
Menteri Dalam Negeri Amerika Serikat (AS) Doug Burgum mengatakan sejumlah negara Asia ingin membeli lebih banyak pasokan energi dari Amerika. Hal ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada impor energi yang berasal dari Timur Tengah, dimana pasokannya terhambat sejak terjadinya perang di kawasan tersebut.
Amerika Serikat merupakan produsen minyak dan gas terbesar di dunia. “Sekutu dan mitra kami dapat membeli (minyak) dari kami, alih-alih harus membeli dari negara-negara yang berperang atau mendanai terorisme,” kata Burgum, pada awal Maret, dikutip dari CNBC, Kamis (16/4).
Serangan AS dan Israel terhadap Iran telah memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah. Perekonomian Asia juga sangat bergantung pada ekspor gas alam cair (LNG) yang melewati selat tersebut. Serangan Iran terhadap infrastruktur energi Qatar telah menghentikan sekitar 20% pasokan LNG dunia.
“Alaska akan memainkan peran besar dalam menyediakan energi yang aman bagi Asia,” ujarnya kata Burgum.
Berikut daftar negara-negara yang meminta pasokan migas AS usai perang Timur Tengah:Jepang
Pada Maret lalu Jepang sedang mempertimbangkan untuk meminta AS memasok minyak mentah (crude) dari Alaska, di tengah meningkatnya kekhawatiran atas stabilitas pasokan minyak akibat eskalasi ketegangan terkait Iran.
Dikutip dari NHK, sumber-sumber menyebutkan pemerintah Jepang mempertimbangkan kerja sama dengan AS untuk meningkatkan produksi minyak di Alaska, serta meminta agar tambahan produksi tersebut diekspor ke Jepang.
Sumber tersebut juga mengatakan Jepang dan AS tengah mempertimbangkan investasi infrastruktur untuk mengimpor minyak mentah dari Alaska, sebagai bagian dari kesepakatan investasi senilai US$ 550 miliar yang dicapai kedua negara tahun lalu.
Alaska saat ini memproduksi lebih dari 400.000 barel minyak mentah per hari, yang sebagian besar digunakan untuk konsumsi domestik. Produksi tersebut dinilai masih dapat ditingkatkan.
Pengiriman minyak dari Alaska ke Jepang memerlukan waktu sekitar 12 hari, sekitar 10 hari lebih cepat dibandingkan pengiriman dari Timur Tengah. Rute ini juga menghindari risiko transportasi seperti di Selat Hormuz.
Korea Selatan
Korea Selatan juga meningkatkan impor minyak mentah dari AS untuk mengamankan pasokan alternatif di tengah perang Timur Tengah. Secara historis, Korea Selatan memang sangat bergantung pada minyak Timur Tengah, dengan porsi impornya mencapai 69,6% pada 2025. Sementara itu porsi impor dari AS mencapai 16,3% di 2025.
Peningkatan impor minyak mentah AS oleh Korea juga sejalan dengan dorongan Washington untuk memperluas ekspor energi. Tak hanya AS, sebelumnya Korea Selatan juga menjajati rute impor crude lain untuk menghindari Selat Hormuz, seperti Arab Saudi, Oman, dan Kazakhstan, serta nafta dari Aljazair dan Yunani.
Salah satu faktor yang mendukung impor dari AS adalah sistem pertukaran cadangan minyak strategis (SPR) pemerintah. Cadangan ini membantu mengimbangi waktu pengiriman minyak mentah AS yang lebih lama sekitar 50 hari, dibandingkan sekitar 14 hari untuk minyak Australia dan 20 hari untuk pasokan dari Timur Tengah.
Taiwan
Pemerintah Taiwan mengatakan impor gas alam dari AS akan meningkat mulai Juni. Hal ini dipastikan setelah kedua negara menandatangani kontrak pasokan baru sebagai upaya mengatasi gangguan akibat perang Timur Tengah.
Pemerintah menambahkan bahwa persediaan minyak domestik Taiwan serta persediaan gas alam cair (LNG) saat ini berada di atas tingkat minimum yang diwajibkan oleh hukum.
“Selain itu kontrak internasional baru telah ditandatangani, dan mulai Juni, impor gas alam dari Amerika Serikat akan meningkat,” ujar pemerintah, dikutip dari Reuters.
Adanya impor ini pemerintah akan merelokasi kargo gas yang mereka beli di kawasan Asia dan pasar spot. Pemerintah menyebut pasokan domestik masih mencukupi untuk Maret dan April.
Cina
Dampak perang Timur Tengah juga membuat Cina bergerak untuk melanjutkan rencana pembelian gas alam cair (LNG) skala besar dari AS. Hal ini dilakukan untuk mengatasi gangguan dan pengetatan pasokan di seluruh Asia.
Cina sebelumnya telah menyetop impor LNG asal AS pada awal 2025 ketika ketegangan kedua negara meningkat akibat tarif resiprokal.
Berdasarkan informasi Nikkei Asia, Cina berpeluang mengimpor 600 ribu barel minyak per hari asal AS yang dimuat April ini. Jumlah ini setara dengan 18 juta barel per bulan dengan nilai impor mencapai US$ 10 miliar.
Langkah impor ini disebut mencerminkan fleksibilitas yang Cina miliki, sebab hambatan pasokan tak hanya berasal dari Timur Tengah juga, namun terkendala juga dari impor Venezuela.