Malaysia berpotensi besar menghadapi periode krisis pasokan bahan bakar minyak (BBM) yang kritis pada pertengahan tahun ini, seiring dengan kestabilan stok yang hanya dapat dipastikan hingga April dan Mei. Situasi ini memicu kekhawatiran serius di kalangan pemerintah dan pelaku industri.
Menteri Ekonomi Malaysia, Akmal Nasrullah Mohd Nasir, menyoroti adanya tantangan signifikan terkait kepastian pasokan BBM. Ia secara tegas menyatakan, “Juni dan Juli akan menjadi periode yang sangat kritis untuk memastikan pasokan bahan bakar tersedia,” seperti yang dikutip dari Bloomberg pada Minggu (12/4). Pernyataan ini menggarisbawahi urgensi bagi negara tersebut.
Untuk mengantisipasi dan mengatasi potensi krisis ini, Pemerintah Malaysia telah menyiapkan sejumlah langkah strategis. Beberapa inisiatif penting meliputi diversifikasi sumber bahan bakar guna mengurangi ketergantungan pada satu jalur pasokan, serta memperkuat hubungan dengan mitra dagang utama untuk menjamin kontinuitas suplai. Selain ketersediaan BBM, Menteri Akmal juga menekankan pentingnya memastikan pasokan bahan baku migas bagi keberlangsungan industri selama periode krusial tersebut.
Perdana Menteri Anwar Ibrahim sebelumnya, pada awal bulan ini, telah memberikan sinyal mengenai potensi ketidakpastian pasokan BBM yang akan dimulai pada Juni. Peringatan dari pemimpin tertinggi negara ini semakin mempertegas kerentanan Malaysia terhadap gejolak di pasar energi global dan krisis energi global yang lebih luas.
Menyikapi perkembangan tersebut, Wakil Menteri Perdagangan Dalam Negeri Malaysia, Fuziah Salleh, menjelaskan bahwa saat ini memang terjadi peningkatan permintaan BBM di beberapa wilayah. Kondisi ini menyebabkan gangguan pasokan sementara di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Meski demikian, pemerintah berkomitmen penuh untuk segera melakukan langkah-langkah pemulihan pasokan.
Fuziah Salleh menegaskan, “Saya ingin menegaskan bahwa posisi pasokan bahan bakar negara masih stabil dan mencukupi.” Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak panik dan tetap melakukan pengisian serta belanja bahan bakar seperti biasanya, guna menghindari penimbunan yang justru dapat memperburuk situasi.
Dalam konteks pasokan regional, perusahaan energi nasional milik Malaysia, Petronas, secara tegas menyatakan bahwa saat ini pihaknya tidak memiliki kesepakatan pasokan BBM diesel dengan pihak manapun di Filipina. Petronas menekankan bahwa perusahaan memprioritaskan pasokan BBM bagi kebutuhan domestik Malaysia sebagai bentuk komitmen terhadap ketahanan energi dalam negeri. Pernyataan tersebut sekaligus menanggapi klaim dari Filipina mengenai adanya pengiriman 329 ribu barel diesel asal Malaysia ke negara tersebut, yang secara resmi telah dibantah oleh Malaysia.