Tren meningkat, utang paylater warga RI di bank capai Rp 27,8 triliun

Layanan buy now pay later (BNPL), yang kian akrab di telinga masyarakat dengan sebutan paylater, menunjukkan geliat pertumbuhan signifikan pada awal tahun 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merilis data terkini yang menyoroti peningkatan ini, di mana porsi produk BNPL yang disalurkan melalui perbankan telah mencapai 0,32% dari total portofolio.

Advertisements

Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, memaparkan bahwa hingga Februari 2026, baki debet kredit BNPL yang dikelola perbankan mencatat pertumbuhan impresif sebesar 26,41% secara tahunan. Data ini terekam jelas dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK. Sebagai informasi, baki debet kredit merujuk pada sisa pokok pinjaman atau pembiayaan yang masih harus dilunasi debitur, tidak termasuk komponen bunga, denda, atau biaya administrasi.

Angka pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat 20,15%. Dian menambahkan bahwa total nilai penyaluran BNPL di sektor perbankan per Februari 2026 telah mencapai angka Rp 27,8 triliun, sebuah lonjakan yang signifikan. Pernyataan ini disampaikan Dian dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK pada Senin (6/4).

Meski nilai penyaluran terus meroket, OJK juga mencatat dinamika pada jumlah rekening paylater perbankan. Total rekening mencapai 30,55 juta, sedikit menurun dari angka 31,23 juta pada Januari 2026 dan 31,2 juta pada Desember 2025.

Advertisements

Tak hanya perbankan, segmen paylater yang disalurkan oleh perusahaan pembiayaan juga menunjukkan pertumbuhan substansial. Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PMVL) OJK, mengungkapkan bahwa pembiayaan paylater di sektor ini tumbuh 53,53% secara tahunan pada Februari 2026. Meskipun angka ini impresif, realisasinya sedikit lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai pertumbuhan 71,13% secara tahunan.

Ia merinci lebih lanjut, nilai pembiayaan BNPL oleh perusahaan pembiayaan kini mencapai Rp 12,59 triliun. Bersamaan dengan pertumbuhan ini, rasio kredit bermasalah atau NPF (Non-Performing Financing) gross tercatat sebesar 2,79%, menunjukkan kenaikan tipis dari 2,77% pada Januari 2026.

Beralih ke sektor pinjaman daring, atau yang lebih dikenal dengan pindar, tren positif juga terlihat. Outstanding pembiayaan dari pindar pada Februari 2026 mengalami pertumbuhan 25,75% secara tahunan, meningkat dari 25,52% pada bulan sebelumnya. Secara total, pembiayaan dari pindar telah mencapai nominal fantastis Rp 100,69 triliun per Februari 2026, menjadikannya segmen dengan nilai terbesar.

Meskipun seluruh segmen menunjukkan pertumbuhan masif, OJK menegaskan bahwa risiko kredit macet secara agregat masih dalam batas aman dan terkendali. Tingkat risiko kredit macet yang melewati 90 hari (TWP90) tercatat sebesar 4,54% secara agregat. Angka ini memang sedikit lebih tinggi dibandingkan Januari 2026 yang sebesar 4,38%, namun OJK memastikan bahwa kondisi ini masih dapat dikelola dengan baik, menjaga stabilitas industri keuangan di tengah pesatnya adopsi layanan keuangan digital.

Advertisements