
Trump Sepakat Gencatan Senjata dengan Iran Selama Dua Minggu
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan telah mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan Iran selama dua minggu. Kesepakatan krusial ini dicapai setelah mediasi dari Pakistan, membawa harapan baru bagi deeskalasi konflik yang memanas di Timur Tengah. Sebagai bagian dari kesepakatan, Teheran juga menyetujui pemberian jaminan keamanan bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi nadi ekonomi global. Meski demikian, Iran menegaskan kesepakatan ini sebagai kemenangan dan menekankan bahwa pertemuan lanjutan yang dijadwalkan di Islamabad, Pakistan, pada Jumat mendatang belum tentu menandai berakhirnya seluruh konflik yang telah menewaskan ribuan orang dan meluas di kawasan tersebut.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyambut baik langkah Amerika Serikat ini. Namun, ia secara tegas menyatakan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam lingkup kesepakatan gencatan senjata sementara tersebut, menyoroti kompleksitas dinamika regional.
Pasca-persetujuan Iran untuk membuka kembali akses pelayaran dan menghentikan sementara operasi militer, ketegangan di kawasan mulai mereda. Perkembangan ini secara signifikan memberikan secercah harapan bagi stabilitas pasar energi dan ekonomi dunia yang sebelumnya terancam oleh konflik.
Gencatan Senjata dengan Iran (Gemini AI)
Mengutip laporan Reuters.com, gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran ini berpotensi mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama enam minggu, memicu hambatan serius pada pasokan energi global, dan menimbulkan dampak kemanusiaan yang mendalam. Pengumuman kesepakatan ini disampaikan Donald Trump pada Selasa malam, hanya dua jam sebelum batas waktu ultimatum yang ia tetapkan bagi Iran: membuka kembali Selat Hormuz atau menghadapi ancaman “kehancuran besar-besaran.”
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, telah mengambil peran sentral dalam mediasi ini, mengundang perwakilan Iran dan Amerika Serikat untuk bertemu di Islamabad pada hari Jumat. Trump menjelaskan bahwa keberlanjutan kesepakatan ini sangat bergantung pada kesiapan Iran untuk menghentikan sementara blokade pengiriman minyak dan gas yang melalui selat tersebut. Sebagai jalur vital, Selat Hormuz biasanya menjadi rute sekitar seperlima dari total pengiriman minyak dan gas alam cair dunia. Kabar mengenai kesepakatan ini, disertai harapan meredanya gangguan besar terhadap pasar energi global, sontak memicu penurunan tajam harga minyak sebesar 14% hingga di bawah US$100, sekaligus mendorong penguatan pasar saham internasional.
Menyikapi hal ini, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menegaskan bahwa Teheran akan menghentikan serangan balasan dan menjamin keamanan jalur pelayaran di kawasan, dengan syarat tidak ada lagi serangan yang diarahkan kepada Iran. Di sisi lain, Kaja Kallas, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, melalui akun X pribadinya @kajakallas pada 8 April 2026, menyatakan bahwa gencatan senjata antara Amerika dan Iran ini membuka peluang penting untuk meredakan ketegangan, menghentikan serangan rudal, memulihkan arus pengiriman, serta memberi ruang bagi diplomasi menuju kesepakatan yang lebih permanen.
Kallas juga mengungkapkan telah berkomunikasi dengan Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, dan menekankan pentingnya menjaga jalur mediasi tetap terbuka, mengingat akar konflik yang mendasar masih belum terselesaikan. Ia menambahkan bahwa isu krusial ini akan menjadi salah satu pembahasan utama dalam kunjungannya ke Arab Saudi pada hari Rabu. Sebagai respons positif, Iran mengonfirmasi akan membuka kembali jalur pengiriman melalui Selat Hormuz selama masa gencatan senjata dua minggu ini, yang diharapkan dapat meredakan gangguan signifikan pada harga minyak dan gas global. Israel juga mengumumkan akan menghentikan serangannya terhadap Iran.
Namun demikian, di balik optimisme awal, masih terdapat banyak ketidakpastian. Amerika Serikat dan Iran memiliki perbedaan pandangan yang substansial terkait bentuk kesepakatan menyeluruh yang diinginkan masing-masing pihak. Oleh karena itu, perundingan yang dijadwalkan di Islamabad pada Jumat mendatang akan menjadi ujian krusial apakah gencatan senjata sementara ini dapat berkembang menjadi kesepakatan yang lebih permanen dan komprehensif.
Trump Sepakat Gencatan Senjata dengan Iran: Ini Isi 10 Poin dari Iran
Washington mengonfirmasi bahwa Iran telah menyetujui pembukaan Selat Hormuz secara penuh, cepat, dan aman. Lebih lanjut, Donald Trump mengungkapkan bahwa Amerika Serikat telah menerima proposal 10 poin dari Iran, yang dinilainya sebagai dasar yang cukup kuat untuk melanjutkan negosiasi. Berikut adalah poin-poin utama yang diuraikan dalam proposal 10 poin tersebut, yang menjadi kerangka pembahasan dalam upaya gencatan senjata dengan Iran:
- Komitmen dasar non-agresi dari Amerika Serikat terhadap Iran.
- Pengaturan lalu lintas di Selat Hormuz yang dikoordinasikan dengan militer Iran, sehingga Iran tetap memiliki pengaruh signifikan di jalur tersebut.
- Pengakuan terhadap program pengayaan nuklir Iran.
- Pencabutan seluruh sanksi primer dan sekunder terhadap Iran.
- Penghentian resolusi yang menentang Iran di Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
- Mengakhiri seluruh resolusi Dewan Keamanan PBB terhadap Iran.
- Penarikan pasukan tempur Amerika Serikat dari pangkalan-pangkalan di kawasan.
- Pemberian ganti rugi penuh atas kerusakan yang dialami Iran selama perang, termasuk melalui mekanisme pembayaran dari kapal yang melintas di Selat Hormuz.
- Pelepasan seluruh aset dan properti Iran yang dibekukan di luar negeri.
- Pengesahan seluruh kesepakatan dalam resolusi Dewan Keamanan PBB yang bersifat mengikat.
Kendati demikian, Trump menegaskan kepada kantor berita AFP bahwa isu krusial terkait persediaan senjata nuklir Iran akan ditangani secara tuntas dalam setiap kesepakatan perdamaian. “Itu akan diselesaikan dengan sempurna, atau saya tidak akan menyetujuinya,” ujar Trump. Iran sendiri, di lain pihak, secara konsisten menegaskan tidak berniat mengembangkan senjata nuklir, namun menyatakan kesediaan untuk membahas batasan kegiatan nuklir mereka sebagai imbalan atas pencabutan sanksi.
Dalam wawancara terpisah dengan Sky News, Trump mengisyaratkan bahwa rencana 10 poin yang secara resmi dibocorkan oleh pejabat Iran mungkin memiliki perbedaan dari versi yang sebenarnya sedang dinegosiasikan. “Itu poin-poin yang sangat bagus dan sebagian besar sudah sepenuhnya dinegosiasikan,” kata Trump, menambahkan, “Ini bukan tuntutan maksimalis seperti yang diklaim Iran.” Ia juga memberikan peringatan tegas, “Jika negosiasi ini tidak berhasil, kita akan dengan mudah kembali ke ketegangan.”
Sejak pengumuman gencatan senjata, baik Donald Trump maupun pemerintahannya belum memberikan rincian konkret mengenai poin-poin utama dalam rencana 10 poin tersebut, termasuk aspek-aspek penting seperti pencabutan sanksi Amerika Serikat, pembebasan aset Iran yang dibekukan, pengaturan berkelanjutan atas Selat Hormuz, maupun penarikan pasukan militer Amerika Serikat dari wilayah tersebut.
Kesepakatan gencatan senjata antara Donald Trump dan Iran selama dua minggu ini, meskipun sementara, menandai langkah penting menuju deeskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Gencatan senjata ini menjadi syarat utama dibukanya kembali Selat Hormuz, sebuah jalur vital yang memiliki implikasi besar bagi pasokan energi global dan stabilitas ekonomi dunia.