
Kabar gembira datang dari upaya konservasi di Indonesia, di mana seekor anak Elang Jawa (Nisaetus bartelsi), satwa yang sangat langka dan ikonik, baru saja menetas di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Sebagai simbol harapan baru bagi kelestarian alam, anak Elang Jawa yang berharga ini secara resmi diberi nama ‘Garda Nusantara’ oleh Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut) Rohmat Marzuki. Nama ini bukan tanpa makna mendalam, “Filosofinya adalah semoga Elang Jawa ini bisa menjadi penjaga atau pengawal alam Indonesia melalui angkasa,” jelas Rohmat, mengutip dari keterangan resmi pada Rabu (8/4), menekankan peran vital Elang Jawa sebagai pelindung ekosistem.
Pemberian nama ‘Garda Nusantara’ ini dilaksanakan langsung oleh Wamenhut Rohmat Marzuki saat kunjungannya ke Balai TNGHS di Jawa Barat pada Selasa (7/4). Dalam sebuah momen simbolis, nama tersebut kemudian dituliskan pada sertifikat, yang menegaskan komitmen dan perlindungan negara terhadap spesies kunci yang memiliki nilai ekologis dan kultural yang tinggi ini.
Elang Jawa, yang begitu identik dengan lambang negara Burung Garuda, memegang peranan krusial sebagai predator puncak dalam rantai makanan. Keberadaannya di alam liar bukan hanya sekadar menambah keindahan, melainkan juga berfungsi sebagai indikator vital bagi kesehatan ekosistem hutan di seluruh Pulau Jawa. Kondisi populasinya merefleksikan kualitas dan keseimbangan lingkungan hutan tempatnya bernaung.
Tersisa 1.000 Ekor di Alam
Meski menghadapi tantangan, ada secercah harapan. Riset kolaboratif antara Kementerian Kehutanan, lembaga swadaya masyarakat, dan organisasi non-pemerintah menunjukkan adanya peningkatan populasi Elang Jawa di Pulau Jawa. Menurut Wamenhut Rohmat, keberhasilan ini sangat ditunjang oleh program pelestarian habitat di TNGHS, yang secara konsisten menjaga keberadaan pohon-pohon tinggi—area esensial dan favorit bagi Elang Jawa untuk bersarang dan berburu. “Harapannya dengan kita meningkatkan perlindungan di kawasan TNGHS, Elang Jawa akan terus berkembang biak,” ujar Rohmat penuh optimisme.
Namun demikian, status Elang Jawa masih tetap berada dalam kategori hampir punah. Informasi dari laman resmi Universitas Gadjah Mada (UGM) mengungkapkan bahwa saat ini diperkirakan hanya tersisa sekitar 511 pasang atau kurang lebih 1.000 ekor Elang Jawa yang tersebar di 74 hutan di seluruh Pulau Jawa, sebuah angka yang menunjukkan betapa gentingnya situasi ini.
Dosen Pemerhati Satwa Liar dari Fakultas Biologi UGM, Donan Satria Yudha, menyoroti bahwa salah satu faktor utama penyebab penurunan populasi Elang Jawa adalah hilangnya habitat alami. Habitat bagi Elang Jawa sangat spesifik dan memerlukan kondisi tertentu; tidak semua area pegunungan atau perbukitan di Pulau Jawa dapat menjadi tempat tinggal ideal baginya. Habitat yang cocok harus memenuhi kriteria hutan hujan tropis dengan heterogenitas tinggi, ditandai dengan keberadaan pohon-pohon tinggi. Selain itu, ketersediaan mangsa potensial seperti tikus, tupai, bajing, dan ayam hutan juga menjadi elemen krusial bagi kelangsungan hidup predator puncak ini.
Donan juga menegaskan bahwa penyerobotan habitat oleh aktivitas manusia turut menjadi penyebab signifikan menurunnya populasi Elang Jawa. Jika predator puncak ini mengalami kepunahan, dampaknya akan sangat merugikan dan terasa bagi kesehatan serta keseimbangan ekosistem di habitatnya. Kehilangan Elang Jawa dapat memicu ketidakseimbangan yang berujung pada kerusakan ekosistem yang lebih luas.