BI naikkan imbal hasil SRBI untuk menahan arus keluar modal asing

Bank Indonesia (BI) merekalibrasi instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dengan kecenderungan menaikkan imbal hasil instrumen tersebut. Kebijakan ini diambil untuk menahan arus keluar modal asing di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik.

Advertisements

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, langkah ini diperlukan agar pasar keuangan domestik tetap menarik bagi investor asing sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

“Oleh karena itu, untuk tahun 2026 ini SRBI-nya mulai akan naik. Ini karena kami harus menyeimbangkan antara keperluan menstabilkan nilai tukar, intervensi, dan juga bagaimana supaya outflow itu tidak terlalu buruk,” kata Perry dalam rapat dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (8/4). 

Perry menggambarkan, sejak awal 2026 telah terjadi arus keluar dana cukup besar dari emerging market ke pasar keuangan global, baik dari instrumen obligasi maupun saham.

Advertisements

Baca juga:

  • BI Borong SBN Rp 90,05 Triliun untuk Stabilkan Pasar Obligasi
  • BI Gelontorkan Insentif Likuiditas Rp 427 Triliun untuk Kredit Program Prioritas

Tekanan ini dipicu kenaikan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) yang membuat aset dolar semakin menarik.

BI menilai penyesuaian SRBI menjadi salah satu instrumen penting untuk menarik kembali inflow tanpa mengganggu kecukupan likuiditas domestik. Meski demikian, BI memastikan likuiditas perbankan tetap terjaga dengan pertumbuhan uang primer (M0) yang dipertahankan di level 13,3%. 

BI Borong SBN Rp 90 Triliun

Di sisi lain, BI juga mencatat telah membeli Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 90,05 triliun dari pasar sekunder sepanjang 2026 sebagai bagian dari langkah stabilisasi pasar keuangan domestik.

Perry mengatakan pembelian SBN dilakukan di tengah meningkatnya volatilitas global akibat konflik geopolitik dan kenaikan suku bunga global.

“Kami juga terus membeli SBN dari pasar sekunder. Tahun ini year to date-nya sudah membeli Rp 90,05 triliun,” katanya. 

Ia menuturkan, pembelian SBN menjadi bagian dari rekalibrasi kebijakan moneter yang kini lebih diarahkan untuk menjaga stabilitas.

Ia menyebut tekanan utama berasal dari kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury yang memicu perpindahan dana dari emerging market.

BI memandang, intervensi di pasar obligasi diperlukan untuk menjaga stabilitas imbal hasil domestik sekaligus memastikan transmisi kebijakan moneter tetap berjalan.

Perry menuturkan, langkah ini juga dilakukan bersamaan dengan intervensi di pasar valas dan penyesuaian instrumen SRBI.

Advertisements