Peran masyarakat kelas menengah dalam menggerakkan ekonomi Indonesia sangatlah krusial. Pada tahun 2024, segmen ekonomi ini tercatat menyumbang sebesar 81,5 persen terhadap total konsumsi rumah tangga, sebuah komponen vital yang mendominasi separuh dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia secara keseluruhan.
Namun, gambaran optimis ini kini dihadapkan pada tantangan serius. Riset terbaru dalam laporan Katadata Indonesia Middle Class Insight (KIMCI) 2026 mengungkapkan bahwa tingginya kebutuhan hidup membayangi kelas menengah dengan ancaman defisit finansial. Kondisi ini terjadi ketika pengeluaran mereka melampaui penghasilan, menciptakan tekanan ekonomi yang signifikan.
Kondisi ini bukan sekadar teori; data menunjukkan bahwa enam dari sepuluh responden, atau sekitar 63,6 persen, pernah merasakan langsung situasi ‘Besar Pasak daripada Tiang’. Angka ini secara jelas menggarisbawahi betapa rapuhnya ketahanan finansial sebagian besar kelas menengah dalam menghadapi berbagai guncangan ekonomi.
Kholis Dana Prabowo, seorang Research Analyst di Katadata Insight Center, menjelaskan dalam Katadata IDE Forum 2026 pada Rabu (14/4) bahwa fenomena ini semakin meluas. Menurutnya, hal ini bukan disebabkan oleh meningkatnya kerentanan individu, melainkan karena struktur ekonomi yang kian kompleks dan menuntut.
Survei ini melibatkan 1.000 responden berusia 18 hingga 60 tahun dengan rentang penghasilan antara Rp 2 juta hingga Rp 10 juta per bulan. Partisipan riset tersebar luas di berbagai wilayah, meliputi Jawa (59,3 persen), Sumatra (19,6 persen), Bali dan Nusa Tenggara (5,9 persen), Kalimantan (7,6 persen), Sulawesi (5,7 persen), serta Maluku Papua (1,9 persen).
Situasi ini tentu saja menghadirkan bayang-bayang terhadap capaian target ekonomi nasional. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) sendiri memproyeksikan bahwa Indonesia berpotensi menjadi negara maju dengan pendapatan per kapita setara pada tahun 2045. Namun, prasyaratnya adalah jika proporsi kelas menengah berhasil mencapai 70 persen dari total populasi, sebuah target yang kini terancam oleh ketidakstabilan finansial mereka.
Ragam Jurus Bertahan Kelas Menengah
Menghadapi tekanan defisit finansial, riset tersebut mengidentifikasi berbagai strategi bertahan yang diterapkan kelas menengah. Jurus utama, yang dipilih oleh 76,3 persen responden, adalah dengan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki. Selanjutnya, 36,5 persen responden memilih untuk mencari dana tambahan di luar skema pinjaman tradisional.
Pilihan lainnya termasuk meminjam dari teman, keluarga, atau individu lain (26,8 persen), memanfaatkan layanan paylater (15,5 persen), mencari pinjaman berbunga non-daring (14,1 persen), menggunakan fasilitas kredit (14 persen), mencari pinjaman daring (9,4 persen), hingga terpaksa menunda pembayaran tagihan (7,6 persen).
Salah satu strategi yang menonjol adalah mengambil pekerjaan sampingan. Ivan Triyogo Priambodo, Vice President Finance & Business Development Katadata, mengungkapkan bahwa 46,3 persen responden memiliki pekerjaan tambahan ini. Ia menegaskan, “Pekerjaan sampingan bukan sekadar tambahan, melainkan sebuah lapisan pengaman yang krusial bagi mereka.”
Motivasi utama di balik pengambilan pekerjaan sampingan adalah untuk meningkatkan pendapatan demi memenuhi kebutuhan hidup serta mempercepat akumulasi tabungan. Selain itu, pekerjaan tambahan ini juga dimanfaatkan untuk mengembangkan minat dan bakat, mencapai tujuan finansial jangka panjang, dan memperluas relasi.
Komitmen terhadap strategi ini terlihat jelas, di mana hampir seluruh responden yang memiliki pekerjaan sampingan menyatakan niat mereka untuk terus melanjutkannya hingga lima tahun mendatang, menunjukkan betapa pentingnya peran pekerjaan ini dalam perencanaan finansial mereka.
Meskipun menghadapi beban pengeluaran wajib yang tinggi, riset juga menyoroti aspek ketahanan lain: disiplin finansial. Rata-rata kelas menengah tetap konsisten menyisihkan 22 persen dari penghasilan mereka untuk tabungan, sebuah indikasi kuat akan kesadaran mereka terhadap masa depan.
Lebih lanjut, telah terjadi pergeseran pilihan produk keuangan yang signifikan. Responden kini cenderung beralih dari simpanan di bank menuju aset produktif seperti reksadana dan emas. Langkah ini diambil dengan tujuan strategis untuk memproteksi nilai kekayaan mereka dari dampak inflasi yang terus menggerus daya beli.
Pada aspek perilaku belanja, hampir separuh responden menunjukkan prioritas yang berbeda. Mereka lebih mempertimbangkan kualitas, kegunaan, dan pengalaman yang ditawarkan suatu produk dibandingkan hanya terpaku pada faktor harga—baik itu produk murah maupun yang berorientasi pada gengsi.