Harga avtur naik, pakar transportasi wanti-wanti lonjakan biaya logistik

Konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah telah memicu ketidakpastian ekonomi global yang mendalam, terutama pada sektor transportasi. Gangguan signifikan pada rantai pasok energi akibat konflik ini telah menyebabkan lonjakan harga barang dan biaya operasional di berbagai negara, sebuah dampak yang turut dirasakan di Indonesia.

Advertisements

Ketua Umum Indonesia National Air Carriers Association (INACA), Denon Prawiraatmadja, menegaskan bahwa kenaikan harga avtur saat ini berpotensi membawa konsekuensi serius bagi industri penerbangan nasional. Beliau menyatakan, “Seperti sudah kita perkirakan sebelumnya, harga avtur akan naik mengikuti harga di tingkat global karena imbas krisis geopolitik di Timur Tengah.” Pernyataan ini disampaikan Denon pada Rabu (1/4), menggarisbawahi urgensi situasi.

Sebagai gambaran yang lebih detail, lonjakan harga bahan bakar penerbangan atau avtur mulai berlaku pada April 2026. Dalam periode 1-30 April tersebut, harga avtur domestik tercatat naik rata-rata hingga 70%, sementara untuk rute internasional, peningkatannya mencapai 80% dengan penyesuaian harga di setiap bandara.

Tak hanya sektor penerbangan, dampak serupa juga diperingatkan akan merambat ke industri logistik. Djoko Setijowarno, seorang pengamat transportasi dan logistik sekaligus pengajar dari Program Studi Teknik Sipil Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata, menyoroti peran vital jalur udara. Menurut Djoko, penggunaan pesawat kargo masih menjadi tulang punggung dalam distribusi barang di Indonesia, mengingat karakteristik negara kepulauan yang unik. Berbagai jenis komoditas, mulai dari paket platform e-commerce/digital, dokumen penting, barang berat, hingga beragam kebutuhan logistik lainnya, sangat bergantung pada efisiensi jaringan distribusi udara ini.

Advertisements

Oleh karena itu, kenaikan harga energi seperti avtur yang dirasakan oleh industri penerbangan secara langsung dikhawatirkan akan menimbulkan efek domino ke berbagai sektor, termasuk logistik. Djoko menggarisbawahi potensi penyesuaian biaya yang krusial demi menjaga kelancaran operasional industri logistik. “Kenaikan harga avtur pada tahap awal pastinya akan berdampak pada biaya logistik yang akan menyebabkan shock di berbagai industri yang bergantung pada pengiriman udara,” tegas Djoko, menyoroti ancaman goncangan yang tak terhindarkan.

Jika skenario ini benar terjadi, dampak berantai juga berpotensi merambah luas ke ekosistem perdagangan digital, khususnya pada layanan logistik yang memegang peran sentral sebagai penghubung utama antara penjual dan pembeli. Menurut Djoko, tekanan biaya yang meningkat pada sektor logistik akan mendorong para pelaku industri untuk mengambil berbagai langkah penyesuaian demi memastikan keberlanjutan bisnis. “Bentuk penyesuaian ini bisa beragam, salah satunya melalui kenaikan harga secara umum, kenaikan biaya kirim, hingga penyesuaian biaya layanan,” jelasnya, merinci opsi-opsi yang mungkin diambil.

Meskipun demikian, kenaikan biaya bahan bakar bukanlah fenomena baru dalam industri logistik. Berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, pelaku usaha logistik, hingga asosiasi industri terkait, masih memiliki ruang luas untuk berdiskusi. Pembicaraan ini sangat penting guna mengkaji sejauh mana dampak kenaikan harga avtur terhadap keseluruhan biaya distribusi dan mencari solusi mitigasi yang efektif.

Advertisements