Mayoritas saham big caps konstituen FTSE menguat, IHSG naik 3,39% ke 7.207

Babaumma – , JAKARTA – Kabar gembira datang dari bursa saham Tanah Air. FTSE Russell, penyedia indeks global terkemuka, secara resmi mengumumkan hasil klasifikasi pasar ekuitas interim Maret 2026, yang menegaskan posisi Indonesia sebagai secondary emerging market. Keputusan strategis ini sontak menjadi katalis positif, mendorong kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk menuntaskan sesi I perdagangan hari ini, Rabu (8/4/2026), dengan lonjakan signifikan.

Advertisements

Hingga 31 Maret 2026, tercatat sebanyak 39 konstituen Indonesia telah terintegrasi dalam indeks FTSE, dengan akumulasi kapitalisasi pasar mencapai US$99,06 miliar. Menariknya, dari puluhan nama tersebut, sepuluh saham raksasa menonjol dengan dominasi bobot hingga 75,44% di dalam indeks. Di antara para penyumbang bobot terbesar ini adalah saham-saham perbankan kakap seperti PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), serta pemain teknologi terkemuka PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO).

Data perdagangan sesi I Rabu (8/4/2026) menunjukkan performa impresif dari mayoritas saham konstituen FTSE. Saham BBCA terpantau melesat 4,62% menjadi Rp6.800, diikuti oleh BBRI yang tumbuh 3,72% mencapai Rp3.350, dan BMRI dengan penguatan 3,33% ke level Rp4.660. Tak hanya itu, saham unggulan lainnya turut mencatat kenaikan: PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) melonjak paling tajam sebesar 8,83% ke Rp5.300, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) menguat 6,27% menjadi Rp3.730, PT Astra International Tbk. (ASII) menanjak 4,66% ke Rp6.175, dan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) juga naik 0,97% ke Rp3.130.

Meski demikian, beberapa saham menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) mengalami koreksi tipis 0,60% menjadi Rp65.850, sementara PT United Tractors Tbk. (UNTR) terpangkas 0,42% ke Rp29.875. Di sisi lain, saham GOTO tercatat stagnan, bertahan di posisi Rp51.

Advertisements

Secara agregat, kinerja IHSG pada sesi I perdagangan hari ini benar-benar mencuri perhatian. Indeks tercatat melonjak 3,39% atau setara 236,13 poin, mengakhiri sesi di level 7.207,16. Bahkan, di tengah euforia pasar, IHSG sempat menyentuh level tertinggi intraday yang mengesankan di angka 7.214,45, mengindikasikan optimisme pasar yang kuat setelah pengumuman penting dari FTSE.

Merespons perkembangan ini, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta, menegaskan bahwa pengumuman FTSE tersebut merupakan katalis positif krusial. Menurutnya, keputusan ini berperan penting dalam menopang pergerakan IHSG, yang sepanjang tahun ini cukup tertekan akibat sentimen geopolitik, khususnya konflik di Timur Tengah. “Apabila tidak terjadi penurunan peringkat [ke frontier market], maka potensi arus keluar modal asing atau outflow dapat dihindari,” jelas Nafan, menggarisbawahi dampak signifikan dari klasifikasi tersebut.

Pernyataan Nafan kian relevan mengingat data hingga 7 April 2026 menunjukkan adanya aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing secara year-to-date (YtD) yang mencapai Rp36,23 triliun. Dalam dinamika pasar saham saat ini, komposisi investor masih didominasi oleh partisipan domestik sebesar 66%, berbanding 34% dari investor asing. Oleh karena itu, mempertahankan status di pasar emerging market adalah vital untuk menjaga kepercayaan dan menarik kembali minat investasi global.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Advertisements