Ketegangan diplomatik mencuat antara Korea Selatan dan Israel setelah Presiden Lee Jae-myung melontarkan kritik tajam terhadap militer Israel atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Kritikan ini, yang muncul pada hari Jumat (10/4), segera dibalas oleh Israel dengan tuduhan bahwa Lee menyebarkan disinformasi melalui media sosial, memicu polemik internasional.
Kontroversi ini bermula ketika pemimpin Korea Selatan tersebut mengomentari sebuah video yang viral di media sosial. Video tersebut disertai keterangan yang mengklaim rekaman itu memperlihatkan tentara Israel menyiksa dan mendorong seorang anak Palestina dari atap sebuah bangunan. Merespons hal tersebut, Lee melalui platform X menulis, “Saya perlu menyelidiki apakah ini benar, dan jika demikian, langkah-langkah apa yang telah diambil.”
Namun, asal-usul video yang tersebar luas itu, menurut kantor berita AFP, masih belum dapat ditelusuri secara pasti. Rekaman tersebut tampaknya merupakan sudut pandang lain dari sebuah insiden yang telah direkam oleh AFPTV di Tepi Barat sekitar dua tahun lalu. Dalam insiden yang terekam sebelumnya, wartawan menyaksikan seorang tentara Israel mendorong tubuh seorang pria dewasa yang tampak sudah tak bernyawa dari atap bangunan, berbeda dengan klaim yang beredar baru-baru ini.
Insiden asli yang terekam pada 2024 tersebut sebelumnya telah memicu perhatian internasional. Kala itu, Gedung Putih menyebut rekaman tersebut “sangat mengganggu” dan menyatakan telah meminta penjelasan dari Israel di tengah meningkatnya kekerasan di Tepi Barat, wilayah Palestina yang telah diduduki Israel sejak 1967.
Pada Sabtu (11/4), Kementerian Luar Negeri Israel menanggapi, mengklaim bahwa insiden tersebut telah diselidiki dan ditangani pada waktunya. Dalam pernyataannya di media sosial, Kementerian Luar Negeri Israel menilai Lee keliru karena mengangkat kembali peristiwa lama dan mengutip akun palsu. “Presiden Lee Jae-myung, entah mengapa, memilih menggali kembali cerita dari 2024 dan mengutip akun palsu yang secara keliru menggambarkannya sebagai peristiwa terkini,” tulis Kemlu Israel. Mereka juga menuduh akun yang membagikan video tersebut dikenal kerap menyebarkan disinformasi dan narasi anti-Israel.
Menanggapi eskalasi ini, Kementerian Luar Negeri Korea Selatan berupaya meredakan ketegangan di media sosial. Dalam pernyataannya, kementerian tersebut menyebut unggahan Lee – yang membandingkan dugaan pelanggaran Israel dengan kekejaman historis terhadap orang Yahudi dan rakyat Korea – sebagai seruan untuk menegakkan nilai hak asasi manusia universal, bukan sebuah sikap yang berpihak pada isu tertentu.
Kendati upaya de-eskalasi dari kementeriannya, Presiden Lee Jae-myung kembali melontarkan kritik tajam pada Sabtu ini. Ia menanggapi laporan media mengenai reaksi keras Israel terhadap pernyataannya dengan mengatakan, “Sangat mengecewakan bahwa Anda (Israel) bahkan tidak sekali pun merenungkan kritik dari orang-orang di seluruh dunia yang menderita dan berjuang akibat tindakan anti-hak asasi manusia dan anti-hukum internasional yang terus terjadi.” Lee juga menambahkan bahwa penderitaan yang dirasakan oleh satu pihak seharusnya dipahami sebagai penderitaan bersama.
Perlu dicatat bahwa Korea Selatan merupakan sekutu dekat Amerika Serikat, pendukung internasional terbesar Israel. Namun, Seoul biasanya menjaga posisi yang relatif seimbang dalam menyikapi konflik Timur Tengah dan tidak secara terbuka berpihak pada salah satu pihak, menjadikan kritik yang dilontarkan Lee kali ini sebagai sebuah pengecualian yang signifikan.