JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir lesu pada penutupan perdagangan Selasa (31/3/2026), menyeret sejumlah saham unggulan termasuk MEDC, BUMI, dan EMTK ke zona merah hingga sesi sore.
Data resmi dari Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan, IHSG ambles 0,61%, menutup hari di level 7.048,22. Fluktuasi indeks cukup signifikan, bergerak dalam rentang 7.155,55 hingga 7.031,11 sepanjang hari. Kondisi pasar mencerminkan dominasi sentimen negatif, dengan 435 saham tertekan, berbanding 270 saham yang menguat, sementara 253 saham lainnya stagnan.
Dalam jajaran saham-saham papan atas LQ45, tekanan jual sangat terasa. PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) memimpin daftar saham yang terkoreksi paling dalam, anjlok 5,44% ke level Rp1.825. Disusul oleh PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) yang terpangkas 4,42% menjadi Rp216, serta PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK) yang melemah 4,38% hingga mencapai Rp765.
Tak hanya itu, beberapa emiten besar lainnya turut menghadapi tekanan signifikan. PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) kehilangan 4,11% nilainya, berakhir di Rp5.250. PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) juga melemah 3,69% ke Rp2.350, diikuti PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) yang terkoreksi 3,43% ke Rp11.275.
Deretan saham yang terimbas pelemahan juga mencakup PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) yang merosot 2,64% menjadi Rp1.845, serta PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) yang melemah 2,34% ke Rp3.760. Saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) pun tak luput dari koreksi, ditutup turun 2,69% ke Rp1.085.
Di tengah sentimen negatif yang mendominasi, beberapa saham berhasil mencatatkan kinerja positif dan menjadi penopang. PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) melonjak signifikan 7,35% ke Rp730. Tak kalah cemerlang, PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) menguat 6,72% ke Rp6.350, diikuti oleh PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) yang naik 5,34% hingga Rp1.480.
Tren penguatan juga dinikmati oleh PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) yang melesat 4,90% ke Rp5.350. Selain itu, PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) menguat 3,88% ke Rp1.205, PT Ciputra Development Tbk. (CTRA) naik 3,65% ke Rp710, dan PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk. (EXCL) menunjukkan kenaikan 3,51%, ditutup pada level Rp2.950.
Menyikapi pergerakan pasar, tim riset Phintraco Sekuritas telah memberikan proyeksinya. Mereka memprediksi IHSG pada hari ini, Selasa (31/3), akan bergerak di area pivot 7.100. Analisis teknikal menunjukkan, koreksi minor 0,08% pada penutupan sebelumnya, yang diikuti oleh pembentukan histogram MACD yang cenderung sideways, mengindikasikan bahwa indeks komposit kemungkinan akan bergerak di kisaran level 7.000-7.200.
Pada perdagangan Selasa kemarin, sektor energi menjadi bintang dengan membukukan penguatan terbesar mencapai 2,18%. Kenaikan ini didorong oleh lonjakan harga minyak mentah global yang terus berlanjut, dipicu oleh konflik geopolitik di Timur Tengah. Sebaliknya, sektor keuangan menjadi yang paling tertekan, anjlok hingga 1,17%. Pelemahan ini sebagian besar disumbangkan oleh koreksi saham BBCA yang memasuki periode ex-date dividen, serta kekhawatiran umum terhadap prospek ekonomi yang turut menyeret saham-saham perbankan lainnya.
Adapun sentimen domestik yang turut memengaruhi pergerakan pasar adalah manuver pemerintah dalam merancang skema efisiensi anggaran, termasuk kemungkinan kebijakan Work From Home (WFH). Langkah-langkah mitigasi ini ditempuh guna meminimalisir dampak kenaikan harga minyak mentah terhadap APBN dan stabilitas ekonomi nasional. Dalam upaya menekan impor migas, pemerintah juga mendorong penghematan energi serta penguatan mandat Biodiesel 50% (B50). Rencananya, kebijakan resmi ini akan diumumkan pada malam hari (31/3), seperti yang diungkapkan oleh Phintraco Sekuritas.
Kebijakan tersebut merupakan langkah strategis pemerintah untuk menjaga agar harga BBM subsidi tidak dinaikkan, mengingat potensi dampaknya yang luas terhadap inflasi dan pelebaran defisit APBN. Kendati demikian, BBM non-subsidi berpotensi mengalami kenaikan harga seiring pengumuman penyesuaian harga bahan bakar bulanan pada 1 April 2026.
Dalam pandangan sekuritas, kondisi ini dapat menjadi katalis positif bagi pengembangan ekosistem kendaraan listrik (EV) dalam jangka menengah hingga panjang, termasuk berdampak baik pada komoditas nikel dan tembaga. Di sisi lain, belum ada kepastian dari pemerintah terkait penerapan bea keluar untuk ekspor batu bara, meskipun pos ini telah diakomodasi dalam asumsi penerimaan APBN 2026. Sementara itu, bea keluar untuk produk turunan nikel memang sudah mendapatkan persetujuan dari Presiden Prabowo, namun waktu implementasinya masih menunggu kepastian, pungkas tim riset tersebut.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.