BI klaim inflasi Bali terkendali pada momen Ramadan dan Nyepi

DENPASAR – Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali menegaskan bahwa laju inflasi di wilayah tersebut berhasil dikendalikan secara efektif, bahkan selama periode sensitif Ramadan, Hari Raya Nyepi, dan Lebaran. Capaian ini menjadi indikator stabilitas ekonomi yang positif di tengah dinamika berbagai perayaan keagamaan.

Advertisements

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, menjelaskan keberhasilan ini tak lepas dari serangkaian langkah strategis yang diinisiasi oleh Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) se-Bali. Salah satu upaya krusial adalah penguatan koordinasi melalui High Level Meeting (HLM) yang digelar menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri dan Nyepi, memastikan inflasi Bali tetap terjaga dalam rentang sasaran yang ditetapkan.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali menunjukkan adanya tren positif. Pada Maret 2026, Bali mencatat inflasi bulanan sebesar 0,50% (month-to-month/mtm), angka yang lebih rendah dibandingkan bulan Februari yang mencapai 0,70% (mtm). Pencapaian ini mengindikasikan efektivitas strategi pengendalian harga komoditas di tingkat daerah.

Erwin Soeriadimadja, dalam keterangan persnya pada Kamis (2/4/2026), memaparkan beberapa faktor yang memengaruhi pergerakan inflasi bulanan. Perayaan HBKN Nyepi dan Idulfitri, kenaikan harga cabai, serta penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi menjadi pendorong utama dinamika inflasi selama periode tersebut.

Advertisements

Secara tahunan, inflasi Provinsi Bali juga menunjukkan penurunan signifikan, dari 3,89% (year-on-year/yoy) pada Februari 2026 menjadi 2,81% (yoy) pada Maret 2026. Penurunan ini mencerminkan stabilitas harga yang lebih baik dalam jangka panjang.

Melihat distribusi spasial, seluruh Kabupaten/Kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Bali mengalami inflasi bulanan pada Maret 2026. Singaraja mencatat inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,90% (mtm) atau inflasi tahunan 3,40% (yoy). Disusul oleh Kabupaten Tabanan dengan inflasi bulanan 0,63% (mtm) dan inflasi tahunan 2,67% (yoy). Sementara itu, Kabupaten Badung mengalami inflasi bulanan 0,50% (mtm) atau inflasi tahunan 2,09% (yoy), dan Kota Denpasar mencatat inflasi bulanan 0,42% (mtm) dengan inflasi tahunan 3,02% (yoy).

Berdasarkan komoditas, inflasi bulanan Maret 2026 utamanya didorong oleh kenaikan harga cabai rawit, bensin, tarif air minum PAM, canang sari, dan cabai merah. Namun, dampak inflasi yang lebih tinggi berhasil tertahan berkat penurunan harga pada komoditas seperti tarif angkutan udara, emas perhiasan, bawang putih, beras, dan kangkung, menunjukkan adanya keseimbangan dinamika pasar.

Menatap ke depan, Erwin menggarisbawahi beberapa risiko yang perlu diwaspadai guna menjaga stabilitas inflasi. Ketidakpastian cuaca akibat peralihan musim hujan ke kemarau yang berpotensi disertai fenomena El Nino, potensi kenaikan harga minyak dan komoditas dunia di tengah ketidakpastian global, serta peningkatan permintaan saat HBKN Galungan-Kuningan menjadi fokus perhatian untuk mitigasi risiko.

Guna memperkuat strategi pengendalian inflasi ke depan, Bank Indonesia Provinsi Bali terus berinovasi dan bersinergi erat dengan Pemerintah Provinsi serta Kabupaten/Kota se-Bali. Fokus utama diarahkan pada tiga pilar krusial: menjaga stabilitas pasokan, meningkatkan efisiensi distribusi, dan memperkuat aspek regulasi yang mendukung stabilisasi harga.

Implementasi strategi ini diwujudkan melalui berbagai inisiatif konkret, termasuk intensifikasi operasi pasar dengan prinsip 3T (tepat waktu, tepat lokasi, dan tepat sasaran). Selain itu, penguatan kerja sama antar daerah, baik di dalam Bali maupun dengan daerah di luar Bali, serta perluasan ekosistem ketahanan pangan hulu-hilir yang inklusif dengan melibatkan BUMDes, Perumda pangan, dan koperasi, menjadi prioritas. Langkah ini diperkuat pula dengan regulasi pemanfaatan produk pangan lokal oleh para pelaku usaha di daerah.

Dengan berbagai langkah strategis yang terkoordinasi dan terarah ini, inflasi sepanjang tahun 2026 diproyeksikan akan tetap terkendali dan terjaga dalam rentang sasaran yang telah ditetapkan, yakni 2,5% ±1%.

Advertisements