Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan menghadapi tekanan jual dan cenderung melemah pada perdagangan awal pekan ini, Senin (6/4). Sebelumnya, pada perdagangan Kamis (13/2) lalu, IHSG ditutup anjlok signifikan sebesar 2,19% ke level 7.026, mencerminkan sentimen pasar yang masih didominasi oleh kekhawatiran.
Analis terkemuka dari MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyoroti bahwa posisi IHSG saat ini masih berada dalam fase penurunan yang rentan. Ia memproyeksikan adanya potensi indeks untuk terus tertekan, bahkan berpeluang menyentuh kisaran level 6.745–6.849. Namun, Herditya juga memberikan skenario optimis. Dalam kondisi terbaik, IHSG diperkirakan telah menuntaskan fase penurunannya dan memiliki peluang untuk kembali menguat, menargetkan level 7.450–7.675.
Dalam risetnya yang dirilis pada Senin (6/4), Herditya menambahkan bahwa level support IHSG terdekat berada di 7.022 dan 6.917, yang dapat menjadi bantalan potensi penurunan. Sementara itu, level resistance IHSG terdekat yang perlu diperhatikan berada di 7.302 dan 7.434, sebagai batas atas potensi penguatan.
Penting bagi investor untuk memahami dua konsep kunci ini. Support adalah area harga saham tertentu yang diyakini menjadi titik terendah psikologis atau fundamental pada suatu periode. Ketika harga saham menyentuh level support, biasanya akan ada peningkatan daya beli yang memicu harga kembali naik. Sebaliknya, resistance merupakan tingkat harga saham tertentu yang dianggap sebagai titik tertinggi. Setelah harga saham mencapai level ini, sering kali terjadi aksi jual yang cukup besar, menghambat laju kenaikan harga selanjutnya.
Merespons kondisi pasar, MNC Sekuritas merekomendasikan strategi buy on weakness untuk beberapa saham pilihan. Saham PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) direkomendasikan untuk akumulasi beli pada rentang harga Rp 715–Rp 765, dengan target harga optimis di Rp 860–Rp 920, serta level stoploss di bawah Rp 685. Selanjutnya, PT Indika Energy Tbk (INDY) juga disarankan untuk buy on weakness pada area Rp 3.280–Rp 3.390, dengan target harga Rp 3.550–Rp 3.710, dan stoploss di bawah Rp 3.220. Tidak hanya itu, PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) disarankan untuk speculative buy di level Rp 2.040–2.120, dengan target harga yang lebih tinggi, yaitu Rp 2.420–2.700.
Di sisi lain, Phintraco Sekuritas menyoroti bahwa konflik di Timur Tengah akan menjadi fokus utama pasar saham pada pekan ini. Investor akan terus memantau dengan cermat setiap perkembangan, baik itu potensi de-eskalasi maupun risiko eskalasi konflik yang berkepanjangan. Perhatian khusus juga tertuju pada perkembangan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran vital. Presiden AS, Donald Trump, bahkan telah memberikan batas waktu hingga 6 April kepada Iran untuk membuka kembali jalur tersebut, atau berisiko menghadapi eskalasi militer yang lebih besar.
Dari ranah global, pasar menantikan rilis sejumlah data ekonomi AS yang krusial, meliputi notulen FOMC, angka inflasi, ISM Services PMI, preliminary Michigan Sentiment, serta inflasi PCE. Sementara itu, dari dalam negeri, akan dirilis data cadangan devisa pada 8 April, diikuti oleh indeks keyakinan konsumen dan penjualan otomotif pada 10 April.
Phintraco Sekuritas memperingatkan bahwa apabila konflik Timur Tengah terus berkepanjangan, harga minyak mentah berpotensi bertahan di level tinggi untuk waktu yang lama. Kondisi ini dikhawatirkan dapat memperlebar defisit APBN Indonesia, terutama jika pemerintah meningkatkan subsidi BBM tanpa penyesuaian anggaran di sektor lain. Dampak akhirnya bisa memicu capital outflow dan berujung pada pelemahan rupiah. “Diperkirakan IHSG berpotensi kembali menguji level 6.900–7.000,” tulis Phintraco dalam analisisnya pada Senin (6/4), menggarisbawahi risiko pasar yang membayangi.
Sebagai penutup, Phintraco Sekuritas juga membagikan rekomendasi saham menarik untuk dicermati investor. Saham-saham tersebut meliputi PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN), PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN), PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP), dan PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA).