Dunia pasar modal Indonesia sedang menyaksikan pergerakan menarik dari para konglomerat kakap Tanah Air. Dua nama besar, Franky Widjaja dari grup Sinarmas dan Sugianto Kusuma yang akrab disapa Aguan, diketahui telah melakukan aksi divestasi saham secara signifikan, bahkan sampai menghapus sepenuhnya porsi kepemilikan mereka di beberapa emiten.
Pergerakan mengejutkan terlihat dari kepemilikan saham di PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS). Menurut data kepemilikan per 31 Maret 2026, nama PT Dian Ciptamas Agung, entitas milik Franky Widjaja dari konglomerasi Sinarmas, telah lenyap sepenuhnya dari daftar pemegang saham tambang yang terafiliasi dengan Garibaldi “Boy” Thohir dan Saratoga tersebut. Padahal, hanya sebulan sebelumnya, tepatnya pada 27 Februari 2026, Dian Ciptamas Agung masih tercatat menggenggam 1,09% atau setara 160,80 juta lembar saham EMAS.
Serupa dengan Franky Widjaja, Aguan melalui PT Agung Sedayu juga teridentifikasi telah menarik diri dari kepemilikan saham PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK). Data per 31 Maret 2026 menunjukkan nama Agung Sedayu tidak lagi muncul dalam komposisi pemegang saham emiten properti tersebut, setelah sebelumnya pada 27 Februari 2026 masih menguasai 1,37% atau 77,51 juta lembar saham.
Namun demikian, aksi divestasi ini tidak berarti Aguan sepenuhnya melepaskan genggamannya dari CBDK. Ia tetap menjadi aktor sentral sebagai ultimate shareholder atau pemilik manfaat akhir saham CBDK melalui PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI), bersama dengan Alexander Halim Kusuma, Richard Halim Kusuma, dan Hindarto Budhiarto. Keluarnya Agung Sedayu dari daftar pemegang saham ini memang merupakan bagian dari restrukturisasi kepemilikan yang lebih luas.
Menariknya, aksi pelepasan saham oleh para konglomerat ini berlangsung di tengah perbedaan kinerja yang sangat kontras antara kedua emiten tersebut. Merdeka Gold Resources (EMAS) justru masih berjuang menghadapi tekanan kinerja, ditandai dengan lonjakan rugi bersih yang signifikan sepanjang tahun 2025. Sebaliknya, Bangun Kosambi Sukses (CBDK) justru menunjukkan performa yang cemerlang, berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan laba yang solid pasca-melakukan Penawaran Umum Perdana (IPO).
Kontradiksi fundamental ini bukan hanya sekadar anomali, melainkan memberikan isyarat kuat bahwa keputusan divestasi saham ini tidak semata-mata didasari oleh kinerja jangka pendek perusahaan. Lebih jauh, langkah ini mencerminkan bagian dari strategi reposisi investasi para konglomerat tersebut dalam mengantisipasi dan menangkap peluang-peluang masa depan di pasar modal.
Baca juga:
- Produksi Emas Antam Anjlok 27% pada 2025, Ini Penyebabnya
- Emiten Prajogo TPIA Balik Rugi Jadi Laba, Melonjak jadi Rp 18 T Apa Pemicunya?
- Rencana Beli Minyak Rusia, RI Kaji Dampaknya ke Negosiasi Tarif dengan AS
Kinerja Keuangan EMAS 2025
PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) mencatat kinerja finansial yang kurang memuaskan sepanjang tahun 2025. Perusahaan tambang ini membukukan rugi bersih sebesar US$27,49 juta, atau sekitar Rp459,67 miliar. Angka kerugian ini melonjak drastis hingga 116,62% dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya US$12,69 juta. Sejalan dengan itu, pendapatan EMAS juga merosot tajam, hanya mencapai US$131,96 ribu, anjlok 92,51% dari pendapatan tahun 2024 yang tercatat US$1,74 juta. Seluruh pendapatan ini mayoritas berasal dari lini bisnis penyewaan alat berat.
Meskipun beban pokok pendapatan EMAS menyusut menjadi US$277,95 ribu dari US$1,18 juta secara tahunan, lonjakan kerugian perseroan justru dipicu oleh peningkatan signifikan pada beban umum dan administrasi. Pos beban ini melesat dari US$1,01 juta pada tahun 2024 menjadi US$9,48 juta pada tahun 2025. Akibatnya, rugi usaha EMAS membengkak menjadi US$9,63 juta, jauh lebih tinggi dari US$449,79 ribu pada periode sebelumnya. Hingga akhir tahun 2025, total aset Merdeka Gold Resources tercatat sebesar US$740,63 juta.
Kinerja CBDK 2025
Berbeda nasib dengan EMAS, PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) menunjukkan performa keuangan yang impresif di tahun 2025. Emiten properti ini berhasil membukukan pendapatan bersih sebesar Rp2,50 triliun, meningkat solid 11,32% (year-on-year/yoy). Sebagian besar pendapatan tersebut disokong oleh penjualan tanah dan bangunan yang mencapai Rp2,42 triliun, naik 7,98% yoy. Lebih lanjut, pendapatan sewa perusahaan melonjak drastis hingga 3.419% yoy menjadi Rp35,47 miliar dari Rp1 miliar pada tahun 2024. Pendapatan dari kategori lain, termasuk denda keterlambatan pembayaran angsuran dan biaya ganti nama kepemilikan properti, juga terbang 670% yoy menjadi Rp47,59 miliar. Sejalan dengan kenaikan pendapatan, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga tumbuh positif 47,53% yoy, mencapai Rp1,36 triliun.
Dari sisi neraca keuangan, total aset CBDK per 31 Desember 2025 tercatat sebesar Rp22,58 triliun, bertambah 11,38% yoy. Peningkatan aset ini diiringi oleh penurunan liabilitas sebesar 11,33% yoy menjadi Rp10,59 triliun, dan meroketnya ekuitas perusahaan sebesar 43,97% yoy menjadi Rp11,98 triliun. Manajemen CBDK menjelaskan bahwa peningkatan ekuitas yang signifikan ini, lebih dari 20%, terutama disebabkan oleh keberhasilan pelaksanaan penawaran umum perdana saham (IPO) yang meraup dana Rp2,3 triliun serta penambahan saldo laba yang belum dicadangkan sebesar Rp1,3 triliun.