
Di balik capaian skor ESG sebesar 55 berdasarkan penilaian S&P Global pada Februari 2026, PT WIKA Tirta Jaya Jatiluhur (WTJJ) tidak hanya menjadikan ESG sebagai alat pelaporan, tetapi juga sebagai strategi untuk bertahan dan berkembang di tengah tekanan sektor infrastruktur.
Pencapaian yang menempatkan WTJJ sebagai peringkat pertama di Indonesia dan lima besar dunia untuk kategori water ini menyimpan cerita transformasi bisnis yang lebih dalam.
Direktur Utama WTJJ, Rendy Ardiansyah dalam Katadata ESG Forum di sesi diskusi panel bertajuk “Memperkuat ESG untuk Pembiayaan dan Akselerasi Transisi energi”, Senin (6/4), mengungkapkan, adopsi ESG di perusahaannya bukan sekadar respons terhadap tren global, melainkan langkah adaptif menghadapi dinamika industri.
“ESG itu bukan hanya financing gateway, tapi juga tools untuk beradaptasi. Saat sektor infrastruktur mengalami sentimen negatif, ini membantu kami membedakan profil risiko,” ujar Rendy, di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta Selatan, Senin (6/4).
Di tengah karakteristik bisnis infrastruktur air yang padat modal dan sensitif terhadap sentimen pasar, WTJJ memilih melakukan transformasi sejak dini. Sebagai perusahaan yang relatif muda, langkah ini justru lebih mudah dilakukan karena belum terbebani sistem lama.
“Kami mulai dari mental modeling. Semua orang di dalam perusahaan harus punya visi yang sama dulu. Baru kita bisa meyakinkan investor di luar,” kata Rendy.
Transformasi ini tidak berhenti pada level strategi, tetapi diterjemahkan ke dalam langkah-langkah operasional yang konkret. Salah satu fokus utama adalah efisiensi energi, mengingat biaya energi merupakan komponen terbesar dalam pengelolaan air.
“Hampir seluruh pompa kami sudah menggunakan variable speed drive, sehingga konsumsi listrik bisa menyesuaikan kebutuhan. Ini membuat struktur biaya kami lebih fleksibel,” jelasnya.
Selain itu, perusahaan juga mulai memanfaatkan energi terbarukan serta mengintegrasikan ESG ke dalam kebijakan internal dan tata kelola perusahaan.
“Kami masukkan ESG ke dalam visi-misi dan kebijakan perusahaan. Jadi ini bukan program tambahan, tapi sudah menjadi bagian dari core bisnis,” tegas Rendy.
Pendekatan ini terbukti efektif. Pada 2025, WTJJ berhasil melakukan refinancing dari pinjaman konvensional menjadi pendanaan hijau sebesar Rp1,29 triliun. Hal ini merupakan sebuah pencapaian yang menunjukkan bahwa ESG dapat meningkatkan kepercayaan investor sekaligus memperbaiki akses pembiayaan.
Transformasi yang dilakukan WTJJ sejalan dengan perubahan yang lebih luas di pasar modal Indonesia.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Divisi Pengembangan Bisnis 2 Bursa Efek Indonesia, Ignatius Denny Wicaksono, menjelaskan, fokus investor kini semakin bergeser ke aspek keberlanjutan.
“Kalau dulu governance yang dominan, sekarang sudah bergeser ke ESG. Bahkan beberapa tahun terakhir ini fokusnya lebih ke environmental,” ujarnya.
Menurut Denny, investor memiliki beragam pendekatan dalam menilai ESG, mulai dari integrasi langsung dalam analisis investasi hingga metode penyaringan sektor tertentu.
“Karena pendekatannya berbeda-beda, kita tidak bisa bilang ada satu standar yang paling benar. Yang penting adalah menyediakan berbagai opsi agar investor bisa memilih,” jelasnya.
Untuk itu, Bursa Efek Indonesia mengembangkan berbagai instrumen, seperti ESG rating, ESG index, hingga produk obligasi berkelanjutan.
Perkembangan ini juga tercermin dari meningkatnya penerbitan green, social, dan sustainability bonds yang kini mencapai puluhan triliun rupiah. Meski demikian, Denny mengakui bahwa pasar masih dalam tahap berkembang.
Sementara itu, dari perspektif industri energi dan lingkungan, ESG juga membuka peluang ekonomi baru yang signifikan. Executive Director Indonesia Carbon Capture and Storage Center (ICCSC), Belladonna Maulianda, menyoroti potensi carbon capture and storage (CCS) sebagai motor pertumbuhan ekonomi hijau.
“Environmental sering dianggap sebagai beban. Padahal, justru bisa menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru,” ujarnya.
Menurut Belladonna, pengembangan CCS di Indonesia berpotensi mendorong pertumbuhan GDP hingga 0,88 persen pada 2030 dan menciptakan ratusan ribu lapangan kerja.
“Produk rendah karbon seperti LNG atau hidrogen bisa dijual dengan harga premium. Ini membuka peluang revenue baru,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya standar internasional dalam memastikan kredibilitas proyek ESG. “Kalau ingin menarik investor global, kita harus mengikuti standar yang diakui secara internasional,” tegasnya.
Selain itu, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam pengembangan proyek dekarbonisasi.
“Kita tidak bisa jalan sendiri. Harus ada partner yang punya teknologi, pengalaman, dan kredibilitas,” tambah Belladonna.
Dari berbagai perspektif tersebut, terlihat bahwa ESG kini tidak lagi sekadar alat pelaporan atau kepatuhan, melainkan instrumen strategis untuk menciptakan nilai.
WTJJ menunjukkan bagaimana ESG dapat digunakan untuk mentransformasi model bisnis dan meningkatkan daya tarik investasi. Bursa Efek Indonesia menyediakan ekosistem untuk menghubungkan investor dengan peluang tersebut, sementara sektor seperti CCS membuka ruang pertumbuhan baru.
“ESG ini membuat kami terlihat berbeda. Ini strategi diferensiasi kami,” ujar Rendy.
Di tengah dinamika ekonomi dan tantangan perubahan iklim, ESG bukan hanya tentang keberlanjutan, tetapi juga tentang bagaimana perusahaan bertahan, beradaptasi, dan tumbuh di masa depan.