Laba anjlok jadi Rp 40 miliar, rasio utang WIKA Beton membaik pada 2025

PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) melaporkan penurunan laba bersih yang signifikan sepanjang tahun 2025, mencapai Rp 40,02 miliar. Angka ini merefleksikan penurunan sebesar 38% dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang mencapai Rp 65 miliar. Penurunan laba bersih ini sejalan dengan pendapatan usaha perusahaan yang juga terkoreksi, dari sebelumnya Rp 4,9 triliun menjadi Rp 3,59 triliun.

Advertisements

Meskipun menghadapi tantangan dalam performa keuangan, WIKA Beton berhasil mengamankan omzet kontrak baru yang menjanjikan, senilai Rp 4 triliun hingga akhir tahun 2025. Pencapaian ini, sebagaimana tertuang dalam laporan kinerja tahunan, didorong oleh strategi diversifikasi portofolio yang matang. Sektor infrastruktur menjadi kontributor utama dengan dominasi sebesar 55,53%, diikuti oleh sektor industri yang menyumbang 17,19%. Selain itu, sektor kelistrikan berkontribusi 11,17%, sementara sektor pendukung lainnya mengisi 16,11% dari total perolehan kontrak.

Jika dicermati lebih lanjut, komposisi pelanggan WIKA Beton didominasi oleh entitas swasta, menyumbang porsi mencapai 54,86% dari keseluruhan kontrak. Sementara itu, kontribusi dari badan usaha milik negara (BUMN) tercatat sebesar 21,65%. Kemitraan strategis melalui skema Kerja Sama Operasi (KSO) atau Joint Operation (JO) juga memberikan kontribusi substansial sebesar 18,32%, dengan sisanya 5,17% berasal dari serapan internal induk usaha.

Dari sisi neraca keuangan, WIKA Beton menunjukkan langkah strategis melalui aksi deleveraging yang berhasil. Perusahaan sukses menurunkan total liabilitas sebesar 25,76%, dari Rp 3,5 triliun pada tahun 2024 menjadi Rp 2,60 triliun pada akhir tahun 2025. Penurunan signifikan ini utamanya dipicu oleh pelunasan sebagian utang usaha senilai Rp 548,64 miliar dan pengurangan utang jangka panjang sebesar Rp 134,32 miliar.

Advertisements

Perbaikan struktur modal juga menjadi fokus utama perseroan, tercermin dari penurunan rasio utang terhadap ekuitas atau Debt to Equity Ratio (DER). Rasio ini berhasil ditekan dari 95,15% menjadi 70,66% pada akhir tahun 2025. Selain itu, tingkat likuiditas perusahaan juga menunjukkan perbaikan yang menggembirakan, ditandai dengan kenaikan current ratio ke level 130,42%, menandakan kesehatan finansial yang semakin solid.

Salah satu proyek strategis yang turut menopang kinerja WIKA Beton pada periode tersebut adalah pekerjaan Railway Systems dan Trackwork pada MRT Jakarta Fase 2A. Dalam proyek vital ini, perseroan menjalin kemitraan strategis dengan Larsen & Toubro Limited untuk mendukung kontraktor utama, Sojitz Corporation Ltd. Kemitraan ini berfokus pada pengerjaan proyek Trackwork Paket CP205 yang bernilai Rp 409 miliar.

Kontribusi WTON dalam proyek tersebut sangat beragam, meliputi penyediaan bantalan jalan rel (BJR), produksi beton siap pakai, instalasi jalur kereta, instalasi gardu induk, sistem distribusi tenaga listrik, pemasangan sistem Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA), hingga instalasi kabel tegangan tinggi bawah tanah 150 kV. Ini menunjukkan kapabilitas WIKA Beton dalam menangani pekerjaan kompleks yang membutuhkan keahlian teknis tinggi.

Per Desember 2025, progres pembangunan MRT Jakarta Fase 2A telah mencapai 55,89%, melampaui target awal sebesar 53,29%. Sementara itu, progres khusus untuk Paket CP205 yang digarap WIKA Beton tercatat sebesar 31,48%, menunjukkan kemajuan yang terencana.

Proyek MRT Jakarta Fase 2A membentang sepanjang 5,8 km, menghubungkan Stasiun Bundaran HI hingga Kota, dan ditargetkan rampung pada tahun 2029. Jalur ini akan mencakup tujuh stasiun bawah tanah, yaitu Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, dan Kota, yang diharapkan dapat secara signifikan mengurangi kemacetan di ibu kota.

Yushadi, Sekretaris Perusahaan WIKA Beton, sebelumnya menegaskan komitmen perusahaan untuk mewujudkan solusi transportasi umum yang berkelanjutan, guna mengatasi tantangan kemacetan di Jakarta. “Kolaborasi strategis dengan Larsen & Toubro Limited ini membuktikan kapabilitas WIKA Beton dalam menangani proyek infrastruktur kompleks dengan standar internasional,” ujar Yushadi, menyoroti posisi WTON sebagai pemain kunci dalam pembangunan infrastruktur nasional.

Advertisements