Wall Street bangkit saat ketegangan AS-Iran mulai mereda

Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat (AS) berhasil ditutup mayoritas menguat pada perdagangan saham Kamis (2/4), setelah sebelumnya sempat mengalami tekanan di awal sesi. Pembalikan arah pasar ini terjadi seiring meredanya kekhawatiran investor di tengah dinamika ketegangan antara AS dan Iran yang mulai melunak.

Advertisements

Mengutip laporan Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average terpantau turun tipis 0,13% ke level 46.504,67. Sementara itu, indeks yang lebih luas, S&P 500, berhasil naik 0,11% menjadi 6.582,69, dan indeks saham teknologi Nasdaq Composite menguat 0,18% ke posisi 21.879,18.

Indikator volatilitas pasar, CBOE VIX, turut mencatat penurunan signifikan ke angka 23,87. Penurunan ini menjadi sinyal jelas bahwa tingkat kekhawatiran di kalangan pelaku pasar mulai mereda. Secara kumulatif, ketiga indeks utama tersebut berhasil membukukan kenaikan mingguan terbesar dalam empat bulan terakhir, sekaligus menandai kenaikan pertama setelah enam minggu berturut-turut mengalami pelemahan.

Perbaikan sentimen pasar ini didorong oleh perkembangan positif terkait Iran yang menyatakan tengah menyusun protokol bersama Oman untuk mengatur lalu lintas di Selat Hormuz. Di samping itu, Inggris juga menginformasikan bahwa puluhan negara sedang berupaya mencari solusi diplomatik untuk meredakan krisis, sehingga kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak global mulai berkurang secara bertahap.

Advertisements

Sebelumnya, pasar sempat dibuka dengan anjlok tajam sebagai respons terhadap lonjakan harga minyak global. Kondisi ini diperparah oleh sinyal Presiden AS Donald Trump yang mengindikasikan langkah-langkah lebih agresif terhadap Iran menjelang libur panjang Jumat Agung.

Akibatnya, harga minyak mentah melonjak tajam. Minyak jenis AS naik sekitar 11% dan diperdagangkan di kisaran US$ 111 per barel, sementara minyak Brent menguat sekitar 7% mendekati US$ 108 per barel. Meskipun demikian, pelaku pasar memproyeksikan bahwa harga minyak akan kembali turun ke sekitar US$ 82 per barel pada bulan Oktober.

Michael Antonelli, seorang analis pasar terkemuka dari Baird, menilai bahwa arah pergerakan pasar saat ini masih belum sepenuhnya solid. Para investor, menurutnya, masih terus mencari kepastian di tengah dinamika geopolitik yang berubah dengan cepat. Namun demikian, Antonelli menambahkan, “Harga minyak pada Oktober menunjukkan pasar memperkirakan krisis ini kemungkinan akan berakhir pada musim gugur,” demikian ia dikutip oleh Reuters pada Senin (6/4).

Di sisi lain, kekhawatiran juga sempat muncul di pasar kredit swasta setelah Blue Owl Capital membatasi penarikan dana investor dari dua produk berbasis ritelnya. Saham perusahaan ini pun menjadi salah satu yang paling aktif diperdagangkan sepanjang hari tersebut.

Volume transaksi di bursa AS tercatat sebesar 16,75 miliar saham, angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan rata-rata 20 hari terakhir yang mencapai 17,82 miliar saham. Selain itu, perhatian pelaku pasar turut tertuju pada perkembangan SpaceX, perusahaan milik Elon Musk, yang dikabarkan secara diam-diam mengajukan rencana IPO di AS dengan target valuasi fantastis sekitar US$ 1,75 triliun.

Investor juga akan mencermati dengan saksama rilis data tenaga kerja AS, khususnya nonfarm payroll. Meskipun klaim pengangguran mingguan menunjukkan penurunan, pasar tetap tutup sepanjang libur akhir pekan. Sementara itu, saham Globalstar melonjak signifikan setelah beredar laporan bahwa Amazon tengah menjajaki akuisisi perusahaan satelit orbit rendah tersebut.

Secara keseluruhan, kinerja Wall Street sepanjang pekan ini mencerminkan sikap hati-hati investor, meski dengan hasil yang positif. Indeks S&P 500 tercatat naik 3,36%, Nasdaq Composite menguat 4,44%, dan Dow Jones Industrial Average tumbuh 2,96%. Indeks saham berkapitalisasi kecil, Russell 2000, juga mengalami peningkatan sebesar 3,19%.

Kenaikan mingguan ini menunjukkan adanya pergeseran minat investor ke sektor-sektor yang dianggap lebih defensif. Sektor utilitas, yang dikenal stabil dari sisi pendapatan dan dividen, naik 0,6%. Sementara itu, sektor properti menguat 1,5%, didorong oleh pendapatan sewa yang relatif tahan banting di tengah ketidakpastian ekonomi.

Sebaliknya, sektor barang konsumsi menjadi yang paling tertekan dengan tergelincir 1,5%. Penurunan ini salah satunya disebabkan oleh anjloknya saham Tesla sebesar 5,4% setelah rilis data pengiriman kuartal pertama yang mengecewakan.

Advertisements