
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) akan membagikan dividen tunai yang mengesankan kepada para pemegang sahamnya untuk tahun buku 2025, dengan total nilai mencapai Rp 52,10 triliun. Angka ini setara dengan Rp 346 per saham, menunjukkan komitmen kuat perseroan dalam mengembalikan nilai kepada investor.
Melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), perusahaan merinci bahwa jumlah dividen tersebut sudah termasuk dividen interim sebesar Rp 137 per saham yang telah dicairkan pada 15 Januari 2026. Dengan demikian, sisa dividen tunai yang akan didistribusikan kepada pemegang saham adalah sebesar Rp 209 per saham. Secara total, sisa dividen tunai yang akan dibayarkan mencapai Rp 31.470.159.890.136,00.
Untuk memastikan proses berjalan lancar, pembayaran dividen final ini dijadwalkan pada 8 Mei 2026. Hak atas dividen akan diberikan kepada pemegang saham yang namanya tercatat dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) pada 22 April 2026, yang ditetapkan sebagai tanggal pencatatan (recording date). Periode perdagangan saham dengan hak dividen (cum dividen) di pasar reguler dan negosiasi akan berlangsung hingga 20 April 2026, sementara di pasar tunai hingga 22 April 2026.
Selanjutnya, saham akan diperdagangkan tanpa hak dividen (ex dividen) mulai 21 April 2026 untuk pasar reguler dan negosiasi, serta 23 April 2026 untuk pasar tunai. Para investor diharapkan memperhatikan jadwal ini untuk memastikan mereka mendapatkan hak dividen BBRI.
Mekanisme pembayaran dividen BBRI ini akan diatur secara efisien. Bagi pemegang saham yang sahamnya berada dalam penitipan kolektif, dividen akan disalurkan melalui PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan langsung didistribusikan ke rekening dana nasabah pada perusahaan efek atau bank kustodian pada tanggal pembayaran. Sementara itu, pemegang saham warkat akan menerima transfer dividen langsung ke rekening masing-masing, memastikan kemudahan akses dana bagi seluruh investor.
BRI Raup Laba Bersih Rp 57,13 T pada 2025
Kinerja keuangan yang menjadi landasan pembagian dividen ini menunjukkan pencapaian laba bersih PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sepanjang tahun 2025 sebesar Rp 57,13 triliun. Angka ini mencerminkan sedikit penurunan sekitar 5,2 persen dibandingkan laba bersih tahun 2024 yang mencapai Rp 60,3 triliun, namun tetap menunjukkan fundamental yang solid.
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, dalam konferensi pers virtual pada Kamis (26/2), menjelaskan bahwa total aset BRI berhasil tumbuh sebesar 7,1 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi Rp 2.135 triliun. Selain itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) perusahaan juga menunjukkan kenaikan signifikan sebesar 7,4 persen (yoy), mencapai Rp 1.467 triliun. Pertumbuhan DPK ini sebagian besar didorong oleh peningkatan dana murah (CASA), yang berkontribusi positif terhadap efisiensi biaya dana.
Efisiensi biaya operasional BBRI juga terlihat dari penurunan cost of fund dari DPK pada akhir tahun 2025 menjadi 2,9 persen. Angka ini membaik secara signifikan dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2024 yang tercatat sebesar 3,1 persen. Perbaikan fundamental kinerja BRI ini secara langsung berdampak positif terhadap capaian laba bersih perseroan.
Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit BRI mengalami kenaikan impresif sebesar 12,3 persen (yoy), mencapai Rp 1.521 triliun. Penyaluran kredit ini secara khusus difokuskan pada segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), menegaskan komitmen BRI dalam mendukung perekonomian akar rumput. Pencapaian pertumbuhan kredit ini bahkan tercatat lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan kredit perbankan nasional pada tahun 2025, yang berada di angka 9,6 persen (yoy).