Benarkah bitcoin ungguli emas-saham di tengah gejolak global?

Jakarta, IDN Times – Eskalasi konflik yang kian memanas di Timur Tengah kembali menciptakan gelombang ketidakpastian di pasar keuangan global. Akibatnya, pasar modal di berbagai belahan dunia, termasuk di Tanah Air, kini tertekan hebat.

Advertisements

Data dari IDX Mobile menunjukkan bahwa selama satu bulan terakhir, di tengah peningkatan ketegangan antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah melemah signifikan hingga 1.114,24 poin atau 13,57 persen. Menjelang akhir pekan ini, IHSG kembali terkoreksi 67,03 poin atau 0,94 persen, ditutup pada level 7.097,06. Sentimen negatif ini juga tercermin di pasar global, dengan indeks S&P 500 yang terkoreksi sekitar 4 persen.

1. Harga emas terkoreksi 16 persen

Dampak gejolak ini turut terasa di pasar komoditas. Harga emas di pasar spot mengalami koreksi tajam hingga 16 persen, mencatatkan penurunan terbesar sejak tahun 1983, dengan menyentuh level sekitar 4.400 dolar AS per troy ounce (toz). Penurunan ini juga melanda pasar domestik, terlihat dari harga emas logam mulia Antam yang terus menunjukkan tren pelemahan. Pada hari Jumat, 27 Maret 2026, harga emas Antam turun Rp40 ribu menjadi Rp2,81 juta per gram.

Advertisements

Menurut Greg Shearer, Kepala Strategi Logam JPMorgan, penurunan harga emas ini dipicu oleh aksi sell-off masif yang terjadi di tengah lonjakan harga minyak. Konflik di Timur Tengah secara inheren meningkatkan kekhawatiran inflasi global, mendorong investor untuk merealokasi asetnya. Tekanan terhadap emas semakin diperparah oleh penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi, yang secara kolektif membuat emas kurang menarik dibandingkan aset-aset yang memberikan keuntungan rutin.

Pergeseran ini berpotensi mengubah pola pembelian emas oleh bank sentral, yang sebelumnya menjadi penopang utama harga. Selain itu, ketegangan di Timur Tengah juga berdampak pada jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz. Gangguan ini memicu kenaikan risiko inflasi akibat lonjakan harga minyak dunia. Kondisi tersebut mendorong ekspektasi bahwa Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Dalam skenario ini, emas, sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil rutin, cenderung kehilangan daya tarik, terutama bagi para investor institusional yang mencari keuntungan dari instrumen berimbal hasil.

2. Bitcoin melonjak 12 persen

Di tengah tekanan yang melanda pasar saham dan emas, pasar aset digital justru menunjukkan dinamika yang berbeda. Menurut data Indodax, Bitcoin memperlihatkan ketahanan luar biasa dengan kenaikan sekitar 12 persen dalam 60 hari terakhir, dan diperdagangkan di kisaran 70 ribu dolar AS hingga 71 ribu dolar AS per Selasa, 24 Maret. Kinerja kontras ini mendorong meningkatnya perhatian investor terhadap Bitcoin sebagai alternatif lindung nilai yang potensial di tengah gejolak pasar keuangan. Dengan demikian, fakta bahwa Bitcoin justru menguat di saat pasar saham dan emas melemah akibat gejolak global adalah sebuah kenyataan yang patut dicermati.

3. Hal yang harus dilakukan saat ada dinamika global

Menanggapi dinamika pasar yang unik ini, Vice President Indodax, Antony Kusuma, menjelaskan bahwa kinerja kuat Bitcoin di tengah krisis bukanlah fenomena baru, melainkan pola yang telah berulang. Ia menyoroti peristiwa-peristiwa seperti krisis pandemi COVID-19, ketegangan AS-Iran pada tahun 2020, hingga konflik Rusia-Ukraina, di mana Bitcoin menunjukkan ketahanannya.

“Karakteristik Bitcoin yang terdesentralisasi, kemampuan diperdagangkan 24 jam tanpa henti, serta tidak bergantung pada sistem perbankan konvensional menjadikannya sangat relevan di tengah terganggunya stabilitas sistem keuangan akibat konflik geopolitik. Hal ini membuat Bitcoin memiliki fungsi praktis sekaligus potensi signifikan sebagai alternatif lindung nilai bagi para investor,” terang Antony.

Meskipun demikian, Antony juga mengingatkan bahwa pasar kripto masih berada dalam fase volatil dengan sentimen yang cenderung berhati-hati. Faktor makroekonomi seperti inflasi dan kebijakan suku bunga oleh bank sentral global diperkirakan masih akan menjadi penentu utama arah pergerakan harga aset digital ke depan. Oleh karena itu, investor disarankan untuk senantiasa memperhatikan manajemen risiko yang prudent dan memahami dinamika pasar secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan investasi.

Advertisements