Apa itu asfiksia? Diduga jadi penyebab kematian Yai Mim

Berita duka menyelimuti dunia pendidikan, khususnya UIN Maulana Malik Ibrahim, menyusul meninggalnya mantan dosennya, Imam Muslimin, yang akrab disapa Yai Mim. Beliau berpulang pada Senin, 13 April 2026, saat hendak menjalani pemeriksaan di Polresta Malang Kota, sebuah insiden yang meninggalkan banyak pertanyaan.

Advertisements

Hasil visum dari Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang mengungkapkan bahwa penyebab kematian Yai Mim mengarah pada asfiksia. Padahal, sebelumnya kondisi kesehatan Yai Mim dinyatakan stabil, dengan tekanan darah 110/80 saat menjalani pemeriksaan pada pukul 08.59 WIB.

Namun, tak disangka, sekitar pukul 13.45 WIB, Yai Mim tiba-tiba terjatuh saat berjalan dari ruang tahanan nomor 4 menuju ruang pemeriksaan. Petugas segera membawanya ke rumah sakit, namun takdir berkata lain; Yai Mim menghembuskan napas terakhir dalam perjalanan.

Kematian mendadak ini tentu memunculkan pertanyaan besar: apa sebenarnya asfiksia yang menjadi penyebab berpulangnya Yai Mim?

Advertisements

Baca juga:

  • Perbedaan Pneumonia Biasa dan Mycoplasma Pneumonia, Ketahui Gejalanya
  • Cara Ampuh Cegah Infeksi Mycoplasma Pneumonia
  • Apa Itu Covid Cicada? Varian Covid Baru yang Telah Merebak di 25 Negara

Apa Itu Asfiksia?

Mengutip informasi dari laman resmi Halodoc, asfiksia adalah kondisi medis serius ketika tubuh tidak mendapatkan pasokan oksigen yang memadai. Kekurangan oksigen ini bisa berakibat fatal, mulai dari pingsan hingga kematian, jika tidak segera mendapatkan penanganan medis yang tepat.

Secara normal, proses pernapasan memungkinkan oksigen masuk ke dalam tubuh melalui hidung atau mulut, kemudian bergerak melalui saluran pernapasan hingga mencapai paru-paru. Di paru-paru, oksigen akan diserap ke dalam darah untuk selanjutnya diedarkan ke seluruh jaringan dan organ vital tubuh.

Asfiksia terjadi ketika proses vital tersebut terganggu, sehingga tubuh tidak mampu memperoleh oksigen yang dibutuhkan. Ada beragam faktor yang dapat menjadi pemicu seseorang mengalami kondisi ini. Umumnya, asfiksia muncul ketika aliran oksigen menuju tubuh terhambat, baik karena gangguan pada saluran pernapasan itu sendiri maupun akibat faktor eksternal lainnya. Berikut adalah beberapa penyebab asfiksia yang penting untuk diketahui:

1. Tenggelam

Saat seseorang tenggelam, air yang masuk ke dalam paru-paru akan secara drastis menghambat proses pernapasan. Paru-paru yang terisi air tidak lagi mampu mengalirkan oksigen ke dalam darah secara optimal, menyebabkan jaringan dan organ tubuh mengalami defisiensi oksigen yang parah.

2. Paparan Zat Kimia Berbahaya

Asfiksia juga dapat diakibatkan oleh menghirup zat-zat tertentu yang mengganggu pasokan oksigen dalam tubuh. Zat-zat ini dapat menggantikan posisi oksigen di paru-paru atau menghambat distribusinya ke seluruh jaringan tubuh. Beberapa zat berbahaya yang berpotensi memicu kondisi ini meliputi karbon monoksida, sianida, hidrogen sulfida, serta berbagai bahan kimia yang umumnya ditemukan dalam produk pembersih rumah tangga.

3. Anafilaksis

Anafilaksis adalah reaksi alergi berat yang dapat dipicu oleh obat-obatan, makanan tertentu, atau gigitan hewan. Ketika anafilaksis terjadi, sistem kekebalan tubuh melepaskan zat kimia seperti histamin yang menyebabkan pembengkakan di berbagai bagian tubuh, termasuk saluran pernapasan. Pembengkakan ini bisa menyumbat saluran napas, menghalangi aliran oksigen ke paru-paru, dan mengakibatkan kekurangan oksigen yang serius, berujung pada asfiksia jika tidak ditangani segera.

4. Asma

Asma merupakan kondisi kronis yang ditandai dengan peradangan pada saluran pernapasan. Penyakit ini dapat dipicu oleh berbagai faktor, seperti alergen, paparan zat kimia atau polusi udara, infeksi saluran pernapasan, bahkan stres. Ketika terjadi serangan asma yang parah, saluran pernapasan akan membengkak dan menyempit secara signifikan. Kondisi ini dapat menghambat aliran oksigen ke dalam tubuh, meningkatkan risiko terjadinya asfiksia.

5. Posisi Tubuh yang Salah

Asfiksia juga bisa disebabkan oleh posisi tubuh tertentu yang menekan saluran pernapasan, menghambat aliran oksigen ke paru-paru. Jika hanya berlangsung sementara, kondisi ini umumnya tidak membahayakan. Namun, bila posisi tersebut bertahan dalam jangka waktu lama, risiko asfiksia dapat meningkat tajam. Ini sering terjadi pada individu yang tidak dapat mengubah posisi tubuhnya sendiri, seperti bayi atau pasien dengan kelumpuhan. Pada bayi, situasi ini bahkan dapat memicu kondisi serius yang dikenal sebagai Sudden Infant Death Syndrome (SIDS).

6. Kejang

Ketika seseorang mengalami kejang, napas bisa terhenti sementara, mengganggu masuknya oksigen ke paru-paru. Gerakan menyentak berulang selama kejang juga berpotensi menyebabkan benda asing menghalangi atau menutup saluran pernapasan, memperburuk kondisi kekurangan oksigen.

7. Penyakit atau Cedera

Asfiksia juga dapat timbul akibat cedera pada saluran pernapasan atau struktur yang vital dalam proses bernapas, seperti otot dan tulang. Sebagai contoh, patah tulang leher atau tulang rusuk dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk bernapas secara normal. Kondisi ini bisa menyebabkan jalan napas terhambat atau menimbulkan nyeri hebat saat bernapas, sehingga tarikan napas menjadi terbatas dan pasokan oksigen ke tubuh pun berkurang.

Gejala Asfiksia

Seseorang yang mengalami asfiksia akan menunjukkan berbagai gejala yang berhubungan langsung dengan gangguan pernapasan dan kekurangan oksigen dalam tubuh. Berikut adalah beberapa tanda dan gejala asfiksia yang perlu diwaspadai:

  • Kesulitan berbicara
  • Kesulitan menelan, seringkali akibat tersedak makanan
  • Batuk yang terus-menerus
  • Sesak napas (dispnea)
  • Napas dengan sangat cepat (hiperventilasi)
  • Suara menjadi serak
  • Pusing atau sensasi melayang
  • Sakit kepala yang intens
  • Perubahan warna pada wajah atau bibir, menjadi merah, ungu, biru, atau abu-abu
  • Pingsan atau penurunan kesadaran.

Cara Mencegah Asfiksia

Mengingat dampaknya yang fatal, upaya pencegahan asfiksia sangatlah penting. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk meminimalkan risiko terjadinya asfiksia:

  • Mengunyah makanan secara perlahan dan menyeluruh
  • Pastikan makanan sudah tertelan sepenuhnya sebelum berbicara
  • Selalu awasi anak-anak ketika mereka sedang makan
  • Jauhkan anak di bawah usia 5 tahun dari benda-benda kecil yang berpotensi menyebabkan tersedak, kecuali dalam pengawasan ketat
  • Jika makanan sulit dikunyah, potonglah menjadi ukuran yang lebih kecil dan mudah ditelan
  • Bagi penderita alergi makanan atau asma, selalu siapkan dan bawa obat-obatan yang diresepkan
  • Rutin periksa komposisi makanan yang dibeli, terutama jika memiliki alergi tertentu
  • Selalu awasi anak-anak saat berenang, dan pastikan mereka menggunakan pelampung jika belum mahir berenang
  • Pasang detektor gas karbon monoksida di dalam rumah untuk mendeteksi dini kebocoran gas berbahaya
  • Hindari tempat kerumunan yang sangat padat dan berpotensi menghambat pernapasan
  • Jika sedang mengonsumsi opioid sebagai pereda nyeri, jangan pernah mengubah dosis tanpa konsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

Demikianlah ulasan mendalam mengenai apa itu asfiksia, mulai dari definisi, penyebab asfiksia, hingga cara mencegah asfiksia, yang kini menjadi sorotan setelah insiden meninggalnya Yai Mim.

Advertisements