Cerita investor nyangkut di saham BUMN karya: sudah rugi besar, pilih bertahan

Sektor konstruksi milik negara atau BUMN Karya, yang dahulu menjadi tulang punggung pembangunan infrastruktur nasional, kini tengah berada dalam bayang-bayang tekanan serius. Kondisi ini tidak hanya menjadi sorotan dalam laporan keuangan perusahaan, tetapi juga kian dirasakan pahit oleh investor ritel yang mayoritas terjebak dalam posisi merugi hingga puluhan persen, memicu kecemasan di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Advertisements

Melemahnya kinerja fundamental dan meningkatnya risiko gagal bayar telah mengikis kepercayaan investor terhadap saham BUMN Karya. Emiten-emiten yang pernah menjadi primadona di era pembangunan masif kini berbalik arah, menjadi beban berat yang sulit dilepaskan, membuat investor ritel dihadapkan pada dilema antara bertahan atau melepas kerugian.

Penurunan tajam ini tercermin jelas dalam kinerja keuangan mereka. Sepanjang tahun 2025, mayoritas emiten konstruksi BUMN mencatatkan kerugian masif, bahkan mencapai triliunan rupiah. Lesunya laporan keuangan ini secara langsung berdampak pada sulitnya investor untuk melepaskan diri dari jeratan saham-saham BUMN Karya.

Selain itu, risiko di pasar semakin memburuk. Beberapa saham BUMN Karya kini menghadapi status suspensi yang berkepanjangan dan bahkan ancaman delisting dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Situasi ini tentu saja menambah beban berat bagi investor yang sudah terlanjur menempatkan modalnya pada perusahaan-perusahaan pelat merah ini.

Advertisements

Berikut adalah rincian kinerja keuangan emiten BUMN Karya yang mengalami tekanan:

Emiten

Perusahaan

Kinerja 2025

Kinerja 2024 (Rp)

PTPP

PT PP Tbk (PTPP)

(Rp 8,08 triliun)

(Rp 1,8 triliun)

PPRE

PT PP Presisi Tbk

(Rp 1,34 triliun)

Rp 197,98 miliar

PPRO

PT PP Properti Tbk

(Rp 4,84 triliun)

(Rp 1,09 triliun)

WIKA

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk

(Rp 10,18 miliar)

(Rp 2,59 miliar)

WTON

PT Wijaya Karya Beton Tbk

Rp 5,7 miliar

Rp 67,56 miliar

WEGE

Wijaya Karya Bangunan Gedung

(Rp 627,92 miliar)

Rp 56,6 miliar

WSKT

PT Waskita Karya

(Rp 4,36 triliun)

(Rp 3,83 triliun)

WSBP

Waskita Beton Precast

(Rp 495,46 miliar)

(Rp 920,21 miliar)

ADHI

PT Adhi Karya Tbk

(Rp 5,56 triliun)

Rp 113,26 miliar

ADCP

PT Adhi Commuter Properti Tbk

Belum diumumkan

Rp 42,8 miliar

Sumber: diolah dari laporan keuangan perusahaan

Investor Terjebak, Pilih Bertahan

Kisah Fahrezi (26), seorang investor ritel, menggambarkan bagaimana banyak pihak kini “terjebak” dalam saham BUMN Karya. Sejak 2020, ia menahan saham Adhi Karya (ADHI) yang dibelinya dengan optimisme tinggi terhadap prospek pembangunan infrastruktur yang kala itu begitu masif. Ia juga mengoleksi saham anak usahanya, ADCP, serta Waskita Karya (WSKT), tergiur oleh proyek-proyek strategis seperti tol, LRT, dan pengembangan kawasan hunian berbasis transportasi.

Memulai investasi di pasar modal setelah lulus SMA, Fahrezi membeli saham ADHI di harga rata-rata sekitar Rp 820, dengan harapan mencapai Rp 1.200. Namun, kenyataan pahit menghampirinya. Hingga kini, ia mencatatkan kerugian signifikan sekitar 70% dan memilih untuk tetap menahan sahamnya, bahkan tanpa ekspektasi harga akan pulih. “Sepertinya bakal hold saja. Saya sudah enggak berharap naik sih, ragu kalau untuk balik ke harga awal saya beli,” ungkap Fahrezi.

Bagi Fahrezi, saham ADHI di portofolionya kini berfungsi sebagai pengingat berharga untuk lebih berhati-hati dalam setiap keputusan investasi. Ia mengakui semakin pesimistis melihat kinerja keuangan perusahaan yang tak kunjung membaik dan sejumlah proyek yang terhambat. Prospek sektor konstruksi ke depan pun dianggap kurang menarik, terutama dengan pergeseran fokus pemerintah ke sektor pangan, energi, dan industri ekstraktif. “Tapi untungnya sekarang nominal portofolio saham saya bertambah, tapi pengalaman beli saham ADHI bakal terus membekas,” tambahnya.

Meskipun demikian, Fahrezi masih melihat secercah harapan dari wacana merger Adhi Karya di bawah holding Danantara, yang berpotensi membawa perbaikan dari sisi efisiensi dan skala aset. Namun, ia berpandangan bahwa permasalahan inti BUMN Karya bukan terletak pada aspek manajerial, melainkan pada ketergantungan akut terhadap proyek-proyek pemerintah. Menurutnya, ketika pemerintah mendorong proyek-proyek berskala jumbo dengan dampak yang belum terukur, BUMN Karya seringkali terpaksa menjalankannya, yang justru membebani kinerja keuangan dan berujung pada kasus gagal bayar, seperti yang menimpa Waskita Karya. “Jadi menurut saya dipantau saja sambil terus berdoa,” pungkasnya.

Ekspektasi IKN Berujung Kerugian

Tak hanya Fahrezi, Dessy (41), investor ritel lainnya, juga merasakan kepedihan serupa. Ia mulai mengoleksi saham Waskita Karya (WSKT) dan Wijaya Karya (WIKA) sejak 2020, terdorong oleh optimisme besar terhadap proyek mercusuar Ibu Kota Nusantara (IKN). Sayangnya, realitas pasar jauh dari ekspektasi, menyebabkan Dessy mencatat kerugian hingga 70% dari investasinya.

Meskipun demikian, Dessy memilih untuk tetap menahan saham-saham tersebut. Ia enggan melakukan cut loss saat ini, khawatir kerugian akan semakin membengkak. “Kalau cut loss jadi rugi banget, jadi ekspektasi seenggaknya tunggu ruginya nyusut sampai 30%,” jelasnya, menyoroti dilema yang dihadapi banyak investor yang terjebak.

Kekecewaan Dessy terhadap pasar saham domestik semakin memuncak, terutama pada saham pelat merah seperti WSKT dan WIKA yang kini tertekan. Ia berpendapat bahwa saham BUMN, yang seharusnya ditopang fundamental kuat, justru seringkali menjadi objek “gorengan” di pasar. “Korban saham gorengan negara, harus ngadu siapa coba,” ujarnya dengan nada frustrasi.

Kondisi WIKA dan WSKT kian memprihatinkan. Saham WIKA saat ini telah disuspensi oleh bursa akibat penundaan pembayaran kewajiban obligasi dan sukuk yang jatuh tempo pada 3 Maret 2026. Otoritas BEI bahkan secara tegas menyatakan bahwa penundaan ini mengindikasikan adanya permasalahan serius pada kelangsungan usaha perseroan. Lebih lanjut, saham WSKT juga berada di ambang batas, dengan ancaman delisting yang sempat diumumkan oleh Bursa Efek Indonesia, menambah daftar panjang tekanan bagi investor dan perusahaan.

Saat ini, saham WIKA diperdagangkan di level Rp 204 dengan kapitalisasi pasar Rp 8,13 triliun, sementara WSKT berada di Rp 202 dengan kapitalisasi pasar Rp 5,82 triliun, mencerminkan nilai pasar yang tertekan parah akibat berbagai isu yang melanda.

Nyangkut di PPRE

Kisah Aji (35) menambah daftar panjang investor ritel yang “tersangkut” di saham BUMN Karya. Ia memutuskan masuk ke saham PP Presisi (PPRE) setelah melihat pola candlestick yang menunjukkan tren kenaikan, ditambah lagi dengan rekomendasi menarik dari komunitas trader.

Pengalaman manis sebelumnya juga menjadi pendorong. Aji sempat meraih keuntungan dari saham PPRE dan berhasil melakukan taking profit. Keberhasilan tersebut mendorongnya untuk kembali masuk ke saham PPRE menjelang rilis laporan keuangan. Namun, kali ini, pergerakan saham tidak sesuai harapan, meninggalkan Aji dalam posisi merugi sekitar 54%.

Meski kerugiannya sudah cukup dalam, Aji memilih untuk membiarkan saham PPRE tetap di portofolionya tanpa ada rencana cut loss. “Didiemin aja sih. Mau cut loss udah kejauhan, jadi buat investasi longterm aja berharap naik,” ungkap Aji kepada Katadata.co.id pada Kamis (8/4), menunjukkan sikap pasrah namun tetap menyimpan harapan akan kebangkitan di masa depan.

Advertisements