
Gejolak harga dan pasokan bahan bakar minyak (BBM) yang tak menentu di pasar global telah mendorong masyarakat mencari alternatif mobilitas, dengan kendaraan listrik sebagai pilihan utama. Fenomena peningkatan penjualan mobil listrik ini kini meluas dari Eropa hingga Asia, terutama pada segmen mobil listrik bekas.
Data dari berbagai platform jual beli menunjukkan adanya peningkatan minat yang signifikan. Di Norwegia, misalnya, situs jual beli mobil bekas terkemuka, Finn.no, melaporkan bahwa mobil listrik kini lebih diminati dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil.
“Telah terjadi lonjakan luar biasa pada permintaan mobil listrik di pasar mobil bekas,” ujar Analis Finn.no, Terje Dahlgren, seperti dikutip Reuters.
Fenomena serupa juga terjadi di Prancis. Perusahaan jual beli mobil daring Aramisauto menyaksikan pangsa penjualan kendaraan listrik hampir mencapai dua kali lipat, dari 6,5 persen menjadi 12,7 persen dari total transaksi mereka.
“Kami melihat peningkatan minat yang sangat signifikan di situs web kami, yang berujung pada pemesanan kendaraan listrik dan hibrida,” kata CEO Aramisauto, Romain Boscher.
Lonjakan minat ini tidak lepas dari gejolak geopolitik global. Merujuk pada data Komisi Eropa, konflik antara Israel-AS dengan Iran yang meletus pada akhir Februari lalu, telah memicu lonjakan harga bensin di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Per 16 Maret, rata-rata harga bensin mencapai 1,84 euro atau sekitar Rp35.955 per liter, naik 12 persen dibandingkan sebelum perang. Situasi ini mengingatkan pada kondisi tahun 2022, ketika invasi Rusia ke Ukraina dimulai, yang kala itu sempat melambungkan harga bensin hingga menembus 2 euro per liter.
Dampak kenaikan harga BBM ini memicu gelombang permintaan mobil listrik bekas di negara-negara Eropa lainnya, seperti Swedia, Denmark, dan Jerman. Situs jual beli mobil bekas Olx juga melaporkan lonjakan permintaan mobil listrik yang signifikan di seluruh pasar mereka, termasuk Prancis (50%), Rumania (40%), Portugal (54%), dan Polandia (39%).
CEO Olx, Christian Gisy, menjelaskan bahwa minat terhadap kendaraan listrik memang telah tumbuh sebelum konflik Iran-AS, namun gejolak energi global yang kian tak stabil tampaknya menjadi katalisator kuat yang semakin mendorong tren ini. Peningkatan penjualan juga disokong oleh kehadiran sertifikat kesehatan baterai yang efektif meredakan kekhawatiran pembeli akan kondisi mobil listrik bekas.
Lebih Hemat dan Siap untuk Digunakan
Beralih ke mobil listrik bekas menawarkan solusi praktis dan ekonomis bagi sebagian masyarakat. Kendaraan ini dapat dibeli dengan harga hingga 40 persen lebih murah daripada mobil listrik baru. Selain itu, mobil listrik bekas umumnya siap pakai, tidak seperti model baru yang pengirimannya seringkali memakan waktu berbulan-bulan.
“Mengingat jangka waktu pembelian kendaraan, kami memperkirakan momentum ini akan berlanjut seiring pasar mobil sepenuhnya menyerap dampak dari peristiwa global baru-baru ini,” kata Alastair Campbell, Vice President of Growth di perusahaan data otomotif Inggris Marketcheck.
Geliat Pasar Meluas ke Amerika dan Asia
Tidak hanya di Eropa, gelombang minat terhadap pembelian mobil listrik bekas juga dilaporkan melanda Amerika Serikat dan negara-negara Asia Tenggara.
Mengutip Bloomberg, pasar mobil listrik di Amerika sempat mengalami kelesuan, dengan beberapa produsen mobil bahkan mempertimbangkan kembali strategi bisnis mereka seiring kebijakan pemerintah yang cenderung mendukung energi fosil. Namun, keadaan berbalik drastis saat harga minyak melonjak tajam akibat perang.
Beberapa dealer di AS mengonfirmasi lonjakan permintaan janji temu untuk melihat mobil listrik bekas. Dengan kondisi yang masih prima, mobil listrik bekas dapat dibanderol kurang dari $30.000 atau di bawah Rp500 juta.
Sementara itu, di Asia Tenggara, antusiasme terlihat jelas dengan membanjirnya konsumen ke toko-toko kendaraan listrik raksasa asal Cina, BYD Co. Mengutip The Japan Times, dealer mobil BYD di Manila bahkan telah menerima pesanan senilai satu bulan dalam dua minggu terakhir.
Di Vietnam, salah satu showroom VinFast melaporkan peningkatan kunjungan pelanggan hingga empat kali lipat, dan berhasil menjual 250 unit kendaraan listrik dalam kurun waktu tiga minggu setelah konflik meletus. Angka ini berarti sekitar 80 unit terjual per minggu, atau sekitar dua kali lipat dari rata-rata penjualan tahun 2025.