
National Maritime Institute atau Namarin mengungkapkan pemerintah pernah menolak kapal perang Iran masuk ke Indonesia. Peristiwa itu terjadi pada Februari tahun lalu dalam rangka Multilateral Naval Exercise Komodo (MNEK) ke-5 di Bali.
Direktur Namarin Siswanto Rusdi menyebutkan awalnya pemerintah mengundang Iran mengikuti Exercise Komodo atau latihan militer non-perang dalam rangka MNEK di Bali. Iran kemudian menyambut undangan dengan mengirimkan dua kapal perang yakni IRIS Dena dan IRIS Shahid Mahdavi.
Kedua kapal ini berangkat dari Bandar Abbas, Iran setelah menerima telegram izin masuk Indonesia dari Mabes TNI AL dan Kemen Pertahanan. Namun, saat kedua kapal perang Iran dalam perjalanan, pemerintah Indonesia mengirimkan pembatalan undangan dua kali kepada kedua kapal tersebut.
Siswanto mendapatkan informasi ini dari Atase Pertahanan Iran untuk Indonesia Kolonel Mohammad Reza Movahhed. Atase menyatakan kekecewaan terkait pencabutan izin tersebut saat Exercise Komodo. Sebab, menurutnya, Indonesia tidak menjalankan prinsip politik luar negeri non-blok saat itu.
“Iran sangat marah, sangat kecewa terhadap perlakuan Indonesia,” kata Siswanto kepada Katadata, Jumat (27/3).
Siswanto mendapatkan informasi ini dari seorang atase pertahanan yang hadir dalam pertemuan MNEK. “Atase pertahanan Iran menceritakan kepada saya ketika kami berjumpa di acara MNEK di Bali,” kata Siswanto.
Siswanto menyebut pembatalan masuknya kapal perang Iran itu dua kali. Pembatalan pertama dicabut karena kedua kapal perang Iran telah setengah jalan tiba di dalam negeri. Namun, muncul pembatalan kedua sesaat sebelum dua kapal perang Iran masuk perairan Indonesia.
Siswanto menduga terdapat tekanan terhadap pemerintah Indonesia. “Ada tekanan dari Amerika Serikat untuk tidak membolehkan kapal Iran terlibat dalam Exercise Komodo. Kalau dibiarkan ikut, Amerika akan angkat kaki bersama sekutunya dari latihan gabungan,” kata Siswanto.
Katadata berupaka mengkonfirmasi keterangan ini kepada Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Mayjen Aulia Dwi Nasrullah, tapi belum mendapatkan respons.
Berdasarkan penelusuran Katadata, TNI AL pernah mengumumkan 56 negara yang diundang untuk latihan bersama MNEK Ke-5 di Bali. Iran merupakan salah satu negara yang masuk dalam daftar undangan.
Kemudian, saat berlangsungnya MNEK ke-5, TNI AL mengumumkan sebanyak 38 negara berpartisipasi dalam latihan non-perang di MNEK ke-5. Namun, Iran tak masuk dalam daftar tersebut.
Hingga saat ini, pemerintah Iran belum memberikan izin kapal tanker Indonesia melewati Selat Hormuz. Padahal, Iran telah memberikan izin kepada 10 kapal tanker melewati Selat Hormuz, termasuk negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand. Selain itu terdapat Cina, Rusia, Pakistan, Irak, India, dan Bangladesh.
“Bagi beberapa negara ini yang kami pertimbangkan berkawan, pasukan kami telah memberikan jalan yang aman. Ini akan berlanjut di masa depan, bahkan setelah perang,” kata Menlu Iran Abbas Araghchi.