Penyebab rupiah Indonesia melemah: Ini faktor eksternal dan internal

Nilai tukar Rupiah Indonesia kembali melemah, tertekan oleh kekhawatiran akan pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang signifikan, serta dampak berkelanjutan dari konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Kombinasi sentimen negatif ini memberikan tekanan serius pada nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam perdagangan pagi ini.

Advertisements

Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa (14/4) pukul 09.05 WIB, rupiah melemah ke level Rp17.130 per dolar AS. Angka ini menunjukkan penurunan 25 poin atau sekitar 0,15 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan Senin sore (13/4) yang berada di Rp17.105 per dolar AS.

Rupiah Indonesia Melemah

Rupiah Melemah (ANTARA)

Advertisements

Pada perdagangan Selasa pagi, rupiah Indonesia tercatat kembali melemah 25 poin atau sekitar 0,15 persen, mencapai level Rp17.130 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di Rp17.105 per dolar AS. Menurut analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, pelemahan ini tidak terlepas dari sentimen domestik yang masih lesu.

“Pelemahan ini secara gamblang menyoroti sentimen domestik yang masih sangat rapuh. Beberapa faktor pendorongnya meliputi kekhawatiran akan defisit anggaran yang membengkak, penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi, cadangan devisa (cadev) yang terus tergerus, dan surplus perdagangan yang semakin menyusut,” jelas Lukman kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.

Secara lebih rinci, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) per Maret 2026 tercatat mengalami lonjakan drastis hingga sekitar Rp240,1 triliun, atau naik 140 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Di samping itu, cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2026 tercatat sebesar 148,2 miliar dolar AS.

Dari sektor perdagangan, neraca Indonesia pada Februari 2026 memang masih mencatatkan surplus sebesar 1,27 miliar dolar AS, dengan total ekspor mencapai 22,17 miliar dolar AS dan impor sebesar 20,89 miliar dolar AS. Meskipun demikian, surplus ini sedikit meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 0,95 miliar dolar AS, utamanya didorong oleh penurunan impor migas.

Di sisi lain, proyeksi pertumbuhan ekonomi global dari Bank Dunia juga mengalami revisi turun menjadi 4,7 persen dari estimasi awal 4,8 persen. Kendati demikian, rupiah diproyeksikan masih akan berangsur menguat seiring membaiknya sentimen global dan penurunan harga minyak di bawah 100 dolar AS per barel, termasuk harapan investor terhadap kelanjutan perundingan damai AS-Iran. Dengan mempertimbangkan dinamika beragam ini, rupiah diperkirakan akan bergerak dalam rentang Rp17.050 hingga Rp17.150 per dolar AS.

Penyebab Rupiah Indonesia Melemah

Pelemahan rupiah Indonesia merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor eksternal dan internal. Untuk memitigasi dampaknya, diperlukan strategi komprehensif seperti hedging, diversifikasi aset, serta kebijakan moneter yang responsif. Upaya menjaga stabilitas rupiah juga menuntut sinergi kuat antara pemerintah dan lembaga terkait. Berikut adalah penjabaran penyebab rupiah Indonesia melemah:

Faktor Eksternal

  • Kebijakan moneter AS: Kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) cenderung memperkuat dolar AS, yang secara langsung memicu tekanan pada nilai tukar rupiah.
  • Krisis ekonomi global: Ketidakstabilan perekonomian di kawasan seperti Eropa atau perang dagang antara AS dan Tiongkok dapat mendorong investor untuk beralih ke aset aman seperti dolar AS, yang berdampak pada mata uang negara berkembang termasuk rupiah.

Faktor Internal

  • Inflasi: Tingkat inflasi yang tinggi dapat mengikis kepercayaan terhadap mata uang domestik, memicu tekanan jual pada rupiah.
  • Defisit anggaran: Pengeluaran pemerintah yang melampaui pendapatan dapat meningkatkan tekanan pada rupiah, khususnya jika kebutuhan pembiayaan diatasi dengan utang.
  • Kebijakan moneter Bank Indonesia: Penyesuaian suku bunga acuan dan intervensi di pasar valuta asing oleh Bank Indonesia memegang peran krusial dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
  • Faktor politik: Ketidakpastian politik dapat memicu keluarnya modal investor asing dari dalam negeri, yang pada gilirannya berdampak pada perlemahan rupiah.

Secara keseluruhan, rupiah Indonesia melemah dipengaruhi oleh konvergensi berbagai sentimen negatif, baik dari dinamika domestik maupun gejolak global. Kekhawatiran akan pelebaran defisit APBN hingga ancaman geopolitik yang terus berlanjut menjadi pemicu utama. Tekanan-tekanan tersebut secara konsisten membuat nilai tukar rupiah bergerak tertekan terhadap dolar AS dalam perdagangan terkini.

Advertisements