laporan mengenai rencana 15 poin yang diajukan Amerika Serikat kepada Iran untuk mengakhiri konflik di kawasan tersebut. Hal ini secara signifikan meningkatkan harapan akan terjadinya gencatan senjata dan meredakan ketegangan geopolitik.

Namun, Nafan menambahkan bahwa Iran sendiri telah menetapkan standar yang tinggi untuk negosiasi tersebut, termasuk tuntutan jaminan internasional atas haknya untuk menjalankan otoritas penuh atas Selat Hormuz. Kondisi ini tentunya akan menjadi faktor krusial yang perlu diperhatikan dalam perkembangan stabilitas global.

Meskipun demikian, Nafan optimistis bahwa konflik geopolitik, termasuk yang terjadi di kawasan Timur Tengah, sejauh ini masih dapat diredam oleh upaya pemerintah. Langkah proaktif pemerintah dalam menjaga stabilitas subsidi energi dinilai efektif untuk melindungi masyarakat dari gejolak harga global yang dapat berdampak langsung.

Advertisements