Di forum IMF 2026, BI yakinkan investor global soal stabilitas ekonomi RI

Bank Indonesia (BI) kembali menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah gejolak dan ketidakpastian global. Penegasan ini disampaikan dalam rangkaian acara prestisius IMF Spring Meeting 2026 yang diselenggarakan di Amerika Serikat, di mana perwakilan BI turut hadir.

Advertisements

Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan bahwa arah bauran kebijakan ekonomi Indonesia saat ini berada di jalur yang sangat tepat dan strategis. Fokus utama kebijakan ini adalah menjaga stabilitas makroekonomi serta memperkokoh ketahanan eksternal. Upaya krusial ini diwujudkan melalui serangkaian langkah konkret, seperti pengelolaan suku bunga yang cermat, stabilisasi nilai tukar rupiah yang adaptif, dan penguatan likuiditas domestik yang berkelanjutan.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Perry Warjiyo menekankan, “Kami akan terus memastikan bauran kebijakan yang konsisten dan responsif untuk secara efektif menjaga stabilitas serta secara aktif mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah dinamika global yang terus berubah.” Pernyataan tegas ini disampaikan Perry dalam keterangan resmi yang dirilis pada Selasa (14/4).

Sinergi kebijakan moneter BI semakin solid dengan komitmen fiskal pemerintah. Pemerintah secara konsisten menjaga defisit anggaran agar tetap terkendali, berada di bawah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Langkah ambisius ini diimplementasikan melalui reformasi subsidi yang signifikan dan pengalihan alokasi belanja negara ke sektor-sektor yang jauh lebih produktif dan memiliki daya dorong ekonomi.

Advertisements

Tidak hanya berfokus pada pembahasan kebijakan internal, dalam rangkaian kegiatan IMF Spring Meeting tersebut, Gubernur Perry Warjiyo juga berperan aktif sebagai pembicara. Ia tampil dalam sebuah forum akademik bergengsi di Harvard Kennedy School, berdiskusi bersama ekonom terkemuka seperti Jeffrey A. Frankel dan M. Chatib Basri.

Diskusi yang sangat relevan dan mendalam tersebut mengangkat tema “Stability in an Age of Shocks: Rethinking Macro Policy in a Fragmented World”. Forum ini secara khusus menyoroti meningkatnya kompleksitas ekonomi global saat ini, yang diakibatkan oleh berbagai faktor seperti fragmentasi geopolitik yang kian tajam, intensitas ketegangan geopolitik, dan lonjakan volatilitas pasar keuangan global yang tidak terduga.

Profesor Jeffrey A. Frankel, salah satu panelis, dalam diskusinya mengemukakan bahwa guncangan global kini terjadi dengan frekuensi yang jauh lebih sering dan semakin sulit untuk diprediksi. Menanggapi pandangan ini, Gubernur Perry Warjiyo menekankan esensi pentingnya penerapan kebijakan yang kredibel, fleksibel, dan terkoordinasi secara erat. Kebijakan semacam ini, menurutnya, vital untuk tidak hanya menjaga stabilitas, tetapi juga secara aktif mendorong pertumbuhan berkelanjutan.

Di luar agenda pertemuan dengan investor dan para akademisi, Bank Indonesia juga secara aktif memperkuat koordinasi internasional dengan berbagai perwakilan Indonesia di tingkat global. Salah satu pertemuan penting adalah dengan Umar Hadi di New York. Interaksi ini menjadi sarana krusial untuk pertukaran pandangan yang mendalam mengenai berbagai dinamika global yang berpotensi signifikan memengaruhi arah dan formulasi kebijakan ekonomi nasional Indonesia.

Pada akhir rangkaian acara, Gubernur Perry Warjiyo kembali menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kokoh dan resilient. Kekuatan ini ditopang oleh pilar utama, yaitu pertumbuhan yang stabil, tingkat inflasi yang terkendali dengan baik, serta sinergi yang sangat erat dan harmonis antara kebijakan moneter dan kebijakan fiskal yang diterapkan pemerintah.

Advertisements