Suspensi dicabut, saham FITT melonjak 24,73% pasca pengumuman peralihan usaha

Babaumma JAKARTA – Saham PT Hotel Fitra International Tbk. (FITT) melambung tinggi dalam perdagangan Selasa (14/4/2026), pasca suspensinya dicabut Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak sesi I perdagangan Rabu (1/4/2026).

Advertisements

Sebelumnya BEI mengenakan suspensi pada 31 Maret 2026 lantaran terjadi penurunan harga saham kumulatif yang signifikan. Lonjakan harga saham ini juga bertepatan dengan pengumuman peralihan bisnis perseroan.

Hari ini, Selasa (14/4) pukul 11.46 WIB, harga saham FITT bertengger di Rp464 atau menguat 24,73%. Walau demikian, secara year to date (YtD) level harga tersebut mencerminkan koreksi 16,40%.

Emiten perhotelan yang kini berencana beralih bisnis ke sektor pertambangan tersebut melakukan penawaran umum perdana atas 220 juta saham pada 2019, dan sukses meraup dana segar sebesar Rp22 miliar dari IPO-nya. FITT tercatat di BEI pada 11 Juni 2019 dengan harga perdana Rp102. Di level harga sekarang, harga saham FITT berarti telah melambug 354,90% sejak resmi melantai di bursa.

Advertisements

: Hotel Fitra (FITT) Akan Banting Setir ke Sektor Usaha Pertambangan

Direktur Utama FITT Joni Rizal mengatakan bahwa suspensi yang dilakukan BEI merupakan bagian dari mekanisme pengawasan pasar, dan sampai saat ini tidak terdapat informasi atau fakta material yang dapat memengaruhi nilai efek perusahaan maupun keputusan investasi pemodal. 

Dia juga menegaskan bahwa pergerakan harga saham FITT serta volume transaksi yang tercatat sekarang merupakan murni dinamika pasar.

“Seluruh keterbukaan informasi telah disampaikan sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam regulasi pasar modal, termasuk Peraturan OJK terkait keterbukaan informasi. Dengan langkah restrukturisasi dan rencana ekspansi yang tengah disiapkan, FITT optimistis dapat memperbaiki kinerja dan menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham dalam jangka panjang,” ujarnya dalam online public expose insidentil, Selasa (14/4/2026).

Adapun, lonjakan harga saham FITT hari ini bertepatan juga dengan pengumuman peralihan bisnis perseroan ke sektor pertambangan. Joni menjelaskan bahwa pengalihan fokus bisnis ini sehubungan dengan telah terjadinya perubahan pengendali baru melalui akuisisi PT Jinlong Resources Investment pada akhir 2025 lalu.

Perseroan, Joni bilang, berencana tidak akan lagi melanjutkan kegiatan usaha sebelumnya yang berdasarkan evaluasi manajemen dinilai belum menunjukkan kinerja yang optimal, memiliki skala usaha terbatas, serta belum memberikan sinergi yang memadai. 

“Dalam jangka waktu tiga hingga lima tahun ke depan, perseroan merencanakan pengembangan usaha pada sektor sumber daya pertambangan, jasa pertambangan, dan perdagangan produk tambang,” terangnya.

“Berdasarkan laporan keuangan terbaru yang dirilis perseroan, dalam periode Januari-September 2025 FITT membukukan rugi tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau rugi bersih sebesar Rp5,66 miliar. Rugi bersih ini mengecil dibanding rugi bersih periode yang sama 2024 sebesar Rp6,95 miliar. Di sisi top line, perseroan juga mencatat koreksi pendapatan dari Rp9.89 miliar menjadi Rp6,36 miliar.

“Pengembangan usaha [pertambangan] ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif terhadap kinerja keuangan perseroan di masa mendatang,” pungkasnya.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Advertisements