IHSG ditutup anjlok 2,20%, bursa Asia kompak memerah

Pasar modal Indonesia kembali bergeliat dengan sentimen negatif yang kuat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penurunan signifikan pada perdagangan Kamis, 2 April, melanjutkan tren pelemahan yang telah terasa sejak awal sesi pembukaan. Data perdagangan yang dihimpun dari Stockbit menunjukkan betapa besarnya tekanan jual yang membayangi bursa domestik.

Advertisements

Pada penutupan sesi, IHSG anjlok tajam sebesar 157,66 poin atau setara dengan 2,20%, mengakhiri perdagangan di level 7.026,78. Pelemahan ini tidak hanya menimpa indeks utama, namun juga menyeret indeks unggulan LQ45 yang turut terkoreksi sebesar 1,68% dan bertengger di posisi 714,58. Ini mengindikasikan tekanan jual yang meluas di saham-saham berkapitalisasi besar.

Meskipun pasar diliputi sentimen negatif, aktivitas transaksi harian tetap cukup ramai. Total nilai transaksi tercatat mencapai Rp12,32 triliun, dengan volume perdagangan sebanyak 25,05 miliar lembar saham yang berpindah tangan. Frekuensi perdagangan juga tinggi, mencapai 1,77 juta kali transaksi.

Top Gainers

  • ALKA (Alakasa Industrindo) naik 180 poin (24,83%) ke 905

  • MSIN (MNC Digital Entertainment) naik 165 poin (24,63%) ke 835

  • BEER (Jobubu Jarum Minahasa) naik 28 poin (21,71%) ke 157

  • YPAS (Yanaprima Hastapersada) naik 235 poin (20,35%) ke 1.390

  • ASPR (Asia Pramulia) naik 34 poin (14,78%) ke 264

Advertisements

Di tengah gejolak pasar yang cenderung merah, beberapa saham berhasil mencatatkan kinerja cemerlang dan menjadi motor penggerak bagi investor. Berikut adalah daftar Top Gainers pada perdagangan hari ini:

Top Losers

  • NSSS (Nusantara Sawit Sejahtera) turun 140 poin (14,89%) ke 800

  • DATA (Remala Abadi) turun 380 poin (14,84%) ke 2.180

  • FWCT (Wijaya Cahaya Timber) turun 16 poin (14,81%) ke 92

  • ATAP (Trimitra Prawara Goldland) turun 79 poin (14,77%) ke 456

  • TALF (Tunas Alfin) turun 115 poin (14,56%) ke 675

Namun, tekanan jual yang kuat juga menyeret sejumlah saham ke zona merah terdalam. Berikut adalah daftar Top Losers yang mengalami koreksi paling signifikan:

Top Value

  • BBRI (Bank Rakyat Indonesia (Persero)) senilai Rp 763,20 miliar

  • BUMI (Bumi Resources) senilai Rp 744,66 miliar

  • BMRI (Bank Mandiri (Persero)) senilai Rp 491,03 miliar

  • BBCA (Bank Central Asia) senilai Rp 475,05 miliar

  • DEWA (Darma Henwa) senilai Rp 444,49 miliar

Aktivitas transaksi juga menunjukkan preferensi investor terhadap beberapa emiten dengan nilai transaksi terbesar. Berikut adalah saham-saham dengan Nilai Transaksi Tertinggi (Top Value) pada perdagangan Kamis:

Top Volume

  • BUMI (Bumi Resources) sebanyak 32,27 juta lembar

  • GOTO (GoTo Gojek Tokopedia) sebanyak 18,67 juta lembar

  • CHEM (Chemstar Indonesia) sebanyak 11,33 juta lembar

  • BIPI (Astrindo Nusantara Infrastruktur) sebanyak 9,64 juta lembar

  • DEWA (Darma Henwa) sebanyak 9,28 juta lembar

Sementara itu, dari sisi volume perdagangan, beberapa saham juga menarik perhatian investor karena banyaknya lembar saham yang berpindah tangan. Berikut daftar Volume Perdagangan Tertinggi (Top Volume):

Di tengah tekanan pasar saham domestik, kabar baik datang dari pasar uang. Kurs rupiah justru menunjukkan performa yang mengesankan, ditutup menguat 7 poin atau 0,041% terhadap dolar Amerika Serikat, mencapai level Rp 16.990 per dolar AS. Posisi ini lebih baik dibandingkan harga pembukaan pagi yang sempat berada di Rp 16.997, menandakan adanya daya tahan mata uang Garuda.

Bursa Asia

  • Indeks Nikkei 225 di Jepang turun 2,36% ke 52.463,27

  • Indeks Hang Seng di Hong Kong turun 0,70% ke 25.116,53

  • Indeks SSE Composite di China turun 0,74% ke 3.919,29

  • Indeks Straits Times di Singapura turun 0,62% ke 4.944,57

Pelemahan yang dialami IHSG ternyata sejalan dengan tren yang terjadi di sebagian besar bursa saham kawasan Asia. Ini mengindikasikan sentimen negatif global turut mempengaruhi pergerakan pasar regional. Data yang dihimpun dari Stockbit dan Yahoo Finance menunjukkan bahwa indeks-indeks utama Asia kompak bergerak di zona merah:

Advertisements